Search This Blog

Pages

 

Saturday, January 25, 2014

Tabligh Akbar Forum Nahdliyin Caci Maki Ulama, Salafi dan PKS

Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mencaci orang muslim adalah kefasikan (kejahatan, keluar dari kebenaran) dan membunuhnya adalah kekufuran. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

    Setelah diawali dengan istighasah, Ketua Umum FOSWAN, Zainal Akifin menyampaikan kata sambutan. Dalam sambutannya, ia menuduh bahwa Salafi Wahabi sudah mencaci Ahlussunnah sejak zaman Rasulullah SAW. (Ini ungkapan aneh yang mengherankan bagi orang yang mengerti).

Posted on 12:30 AM / 0 comments / Read More

Sibak Topeng Quraisy Shihab, Benarkah Ia Penganut Syiah?

Satu persatu tokoh syiah mulai dipaparkan ke publik dengan izin Allah, baik ustadz Mudzakir Gumuk, Haddad Alwi dan kini kita ungkap topeng Quraisy Shihab, benarkah ia penganut Syiah?

“Kendati Sayyidina Ali merasa bahwa beliau wajar untuk menjadi Khalifah setelah Rasulullah, tetapi beliau tidak ingin menuntut itu sebelum ummat menyerahkannya kepada beliau…..”

Posted on 12:17 AM / 0 comments / Read More

Quraish Shihab Bukan Mufasir Al Quran!

Pati, Ahad (15/12/2013) di masjid Al-Islam di kota Pati Jawa Tengah, saat kajian rutin kitab hadits Jamius Shohih Bukhari bersama beliau Ust Mustaqim,LC yang lebih terkenal dalam dunia media Sang Singa Tauhid dari Pantura  atau Mantan Santri Tambak Beras Jombang ini kembali membuat tercengang para jama’ahnya.

Setelah menerangkan beberapa Hadits yang dibaca saat kajian sore itu, tibalah saat tanya jawab, maka sontak ada jama’ah yang menanyakan persoalan pada beliau.
Posted on 12:15 AM / 0 comments / Read More

Wednesday, November 21, 2012

Jalaludin Rakhmat Sering Melecehkan Para Sahabat Nabi Muhammad saw

Jalaludin Rakhmat sendiri terbukti banyak sekali melecehkan para Sahabat Nabi. Berikut ini adalah sebagian daftar pelecehan Jalaludin Rakhmat terhadap para sahabat utama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang menjelek-jelekkan, melaknat dan bahkan mengkafirkan mereka.
Posted on 4:11 PM / 0 comments / Read More

Cara Canggih Jokowi Mengatasi Banjir Jakarta: Kerja Bakti

Salah satu karaketeristik Jokowi yang disukai oleh pendukungnya adalah hobi "blusukan" ke kampung-kampung untuk mengambil hati rakyat bawah. Tapi "blusukan" itu hanya sekedar kesia-siaan, jika tidak dibarengi oleh program-program konkret. Terlebih lagi kalau hanya menyuruh dinas-dinas Jakarta untuk menyelesaikan urusan itu. Semua orangpun bisa, tidak perlu orang "sekaliber" Jokowi.

Dimasa kampanye, Jokowi sesumbar akan menyelesaikan masalah banjir di Jakarta. Karena memang masalah banjir yang tidak terselesaikan yang membuat Foke bertekuk-lutut. Namun apa yang terjadi sekarang, Jokowi malah berkilah dengan mengatakan:

"Yang namanya banjir itu perlu proses. Jadi jangan mengharapkan seperti dewa langsung selesai. Saya bukan dewa. Dewa saja belum tentu bisa," kata Jokowi di Balai Kota, Jakarta, Senin (19/11).
Ia menjelaskan, secara jangka pendek, solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi banjir adalah menggalakkan kerja bakti di titik rawan. Menurut Jokowi, kerja bakti perlu digerakkan untuk membersihkan dan mengeruk selokan dan sungai-sungai kecil di perkampungan.
Sedangkan untuk jangka menengah dan panjang, Jokowi mengaku masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Di antaranya, penyelesaian proyek Banjir Kanal Timur, Cengkareng Drain, dan Kali Pesanggrahan. "Kita juga ingin membelokkan air yang datang dari atas (Bogor) ke kali Waduk Ciawi. Itu proses jangka panjang. Butuh berpuluh-puluh tahun," imbuhnya [1].

Yah ... warga Jakarta bersiap-siaplah untuk menghadapi banjir puluhan tahun lagi. Kalau tidak mau, ayo kerja bakti mencangkul saluran-saluran air di kampung.

Yang lebih parahnya, dikala banjir melanda Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo malah sibuk mengurusi kegiatan politiknya di luar kota. Menurut pengamat tata kota, Yayat Supriyatna, mantan wali kota Solo itu harus lebih fokus mengurusi masalah Jakarta yang sangat kompleks.

