Search This Blog

Pages

 
Showing posts with label syi'ah. Show all posts
Showing posts with label syi'ah. Show all posts

Wednesday, November 21, 2012

Jalaludin Rakhmat Sering Melecehkan Para Sahabat Nabi Muhammad saw

Jalaludin Rakhmat sendiri terbukti banyak sekali melecehkan para Sahabat Nabi. Berikut ini adalah sebagian daftar pelecehan Jalaludin Rakhmat terhadap para sahabat utama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam yang menjelek-jelekkan, melaknat dan bahkan mengkafirkan mereka.
Posted on 4:11 PM / 0 comments / Read More

Monday, September 10, 2012

Syiah Lahir dari Balas Dendam Majusi Persia

Ustadz Abu Rusydan dalam kajian solidaritas dan penggalangan dana untuk kaum muslimin di Suriah dengan tajuk “Save Syria – Let’s Pray For Them” di masjid Baitul Makmur, Solo Baru Sukoharjo Jawa Tengah, pada Ahad pagi (15/7/2012) menjelaskan bahwa Syi’ah adalah sekte diluar Islam. Karenanya sangat aneh jika ada sebagian kaum muslimin yang berkata Syi’ah adalah sebuah mazhab dari salah satu mazhab dalam Islam.

Menurutnya dalam sejarah awal kemunculan Syi’ah saja sudah bisa diketahui bahwa lahirnya Syi’ah adalah dari Majusi yang bermotif balas dendam. Jadi mana mungkin ada Majusi yang termasuk dalam salah satu golongan Islam.

“Tapi akar munculnya Syi’ah itu adalah dari Majusi. Bahwa hari ini Majusi sudah memegang peranan yang sangat luar biasa dengan menancapkan kuku-kukunya dan taring-taringnya didunia islam. Dan berangkatnya Syi’ah itu berasal dari balas dendamnya Majusi Persi terhadap Islam, kemudian mereka berkolaborasi dengan Yahudi dan Nashrani."

Sebetulnya antara Iran (Syi’ah), Amerika (Nasharani) dan Israel (Yahudi) adalah satu tubuh atau bersekongkol, hal ini terlihat saat pemerintahan Taliban di Afghanistan jatuh.

“Salah satu konspirasi Iran, Amerika dan Aliansi Utara nampak saat Taliban di Afghanistan jatuh, jangan sampai Ahlus Sunnah yang berkuasa untuk memilih pemimpin, apakah Amanulloh Khan atau yang lainnya. Akhirnya mereka memilih Hamid Karzai. Dan Hamid Karzai adalah pengikut Baha’i salah satu sekte dari Syi’ah, dan setelah saya ketahui ternyata Mahmud Abbas Syi’ah Al-Babiyah. Jadi sekali lagi, Syi’ah sampai hari ini dengan segala sektenya apapun namanya adalah kebathilan yang kemudian diretas oleh penjajah barat,” paparnya.


http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2012/07/18/19921/ustadz-abu-rusydan-syiah-muncul-dilandasi-motif-balas-dendam-majusi/

Posted on 12:23 PM / 0 comments / Read More

Friday, September 7, 2012

Mungkinkah Kaum Sunni dan Syiah Di Satukan?


Akidah Syiah dibangun di atas azas mencaci-maki istri Nabi dan para Sahabat. Walaupun kita berteriak-teriak selama ribuan tahun meminta Syiah untuk menhentikan caci-makinya itu, niscaya ia tidak terlaksana. Karena inti eksistensi Syiah ada di sana.

Amat sukar bagi ajaran Syiah hari untuk tidak mengkafirkan ataumemurtadkan para Sahabat. Jika mereka mampu melakukannya dan kembali kepada Syiah yang asli, maka al Kafi karia al Kulani tidak lagi menjadi kitab muktabar. Hanya menajdi kitab-kitab yang dipenuhi dengan hadith-hadith palsu dan dhaif. Lebih parah lagi, jika mereka kembali kepada Syi'ah yang asal, ini berarti konsep Imam 12 menjadi batal. 