"Memang wajar, dulu pak Jokowi dibantu PDIP, tapi ada baiknya kita fokus kepada masalah yang saat ini sedang dihadapi dan harus segera diatasi," ujar Yayat saat dihubungi merdeka.com, Minggu (18/11). 
Yayat mengatakan, keputusan Jokowi untuk meninggalkan Jakarta pada saat ini merupakan tindakan yang tidak tepat. "Kepergian Jokowi ke Bandung memang politis, tapi setidaknya harus tetap profesional, kalau nggak mampu mengatasi (banjir), bakal dikecam terus," tegas dia. [2]

Itulah gubernur Jakarta yang dimasak oleh media massa. Selamat menikmati ya :)
[1] Jakarta Belum Berubah, Jokowi Jangan Cuma Nonton Banjir!
[2] Jakarta banjir, Jokowi malah urusi Rieke-Teten di Bandung
Posted on 1:21 PM / 2 comments / Read More

Setara Institute Dibiayai Oleh Zionis

Pusat Hak Asasi Manusia Islam Indonesia (PUSHAMI) menyatakan bahwa Setara Institute telah membabi buta membela agama sesat Ahmadiyah dan GKI Yasmin. PUSHAMI juga mengaku mengantongi data jika NGO pimpinan Hendardi yang kerap membela aliran sesat itu didanai oleh Asia Foundation yang merupakan kepanjangan tangan Zionis Israel.

Posted on 12:55 PM / 0 comments / Read More

Thursday, October 4, 2012

Jokowi-Ahok Akan Menggilas Ekonomi Rakyat Kecil

Jakarta, (voa-islam.com) Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dan Partai Amanah Nasional (PAN), tak begitu antusias dengan kemenangan Jokowi-Ahok. Amin merasa skeptis, sekalipun Jokowi-Ahok, dielu-elukan oleh media-media sekuler dan kristen, setinggi langit.

Bahkan, Harian Kompas di dalam berbagai tulisannya, di halaman depan, sesudah kemenangan Jokowi-Ahok, mengagungkan Jokowi-Ahok, yang diprediksikan akan membawa perubahan besar dalam kepemimpinan nasional. Sungguh sangat luar biasa, menempatkan posisi Walikota Solo itu, seakan manusia yang membawa berkah bagi masa depan Indonesia.

Posted on 1:53 PM / 0 comments / Read More

Tuesday, September 18, 2012

Panduan Memilih: Foke atau Jokowi?


Bagi seorang muslim yang baik dan sadar, yang menjadi pedoman adalah Al Quran dan As Sunnah, bukan yang lainnya. Dalam keduanya, tentang siapa yang harus kita pilih sebagai pemimpin juga sudah jelas, dan kita dilarang memilih:
  1. orang kafir
  2. dan orang-orang yang memberikan loyalitasnya kepada orang kafir.
Posted on 9:47 AM / 0 comments / Read More

Monday, September 17, 2012

Orang Kafir Bisa Masuk Surga?


Saya punya pertanyaan yang sejak dulu selalu mengganjal. Dalam surat Al Baqarah ayat 62 Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, Yahudi, Nashrani, dan Sabiin barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir serta mengerjakan amal saleh maka bagi mereka pahala di sisi Tuhan mereka…(hingga akhir ayat).” Sedangkan di ayat lain Allah berfirman, “Sesungguhnya agama yang diridai Allah adalah Islam.” Terlihat dua ayat ini bertentangan. Apa ayat yang pertama telah di-nasakh? Kalau iya, apa asbabun nuzul-nya dari kedua ayat tersebut? Sedangkan apa maksud golongan Shabi’in di atas?

Posted on 12:41 PM / 0 comments / Read More

Wednesday, September 12, 2012

Ritual-Ritual Bid'ah Yang Dianggap Sunnah

Terjadi perpecahan antara sesama umat Islam di kota dimana kami tinggal dan belajar sekarang ini. Pada awalnya hanya ada satu organisasi Islam yang menaungi seluruh umat Islam di kota ini. Hal tersebut menjadi berantakan, karena sebagaian pengurus memboikot dengan membuat organisasi tandingan. Alisannya organisasi yang ada sekarang ini tidak menampung keinginan mereka untuk melestarikan budaya-budaya yang mereka bawa dari Indonesia.

Salah satunya adalah masalah Maulid. Kebetulan kepengurusan kali ini menentang mengadakan acara maulid. Sebagai gantinya mereka hanya membuat ceramah tamu plus pertunjukan anak-anak TPA. Akibatnya sebagian pengurus keluar dan mengatakan bahwa pengurus sekarang telah melakukan dosa karena tidak mau berselawat kepada Nabi SAW melalui acara maulid. Mereka menganggap penentangan terhadap maulid sama halnya dengan  menolak melakukan selawat kepada Nabi SAW. Mereka menyuruh pengurus yang masih setia untuk bertobat.

Tidak perlu diherankan sebenanrya karena pengurus yang memboikot itu merupakan aktifis-aktifis sebuah organisasi yang sudah biasa dengan ritual-ritual bid'ahnya.