Sebaliknya bagi kaum Muslimin Ahlus Sunnah, mencintai Ahlul Bait Nabi, mencintai istri-istri beliau, mencintai para Sahabat beliau; merupakan AZAS AKIDAH Ahlus Sunnah, setelah AZAS TAUHID dan AZAS SUNNAH. Menafikan azas ini bisa berakibat kekafiran bagi pelakunya. Sebab Allah Ta'ala telah menjadikan istri-istri Nabi dan para Sahabat Nabi ridha kepada-Nya, dan Allah pun ridha kepada mereka.

Lihatlah Surat An Nuur dari ayat 1 sampai ayat 26. Isinya adalah pembelaan dari langit, dari Arasy tertinggi, terhadap kesucian `Aisyah binti Abi Bakrin Radhiyallahu `Anhuma dari tuduhan keji yang dialamatkan kepadanya.

Tidak ada di antara ummat Nabi SAW yang mendapat pembelaan sangat banyak dalam Al-Qur'an, selain Ummul Mukminin Radhiyallahu ‘Anha tersebut .

Setelah itu semua, masih tegakah anda bersangka baik kepada Syiah yang menjadikan `Aisyah Radhiyallahu `Anhuma sebagai sasaran caci-maki, laknat, dan kebencian.

Apa yang lebih cocok kita sematkan kepada orang yang mencaci maki tersebut, kecuali kekafiran yang nyata karena telah bersebrangan dengan kehendak Allah. Allah redha dengan `Aisyah, tapi kaum Syiah tidak redha terhadap `Aisyah. Mereka telah menempatkan diri pada posisi yang lebih tinggi dari Allah.
Posted on 3:47 PM / 0 comments / Read More

Sunday, July 8, 2012

Benarkah Syiah Serius akan Bebaskan al-Quds?

SEMENJAK tahun 2006, ketika Hizbullah Libanon mengalahkan mesin perang Israel dan mampu mengusir mereka keluar dalam perang 33 hari, berita ini akhirnya menjadi komoditas dan merek dagang baru jualan Syiah untuk banyak mengelabui umat Muslim yang mayoritas mutlak berakidah Ahlusunnah wal jamaah.
Posted on 9:55 AM / 0 comments / Read More

Tuesday, February 7, 2012

Kalau Syiah Sesat, Mengapa Boleh Masuk Tanah Suci?

Pertama, sebaik-baik jawaban ialah Wallahu a’lam. Hanya Allah yang Tahu sebenar-benar alasan di balik kebijakan Pemerintah Saudi memberikan tempat bagi kaum Syiah untuk ziarah ke Makkah dan Madinah.

Kedua, dalam sekte Syiah terdapat banyak golongan-golongan. Di antara mereka ada yang lebih dekat ke golongan Ahlus Sunnah (yaitu Syiah Zaidiyyah), ada yang moderat kesesatannya, dan ada yang ekstrim (seperti Imamiyyah dan Ismailiyyah). Terhadap kaum Syiah ekstrim ini, rata-rata para ulama tidak mengakui keislaman mereka. Nah, dalam praktiknya, tidak mudah membedakan kelompok-kelompok tadi.

Ketiga, usia sekte Syiah sudah sangat tua. Hampir setua usia sejarah Islam itu sendiri. Tentu cara menghadapi sekte seperti ini berbeda dengan cara menghadapi Ahmadiyyah, aliran Lia Eden, dll. yang termasuk sekte-sekte baru. Bahkan Syiah sudah mempunyai sejarah sendiri, sebelum kekuasaan negeri Saudi dikuasai Dinasti Saud yang berpaham Salafiyyah. Jauh-jauh hari sebelum Dinasti Ibnu Saud berdiri, kaum Syiah sudah masuk Makkah-Madinah. Ibnu Hajar Al Haitsami penyusun kitab As Shawaiq Al Muhriqah, beliau menulis kitab itu dalam rangka memperingatkan bahaya sekte Syiah yang di masanya banyak muncul di Kota Makkah. Padahal kitab ini termasuk kitab turats klasik, sudah ada jauh sebelum era Dinasti Saud.