Agar anda diakui sebagai warga organisasi tersebut, maka anda harus melakukan ritual-ritual di bawah:
  1. Tawassul kepada penghuni kubur.
  2. Tabarruk dengan kubur sang wali atau kyai.
  3. Tahlilan
  4. Ngalap berkah kubur
  5. Marhaban atau baca Barzanji
  6. Diba'an
  7. Maulidan
  8. Haul
  9. Selamatan yang berbau syirik
Seperti yang disebutkan dalam daftar di atas, maulid adalah salah satu ritual mereka. Jadi jangan heran kalau mereka naik darah karena pengurus sekarang tidak mau melaksanakan maulid.

Kelompok sempalan ini dikomandoin oleh mahasiswa-mahasiswa S3 yang lulusan pesantren organisasi tersebut. Mereka sangat menganggap remeh orang-orang yang mencoba mengkritik yang tidak mampu berbahasa Arab. Mereka menuduh orang-orang yang mengkritik itu belajar dari syetan karena hanya membaca dari buku-buku saja. Begitu taksub butanya mereka, tidak mau mendengar pendapat-pendapat dari buku-buku yang ditulis oleh ulama-ulama yang bersebrangan dengan mereka.

Mereka yang melakukan ritual-ritual bid'ah yang terkadang menjurus ke syirik itu sebenarnya tidak memahami secara benar aqidah Islam. Ini diakibatkan ketika belajar aqidah, mereka mencampurkan dengan pemahaman-pemahaman filsafat yang nyeleneh. Akibatnya aqidah yang dihasilkan juga menjadi 'nyeleneh'.

Sama halnya dengan orang yang ketagihan merokok karena ikut-ikutan sedari kecil, orang-orang yang melakukan bid'ah ini juga ikut-ikutan orang lain sejak kecil. Mereka memperhatikan kyai-kyia itu mengerjakan, maka mereka ikut mengerjakan juga. Mereka melihat kyia-kyai sering ngalap berkah dan mengirim pahala bacaan kepada penghuni kubur. Lalu mereka mengikutinya karena berpikir, kyai-kyai itu kan paham ilmu agama, tidak mungkin mereka akan menyesatkan pengikutnya. Sayangnya asumsi mereka itu kebanyakan salah.

Jadi nasehat saya, bagian yang sedang mencari-cari Islam yang sebenarnya, hindari mengikuti ritual-ritual yang dilakukan oleh organisasi tersebut. Kita beragama bukan mengikuti kyai-kyai, tapi mengikuti dalil-dali yang bersandar dari al-Qur'an dan as-Sunnah.
Posted on 10:50 AM / 1 comments / Read More

Monday, September 10, 2012

Syiah Lahir dari Balas Dendam Majusi Persia

Ustadz Abu Rusydan dalam kajian solidaritas dan penggalangan dana untuk kaum muslimin di Suriah dengan tajuk “Save Syria – Let’s Pray For Them” di masjid Baitul Makmur, Solo Baru Sukoharjo Jawa Tengah, pada Ahad pagi (15/7/2012) menjelaskan bahwa Syi’ah adalah sekte diluar Islam. Karenanya sangat aneh jika ada sebagian kaum muslimin yang berkata Syi’ah adalah sebuah mazhab dari salah satu mazhab dalam Islam.

Menurutnya dalam sejarah awal kemunculan Syi’ah saja sudah bisa diketahui bahwa lahirnya Syi’ah adalah dari Majusi yang bermotif balas dendam. Jadi mana mungkin ada Majusi yang termasuk dalam salah satu golongan Islam.

“Tapi akar munculnya Syi’ah itu adalah dari Majusi. Bahwa hari ini Majusi sudah memegang peranan yang sangat luar biasa dengan menancapkan kuku-kukunya dan taring-taringnya didunia islam. Dan berangkatnya Syi’ah itu berasal dari balas dendamnya Majusi Persi terhadap Islam, kemudian mereka berkolaborasi dengan Yahudi dan Nashrani."

Sebetulnya antara Iran (Syi’ah), Amerika (Nasharani) dan Israel (Yahudi) adalah satu tubuh atau bersekongkol, hal ini terlihat saat pemerintahan Taliban di Afghanistan jatuh.

“Salah satu konspirasi Iran, Amerika dan Aliansi Utara nampak saat Taliban di Afghanistan jatuh, jangan sampai Ahlus Sunnah yang berkuasa untuk memilih pemimpin, apakah Amanulloh Khan atau yang lainnya. Akhirnya mereka memilih Hamid Karzai. Dan Hamid Karzai adalah pengikut Baha’i salah satu sekte dari Syi’ah, dan setelah saya ketahui ternyata Mahmud Abbas Syi’ah Al-Babiyah. Jadi sekali lagi, Syi’ah sampai hari ini dengan segala sektenya apapun namanya adalah kebathilan yang kemudian diretas oleh penjajah barat,” paparnya.


http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2012/07/18/19921/ustadz-abu-rusydan-syiah-muncul-dilandasi-motif-balas-dendam-majusi/

Posted on 12:23 PM / 0 comments / Read More

Friday, September 7, 2012

Mungkinkah Kaum Sunni dan Syiah Di Satukan?


Akidah Syiah dibangun di atas azas mencaci-maki istri Nabi dan para Sahabat. Walaupun kita berteriak-teriak selama ribuan tahun meminta Syiah untuk menhentikan caci-makinya itu, niscaya ia tidak terlaksana. Karena inti eksistensi Syiah ada di sana.

Amat sukar bagi ajaran Syiah hari untuk tidak mengkafirkan ataumemurtadkan para Sahabat. Jika mereka mampu melakukannya dan kembali kepada Syiah yang asli, maka al Kafi karia al Kulani tidak lagi menjadi kitab muktabar. Hanya menajdi kitab-kitab yang dipenuhi dengan hadith-hadith palsu dan dhaif. Lebih parah lagi, jika mereka kembali kepada Syi'ah yang asal, ini berarti konsep Imam 12 menjadi batal. 


Sebaliknya bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah, mencintai Ahlul Bait Nabi, mencintai istri-istri beliau, mencintai para Sahabat beliau; merupakan AZAS AKIDAH Ahlus Sunnah, setelah AZAS TAUHID dan AZAS SUNNAH. Menafikan azas ini bisa berakibat kekafiran bagi pelakunya. Sebab Allah Ta'ala telah menjadikan istri-istri Nabi dan para Sahabat Nabi ridha kepada-Nya, dan Allah pun ridha kepada mereka.

Lihatlah Surat An Nuur dari ayat 1 sampai ayat 26. Isinya adalah pembelaan dari langit, dari Arasy tertinggi, terhadap kesucian `Aisyah binti Abi Bakrin Radhiyallahu `Anhuma dari tuduhan keji yang dialamatkan kepadanya.

Tidak ada di antara ummat Nabi SAW yang mendapat pembelaan sangat banyak dalam Al-Qur'an, selain Ummul Mukminin Radhiyallahu ‘Anha tersebut .

Setelah itu semua, masih tegakah anda bersangka baik kepada Syiah yang menjadikan `Aisyah Radhiyallahu `Anhuma sebagai sasaran caci-maki, laknat, dan kebencian.

Apa yang lebih cocok kita sematkan kepada orang yang mencaci maki tersebut, kecuali kekafiran yang nyata karena telah bersebrangan dengan kehendak Allah. Allah redha dengan `Aisyah, tapi kaum Syiah tidak redha terhadap `Aisyah. Mereka telah menempatkan diri pada posisi yang lebih tinggi dari Allah.
Posted on 3:47 PM / 0 comments / Read More

Tuesday, September 4, 2012

Siapa Quraish Shihab Sebenarnya?

Yang menjadi permasalahan utama bagi umat Islam di Indonesia adalah ketidakmampuan mereka untuk mengenali ulama-ulama yang benar manhajnya. Ketidakmampuan ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan agama yang mereka miliki. Akibatnya mereka tidak memiliki penyaring untuk membedakan ajaran-ajaran sesat.

Posted on 3:02 PM / 15 comments / Read More

Saturday, August 11, 2012

UU yang Larang Kampanye di Masjid Dibuat Oleh Orang Sekuler

JAKARTA (VoA-Islam) - Dewasa ini Islam memiliki banyak pandangan atau pendapat mengenai Kepemimpinan. Wacana kepemimpinan yang berkembang ini, di awali setelah Rasulullah Saw wafat. Masyarakat Islam pun terbagi-bagi ke dalam banyak kelompok atau golongan. Kelompok-kelompok Islam ini terkadang satu sama lain saling menyalahkan atau bahkan mengkafirkan.
Posted on 7:42 AM / 0 comments / Read More

Umat Islam : Bagaimana Menghadapi Skenario Paling Buruk?

Bangsa Indonesia akan menghadapi skenario paling buruk bagi masa depannya? Skenario paling buruk itu, ketika bangsa Indonesia harus menerima kenyataan pahit, di mana bangsa ini tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali menerima kenyataan. Bangsa Indonesia hanya akan menjadi konsumen, dan kuli di negeri sendiri.
Posted on 7:39 AM / 0 comments / Read More

Thursday, August 9, 2012

Pluralisme dan Pluralitas

Pluralisme

Kebanyakan orang awam beranggapan secara simplisitis bahwa "pluralisme adalah toleransi" atau "pluralisme agama adalah toleransi agama". Yang menyedihkan, anggapan atau asumsi simplistik ini tidak hanya terbatas pada kalangan "awam" (yang memang tak terdidik secara akademis dalam bidang ini), tapi hatta kalangan para tokoh atau yang ditokohkan yang memang spesialisasi akademiknya di bidang ini pun tampak begitu over-confident dengan pemahamannya yang simplistik. 