Keempat, kalau melihat identitas kaum Syiah yang datang ke Makkah atau Madinah, ya rata-rata tertulis “agama Islam”. Negara Iran saja mengklaim sebagai Jumhuriyyah Al Islamiyyah (Republik Islam). Revolusi mereka disebut Revolusi Islam (Al Tsaurah Al Islamiyyah). Data seperti ini tentu sangat menyulitkan untuk memastikan jenis sekte mereka. Lha wong, semuanya disebut “Islam” atau “Muslim”.

Kelima, kebanyakan kaum Syiah yang datang ke Makkah atau Madinah, mereka orang awam. Artinya, kesyiahan mereka umumnya hanya ikut-ikutan, karena tradisi, atau karena desakan lingkungan. Orang seperti ini berbeda dengan tokoh-tokoh Syiah ekstrem yang memang sudah dianggap murtad dari jalan Islam. Tanda kalau mereka orang awam yaitu kemauan mereka untuk datang ke Tanah Suci Makkah-Madinah itu sendiri. Kalau mereka Syiah ekstrim, tak akan mau datang ke Tanah Suci Ahlus Sunnah. Mereka sudah punya “tanah suci” sendiri yaitu: Karbala’, Najaf, dan Qum. Perlakuan terhadap kaum Syiah awam tentu harus berbeda dengan perlakuan kepada kalangan ekstrim mereka.

Keenam, orang-orang Syiah yang datang ke Tanah Suci Makkah-Madinah sangat diharapkan akan mengambil banyak-banyak pelajaran dari kehidupan kaum Muslimin di Makkah-Madinah. Bila mereka tertarik, terkesan, atau bahkan terpikat; mudah-mudahan mau bertaubat dari agamanya, dan kembali ke jalan lurus, agama Islam Ahlus Sunnah.

Ketujuh, hadirnya ribuan kaum Syiah di Tanah Suci Makkah-Madinah, hal tersebut adalah BUKTI BESAR betapa ajaran Islam (Ahlus Sunnah) sesuai dengan fitrah manusia. Meskipun para ulama dan kaum penyesat Syiah sudah bekerja keras sejak ribuan tahun lalu, untuk membuat-buat agama baru yang berbeda dengan ajaran Islam Ahlus Sunnah; tetap saja fitrah mereka tidak bisa dipungkiri, bahwa hati-hati mereka terikat dengan Tanah Suci kaum Muslimin (Makkah-Madinah), bukan Karbala, Najaf, dan Qum.

Kedelapan, kaum Syiah di negerinya sangat biasa memuja kubur, menyembah kubur, tawaf mengelilingi kuburan, meminta tolong kepada ahli kubur, berkorban untuk penghuni kubur, dll. Kalau mereka datang ke Makkah-Madinah, maka praktik “ibadah kubur” itu tidak ada disana. Harapannya, mereka bisa belajar untuk meninggalkan ibadah kubur, kalau nanti mereka sudah kembali ke negerinya. Insya Allah.

Kesembilan, pertanyaan di atas sebenarnya lebih layak diajukan ke kaum Syiah sendiri, bukan ke Ahlus Sunnah. Mestinya kaum Syiah jangan bertanya, “Mengapa orang Syiah masih boleh ke Makkah-Madinah?” Mestinya pertanyaan ini diubah dan diajukan ke diri mereka sendiri, “Kalau Anda benar-benar Syiah, mengapa masih datang ke Makkah dan Madinah? Bukankah Anda sudah mempunyai ‘kota suci’ sendiri?”


Sumber: Kalau Syiah Sesat, Mengapa Boleh Masuk Tanah Suci?
Posted on 12:40 PM / 0 comments / Read More

Wednesday, February 1, 2012

'Bius Mematikan' Haidar Bagir Untuk Sunni!

Kalau saya menamakannya sebagai 'bius mematikan' maka ini adalah sekedar menggambarkan, bagaimana liciknya orang Syi'ah dalam melakukan taqiyyah (baca: dusta) dengan tujuan, meredam makin runcingnya seteru antara penganut Islam dan Syi'ah.

Bilamana anda sempat membaca tulisan Haidar Bagir, yang berjudul "Syiah dan Kerukunan Umat" (sila diklik) yang dimuat di koran Republika, maka seolah-olah, pembaca menjadi salah bila terlanjur memberikan label, Syi'ah suka akan kegaduhan dan keonaran terkait hubungannya dengan Sunni.