Posted on 3:28 PM / 0 comments / Read More

Orang yang Bingung Berarti Kehilangan Islamnya

Hidayatullah.com, Damaskus--Kalau ada orang yang bingung antara mau menjadi "Liberal" atau menjadi "Teroris" berarti dia sudah kehilangan Islam dari dirinya. Orang seperti ini adalah korban perang pemikiran yang dilancarkan Dunia Barat sekular kepada Islam. Perang ini berusaha memaksa umat Islam untuk memilih antara harus menjadi Muslim "fundamentalis" atau menjadi Muslim "moderat" atau "liberal". "Fundamentalis" dianggap cenderung menjadi teroris, sedangkan "liberal" dianggap bisa hidup seenak syahwat layaknya bangsa Barat.
Posted on 3:27 PM / 0 comments / Read More

Liberalisasi Islam di Indonesia


Ide sekularisasi Islam di Indonesia pertama kali digulirkan oleh Nurcholish Madjid pada 3 Januari 1970. Idenya itu diadopsi dari pemikiran Harvey Cox dengan bukunya yang terkenal berjudul The Secular City. Nurcholish mungkin tidak menyadari bahwa apa yang ia lakukan adalah bagaikan membuka sebuah kotak pandora. Saat kotak itu terbuka, maka terjadilah peristiwa-peristiwa tragis yang susul-menyusul dan berlangsung secara liar, sulit dikendalikan lagi, hingga kini.

Posted on 3:26 PM / 0 comments / Read More

Monday, August 6, 2012

Pemerintah China Larang Muslim Uighur Berpuasa


Hidayatullah.com--Di sela semangat Ramadhan yang ikut mewarnai umat Islam di China. Pemerintah Negeri Komunis itu justru mengeluarkan larangan berpuasa bagi umat Islam di Daerah otonomi Xinjiang Uighur. Kebijakan yang datang di pertengahan bulan Ramadhan ini jelas sangat menodai hak asasi umat Islam di tempat tersebut.

Juru bicara Kongres Dunia Untuk Uighur menyatakan bahwa sikap pemerintah China ini akan menimbulkan masalah baru. Pasalnya mereka mengkhawatirkan sikap ini akan melahirkan sentimen anti pemerintah dari kelompok Muslim Uighur.

“Kebijakan tersebut akan memaksa orang-orang Uighur untuk memberontak (para pemerintah China) lebih jauh," jelas salah satu juru bicara kongres  seperti dikutip Reuters.com.

Pemerintah China sendiri bersikukuh bahwa kebijakan ini merupakan upaya menekan lahirnya ekstremisme agama. Alasan kesehatan juga menjadi salah satu senjata pemerintah China mempertahankan argumentasinya.

Dikutip dari AlArabiya.net, saat ini sekitar sembilan juta orang Uighur yang berbahasa Turki, bersama minoritas etnis Muslim wilayah Xinjiang lainnya telah mengajukan protes.

Mereka menyalahkan para pemimpin China atas kebijakan ini. Bagi mereka ini adalah sebuah kedzaliman terhadap hak beragama.

Setiap hari seorang Muslim di Xinjiang yang diketahui berpuasa akan dipaksa untuk minum dan berbuka puasa. Pada bulan Juli 2009, Pernah terjadi bentrokan antara Pemerintah China dan Umat Islam setempat dan menewaskan kurang lebih 200 warga Muslim.*
Posted on 5:52 AM / 0 comments / Read More

Wednesday, July 11, 2012

Gerakan Theosofi dan Kaum Adat di Minangkabau


Datuk Sutan Maharadja, tokoh adat, penganut tarekat, penganut Theosofi Yahudi, penentang kelompok Islam

Theosofi adalah perkumpulan sinkretisme yang kemudian banyak melahirkan istilah-istilah baru, seperti agama kemanusiaan, agama budi, agama kemerdekaan, agama universal dan lain-lain.

Theosofi adalah organisasi kebatinan yang didirikan oleh para Yahudi dan aktivis Freemasonry, yaitu: Helena Petrovna Blvatsky, Henry Steel Olcott, William Quan Judge, Dr Annie Besant, dan Charles Webster Leadbeater. Mereka adalah orang-orang yang bergiat dalam diskusi-diskusi mengenai okultisme, ancient wisdom (kearifan kuno), dan doktrin-doktrin kabbalah. Mereka kemudian mendirikan the Theosophical Society (Masyarakat Theosofi) pada tahun 1875 di New York, Amerika Serikat.

Apa itu organisasi Theosofi? Dalam situs www.theosofi-indonesia.com, dijelaskan, “Theosofi adalah sebuah badan kebenaran yang merupakan dasar dari semua agama, yang tidak dapat dimiliki dan dimonopoli oleh agama atau kepercayaan manapun. Theosofi menawarkan sebuah filsafat yang membuat kehidupan menjadi dapat dimengerti, dan Theosofi menunjukkan bahwa keadilan dan cinta-kasihlah yang membimbing evolusi kehidupan.”

Dari penjelasan di atas, maka bisa disimpulkan bahwa, Theosofi menganggap bahwa kebenaran adalah dasar semua agama yang tidak bisa dimonopoli oleh agama atau kepercayaan apapun. Dengan kata lain, tidak boleh ada satu agama manapun yang merasa keyakinannya paling benar. Semua agama, selama membawa kebenaran dan kebaikan, menurut Theosofi pada hakikatnya sama. Kebenaran yang dimaksud oleh Theosofi adalah kesatuan hidup menuju pada Yang Satu, sedangkan kebaikan adalah wujud dari pengabdian kepada kemanusiaan. Theosofi berkeyakinan, “There is no religion higher than truth” (Tidak ada agama yang lebih tinggi daripada kebenaran). (http://www.suara-islam.com/news/kajian-dan-dakwah/freemasonry/2335-doktrin-pluralisme-agama-jil-dan-theosofi-bag2)

Penganut Theosofi di Minangkabau menolak penegakkan syariat yang dianggap ancaman terhadap adat istiadat Minangkabau. Padahal syariat yang ingin ditegakkan ketika itu hanyalah ingin menghapus adat istiadat yang bertentangan dengan akidah Islam.

Gerakan Theosofi tak hanya ada di Tanah Jawa. Di Minangkabau, Sumatera Barat, organisasi kebatinan Yahudi ini juga memiliki banyak pengikut. Terutama mereka yang dididik di sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial, elit setempat yang memiliki kedekatan dengan Belanda, dan para penganut tarekat. Para penganut tarekat menganggap Theosofi sama dengan tasawuf, sebagaimana anggapan ini juga pernah hinggap pada Haji Agoes Salim yang sempat menjadi anggota Theosofi dan kemudian keluar dari keanggotaan setelah mengetahui tujuan sesungguhnya dari Theosofi yang tidak sejalan dengan Islam. Haji Agoes Salim bahkan pernah menerjemahkan buku berjudul “Kitab Theosofi” yang ditulis oleh tokoh Theosofi dunia, Charles Webster Leadbeater.

Sebagaimana di Tanah Jawa, penganut Theosofi di Minangkabau juga memiliki kedekatan dengan pemerintah Belanda. Mereka juga terlibat dalam permusuhan dengan kelompok Islam, utamanya mereka yang menginginkan ajaran Islam bersih dari unsur-unsur tradisi dan adat istiadat yang bukan berasal dari Islam atau yang bertentangan dengan Islam. Di Sumatera Barat, tokoh kaum adat yang menginginkan tradisi tetap berada di atas (mengungguli?, red nm) hukum syariat, adalah mereka yang tercatat sebagai penganut organisasi Theosofi. Sedangkan mereka yang menginginkan tradisi Minangkabau bersih dari unsur-unsur bid’ah, khurafat, dan takhayul yang berasal dari tradisi di luar Islam, disebut sebagai kaum muda Islam. Namun, kaum adat menyebut mereka yang ingin mengadakan pemurnian ajaran Islam ini dengan sebutan “Kelompok Paderi” atau “penganut Wahabi”.

Dalam sejarah tercatat, mereka yang dituduh sebagai pewaris gerakan Paderi dan pembawa paham Wahabi, serta penentang kelompok adat adalah Syekh Abdul Karim Amrullah (ayah dari Buya Hamka), Haji Miskin, Haji Abdullah Ahmad, Syekh Djamil Djambek, dan Syekh Achmad Khatib. Mereka sendiri tidak pernah menyebut dirinya sebagai kelompok Wahabi dan tak pernah juga menyatakan dirinya sebagai pewaris gerakan Paderi. Semua label itu diberikan oleh kaum adat, yang pada masa lalu khawatir bahwa adat istiadat, tradisi dan budaya Minangkabau tergerus dengan syariat Islam. Namun begitu, kelompok yang dituduh sebagai penganut Wahabi berhasil menjadikan Minangkabau sebagai wilayah yang kental dengan nuansa syariat Islam, dengan semboyannya yang terkenal hingga kini: Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah!

Siapa tokoh penganut Theosofi di Sumatera Barat? Diantara tokoh kaum adat yang juga penganut Theosofi adalah Datuk Sutan Maharadja. Selain penganut Theosofi, Sutan Maharadja juga dikabarkan sebagai penganut Tarekat Martabat Tujuh. Datuk Sutan Maharadja yang bernama asli Mahyudin lahir pada 27 November 1862 di daerah Sulit Air, Solok, Sumatera Barat. Ia menamatkan pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS),sekolah elit yang kebanyakan muridnya anak-anak tuan-tuan Belanda. Sutan Maharadja bisa mengenyam pendidikan di sekolah tersebut karena kedekatan ayahnya dengan pemerintah kolonial. Seperti keterangan sejarawan Deliar Noer, Sutan Maharadja dikenal sengit dalam menentang kelompok Islam.