Dalam tulisan itu pun, seolah memberikan pesan kepada yang membaca: "Inilah Syi'ah di Indonesia, kami cinta damai, kami tak mengecam sahabat..." dan seterusnya. Intinya, ingin meyakinkan bahwa Syi'ah tidaklah seperti yang digembar-gemborkan selama ini. Bahwa tuduhan kepada Syi'ah itu, hanyalah dusta semata.

Dan demikian memang geliat Syi'ah yang bak bius mematikan itu ditebar. Jikalau suatu saat, anda sempat membaca artikel/tulisan yang dibuat oleh dedengkot Syi'ah di Indonesia aka Jalaludin Rahmat, maka anda akan menjumpai nuansa tulisan yang sama. Sejuk, tapi membunuh!

Dari tulisan Haidar Bagir, ada 3 (tiga) poin -setelah ia menanamkan opini ke pembaca, bahwa Syi'ah punya misi damai di Indonesia-, yang dituduhkannya kepada kaum ahlussunnah wal jamaah.

Dan tuduhan ini, bukan tuduhan yang ringan. Bahkan, tuduhan-tuduhan yang berat.

Pertama, Haidar Bagir menyamakan kalau Syi'ah dihujat karena menganggap Al Qur'an yang ada sekarang tidaklah selengkap Al Qur'an versi Syi'ah, ia pun balik menuduh, bahwa berdasarkan riwayat-riwayat hadits ahlussunnah, dinyatakan bahwa ada ayat-ayat yang memang hilang (karena dimakan dajin, yakni kambing atau ayam).

Tuduhan yang kedua, bahwa jika Syi'ah diklaim suka menghina para Sahabat Nabi -ridwanullah alaihim ajmain- maka tak ada bedanya, Ali bin Abi Thalib pun dicerca dan dimaki di mimbar-mimbar Jum'at, pada jaman kekuasaan bani Umayah.

Dan yang terakhir, dalam tulisan pendiri penerbit Mizan (yang terkenal) itu, juga mengklarifikasi, bahwa Syi'ah tak lagi mencela para Sahabat Nabi, serta ulama Syi'ah yang mencela Aisyah yakni Yasir Habib, telah diperingatkan oleh rahbar di Iran, untuk tidak melakukannya lagi. Maksudnya tentu ingin mengatakan bahwa jikalau ada orang Sunni yang mengungkit-ungkit bahwa Syi'ah suka mencela Sahabat, ini salah alamat. Karena Syi'ah sudah 'tobat' dari melakukan yang demikian.

Nah, benarkah bius nan mematikan dari Haidar Bagir ini dengan  3 poin yang disebarnya itu?

Untuk menjawabnya, ijinkan saya menukil penjelasan yang ditulis oleh ustadz Fahmi Salim yang dimuat di situs era muslim dengan judul: Distorsi Itikad Baik Merukunkan Umat, Bantahan Artikel Haidar Bagir (sila diklik).

Untuk tuduhan pertama dari Haidar Bagir, maka berikut penjelasannya:

Klaim Haidar Bagir, bahwa Syiah bersepakat dengan Sunni bahwa Al Qur'an mereka, sama dengan Al Qur'an Sunni, ini justru menyalahi apa yang tertulis dalam kitab-kitab ulama Syi'ah itu sendiri yang menyatakan bahwa Qur'an Syi'ah, lebih lengkap daripada mushaf Utsmaninya Sunni.

Kemudian, tentang hadits yang dibawakan oleh Haidar Bagir, ini pun sudah dibantah oleh para ulama.