Ayah Sutan Maharadja bernama Datuk Bandaro. Sosok sang ayah dikenal sangat memusushi ulama dan menjunjung tinggi adat istiadat. Datuk Bandaro mengkhawatirkan sepak terjang para ulama yang berusaha memurnikan ajaran Islam dari tradisi dan adat istiadat di luar Islam, sebagai pewaris gerakan Paderi atau penganut Wahabi yang ingin menghapuskan adat dan tradisi Minangkabau. Padahal, apa yang dilakukan para ulama ketika itu, sekadar membersihkan Minangkabau dari adat dan tradisi yang bertentangan dengan Islam. Para ulama ketika itu dengan tegas menyatakan bahwa Islam yang merupakan jati diri rakyat Minangkabau harus bersih dari adat dan tradisi yang tidak sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Datuk Sutan Maharadja terinspirasi dengan Gerakan Turki Muda (Young Turk Movement) yang dipelopori oleh seorang Yahudi Dunamah anggota Freemason, Mustafa Kemal At-Taturk. Karena terinspirasi dengan revolusi yang terjadi di Turki, Sutan Maharadja kemudian mendirikan kelompok kaum adat dengan tujuan menjaga kelestarian adat istiadat Minangkabau dan menjauhkannya dari pengaruh Kesultanan Aceh, yang pada masa lalu sangat menjalin erat dengan Khilafah Utsmaniyah di Turki. Oleh para pendukungnya, Sutan Maharadja kemudian mendapat gelar “Datuk Bangkit” karena usahanya untuk membangkitkan kembali adat istiadat Aceh, yang menurutnya pada masa lalu sudah tercemar oleh pengaruh kesultanan Aceh.

Datuk Sutan Maharadja selalu menyatakan dirinya sebagai penganut Theosofi. Ia juga menegaskan pentingnya pendidikan Barat dan perlunya menjaga keteguhan adat istiadat Minangkabau dari pengaruh luar, khususnya Aceh yang berjuluk “Serambi Makkah.” Untuk melawan gerakan kaum muda yang ia sebut sebagai pewaris “Kelompok Paderi dan Wahabi” ia dan beberapa bangsawan Minangkabau kemudian mendirikan Sarikat Adat Alam Minangkabau (SAAM) pada 1916.

Untuk menyampaikan gagasan-gagasan dan mengkonter pemahaman yang ia sebut sebagai “Wahabi”, Sutan Maharadja kemudian mendirikan Surat Kabar Oetoesan Melayoe pada 1911. Dalam slogannya, surat kabar ini menulis, “Tegoehlah Setia Perserikatan Hati Antara Anak Bangsa Anak Negeri dengan Orang Wolanda (Belanda, red)”. Dengan slogan ini, jelaslah bahwa Oetoesan Melayoe sangat pro terhadap pemerintah kolonial Belanda, dan dalam artikel-artikelnya juga sangat jelas mendukung pemerintah Hindia Belanda.

Sutan Maharadja menyerang kelompok kaum muda lewat tulisan-tulisannya di surat kabar yang ia pimpin. Ia dengan tegas menolak upaya kaum muda dengan ajaran-ajaran syariatnya yang ingin menghapus adat dan tradisi Minangkabau. Pertentangan ini sampai membuat Haji Abdullah Ahmad, tokoh Islam yang disebut Wahabi oleh Sutan Maharadja, menyebut kelompok kaum adat, terutama Sutan Maharadja sendiri, “Tak tentu agamanya dan tak tentu adatnya.”

Selain Sutan Maharadja, tokoh kelompok Sarikat Alam Adat Minangkabau (SAAM) yang menjadi anggota Theosofi adalah Abdul Karim. Selain menolak penegakkan syariat Islam, pada masa lalu SAAM juga menolak pelajaran Islam masuk dalam sekolah-sekolah di Minangkabau. Mereka khawatir, pelajaran agama Islam yang masuk ke sekolah-sekolah adalah pelajaran yang mengadopsi pemahaman Wahabi yang bisa menjadi ancaman bagi adat istiadat masyarakat Minangkabau.

Untuk menolak pelajaran agama Islam di sekolah-sekolah, kaum adat kemudian membuat artikel di Surat Kabar Oetoesan Melayoe pada 28 Oktober 1918. Mereka menulis,”Relakah orang-orang Theosofi seperti Engku A Karim dan lain-lain bila anak kemenakan beliau itu akan dapat pelajaran agama Islam di sekolah, yaitu kalau yang diajarkan agama Islam itu hanya fekah (fikih) atau hukum syara’ saja? Kecuali kalau yang akan diajarkan di sekolah itu ialah pelajaran yang perbaikan hati, pensucian hati, supaya berhati suci dan berhati mulia. Sedang sekolah-sekolah agama Islam yang diadakan sekarang kalau cuma namanya saja yang sekolah agama Islam, padahal yang diajarkan melainkan hukum syara’ atau fikih saja. Pendeknya, yang diajarkan adalah Arabich Cultuur (Kultur Arab).”

Selain memuat penolakan terhadap pelajaran agama Islam di sekolah-sekolah, kaum adat yang dimotori oleh Sutan Maharadja juga membuat fitnah dengan mengatakan bahwa sekolah Adabiah yang dikelola oleh Haji Abdullah Ahmad memungut biaya yang sangat mahal kepada anak-anak didiknya. Kemudian, dengan bahasa yang sangat menjilat kaum adat meminta kepada pemerintah Belanda untuk membangun sekolah HIS (Holland Inlands School) lainnya di Minangkabau.

Pada masa lalu, di Minangkabau kelompok yang disebut pewaris Kelompok Paderi dan penganut paham Wahabi memang menolak keberadaan Theosofi dan kelompok-kelompok tarekat lainnya yang dianggap berseberangan dengan akidah Islam. Untuk membantah kelompok kaum muda yang disebut Wahabi, Sutan Maharadja kemudian membuat sebuah tulisan di Oetoesan Melayoe pada 11 Juni 1917 dengan judul “Theosofie dan SAAM (Sarikat Alam Adat Minangkabau”. Ia menulis, “…sepanjang kata murid Haji Abdullah Ahmad itu, Theosofi dikatakan sebagai agama baru. Dikatakan agama baru oleh murid Haji Abdullah Ahmad, karena pada gurunya tak ada ilmu tasauf dan tidaklah ia tahu bahwa ilmu tasauf itu bukanlah agama baru, melainkan sudah sejak dari zaman Nabi Adam. Theo itu artinya “Allah”. Sofie itu artinya ilmu. Jadi Theosofie itu ilmu Allah, ma’rifatullah…” demikian tulis Sutan Maharadja.

Benarkah Theosofi itu tasauf dan ilmu mengenal Allah? Dalam buku The Key to Theosophy, Blavatsky mengatakan, Theosofi adalah the wisdom religion (agama kebijaksanaan) yang berusaha mempersatukan agama-agama dalam sebuah “Kesatuan Hidup” yang selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan. Tujuan Theosofi, kata Blavatsky, sama dengan apa yang dilakukan oleh seorang Yahudi bernama Ammonius Saccas, yang berusaha mengajak para gentiles/goyim (non Yahudi), para pemeluk Kristen, pemuja dewa-dewa, untuk mengenyampingkan tuntutan mereka dengan mengingat bahwa mereka memiliki kebenaran yang sama. Agama menurutnya, adalah tunas-tunas dari batang pohon yang sama, yaitu the wisdom religion.

Theosofi mempunyai misi menyatukan agama-agama dalam sebuah puncak persaudaraan universal, yang pada ujungnya justru menihilkan sama sekali agama-agama yang ada. Karena, masing-masing orang tidak boleh merasa agamanya yang paling benar, dan masing-masing orang harus mengakui bahwa semua agama sama, menuju pada yang sama, dan mengabdi pada kemanusiaan. Theosofi adalah perkumpulan sinkretisme yang kemudian banyak melahirkan istilah-istilah baru, seperti agama kemanusiaan, agama budi, agama kemerdekaan, agama universal dan lain-lain. Dan, atas nama “menjaga kearifan lokal masa lalu” kelompok Theosofi pada masa lalu juga berusaha menjadikan nilai-nilai tradisi berada di atas agama. Jadi, agama tak boleh mengalahkan tradisi. Inilah yang juga menjadi sikap Datuk Sutan Maharadja, yang berusaha mati-matian untuk menjaga agar adat istiadat dan tradisi tak terhapus oleh ajaran-ajaran yang dibawa oleh syara’.

Jika Sutan Maharadja memang anggota Theosofi sejati, tentu ia sangat tahu siapa saja pendiri Theosofi, apa latarbelakangnya, dan bagaimana ajaran-ajarannya. Jika ia sudah tahu tapi masih menjadi penganut Theosofi, maka bisa dipastikan ia tak lain adalah kepanjangan tangan pemerintah kolonial, yang pada masa lalu banyak dari elit-elitnya adalah anggota Theosofi dan Freemason. Sebagai aliran kebatinan Yahudi yang memiliki banyak pemahaman sesat seperti pluralisme agama, kesatuan wujud hamba dengan Tuhan (manunggaling kawula gusti), kesatuan Tuhan bagi semua agama-agama yang ada, tentu Theosofi sangat berbahaya bagi masyarakat Minangkabau yang begitu berurat berakar dengan jatidiri keIslamannya.

 Artawijaya
Penulis buku “Gerakan Theosofi di Indonesia” dan “Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara” Pustaka Al-Kautsar, Jakarta

http://suara-islam.com, Wednesday, 03 August 2011 15:11 | Written by Shodiq Ramadhan |


Posted on 10:29 AM / 0 comments / Read More

Popular Posts

Total Pageviews

Facebook

Blog Archive

Shout Box


ShoutMix chat widget

Followers

Copyright © 2011. SMART ZIKIR . Published by Ardisyam