    Hadits itu munkar dan tidak sahih, meski diriwayatkan oleh Ibnu Majah, seperti diterangkan oleh para pakar hadis. Ada illat yang merusak sanadnya yaitu pada salah satu rawinya Muhammad ibn Ishaq, ia dinilai mudhtharib (kacau hadisnya) karena menyelisihi dan menyalahi riwayat para rawi lain yang lebih tsiqoh (terpercaya). Ibnu Majah sendiri ketika meriwayatkan hadis ini dari Muhammad ibn Ishaq menukil dua sanad yang berbeda dari dia. Sedangkan perawi lain yang lebih tsiqoh seperti Imam Malik dalam Al-Muwattha’ (vol.2/608) dari Abdullah ibn Abi Bakr dari ‘Amrah dari Aisyah, dan Imam Muslim (no.1452) dari Yahya ibn Sa’id dari ‘Amrah dari ‘Aisyah, keduanya dengan redaksi “Al-Qur’an telah turun dengan ayat susuan 10 kali agar jadi mahram lalu dinasakh kemudian turun lagi ayat susuan 5 kali susuan yang sudah pasti hukumnya dan ayat-ayat itu kami baca dahulu kala sebagai Qur’an”, dan tak ada kata-kata ‘pelecehan’ bahwa lembaran ayat itu dimakan Dajin (kambing atau ayam). Oleh sebab itulah Imam Az-Zaila’I menilai dalam takhrij hadis dan atsar bahwa, penambahan redaksi ayat rajam dan radha’ah yang ada di bawah kasur aisyah lalu dimakan kambing itu adalah rekayasa dan manipulasi perbuatan kaum mulhid (ateis) dan rafidhah (syiah).

Tentang tuduhan yang kedua, ini pun tak lepas dari lemahnya riwayat yang dipakai sebagai sandaran.

    Perlu diketahui bahwa asal muasal berita yang mengatakan bahwa kebijakan Bani Umayyah mencela Imam Ali ibn Abi Thalib di mimbar-mimbar jumat dan baru dihilangkan itu oleh ‘Umar ibn Abdul Aziz, bersumber dari Ibnu Sa’ad dalam kitab Thabaqat, yang ia riwayatkan dari Ali ibn Muhammad al-Madaini dari gurunya Luth ibn Yahya. Berita semacam ini tidak benar dan sudah diteliti oleh Dr. Ali Muhammad Shallabi dalam bukunya Al-Khalifah Al-Rasyid Umar bin Abdul Aziz. Sebab hampir semua pakar dan imam hadis ahlisunnah menilai Ali Al-Madaini dan Luth ibn Yahya sebagai perawi yang tidak bisa dipercaya dan terbiasa meriwayatkan dari orang-orang yang lemah hafalannya dan tak dikenal (majhul). Selain tinjauan ilmu riwayat hadis, Shallabi juga menganalisis bahwa tidak benar pula fakta puluhan tahun Imam ‘Ali dikutuk Bani Umayyah, sementara kitab-kitab sejarah yang ditulis semasa dengan daulah Umayyah tidak pernah menceritakan adanya fakta sejarah itu. Kisah itu baru ditulis oleh para ahli sejarah mutakhir dalam kitab-kitab yang disusun pada era Bani Abbasiyah. Dengan motif politis untuk menjelek-jelekkan citra Bani Umayyah di tengah umat. Shallabi juga yakin bahwa kisah itu baru disusun dalam kitab Muruj al-Dzahab karya Al-Mas’udi (Syi’i) dan penulis syiah lainnya hingga kisah fiktif itu ikut tersusupi ke dalam kitab tarikh ahlisunnah yang ditulis belakangan seperti Ibnul Atsir dalam Al-Kamil fi Tarikh yang disebut Sdr. Haidar, namun tidak ada sandaran satupun riwayat yang sahih. (Shallabi: 107)

Dan yang terakhir, mengenai 'tobatnya' Syiah dari mencela Sahabat Nabi (termasuk istri-istri beliau, Aisyah dan Hafshah radiyallahu anhuma), maka ini harus dibuktikan dengan revisi buku-buku dan tulisan-tulisan dari kitab-kitab Syi'ah yang memang memuat tuduhan keji dari mulut-mulut mereka kepada Sahabat Nabi Shallallahu alaihi wasallam, dengan tuduhan yang sangat menyakitkan.

Sedangkan dalam kenyataannya, meski sudah ditulis oleh Haidar Bagir bagaimana Syi'ah bertobat dari yang demikian, buku-buku ulama Syi'ah yang berisikan kecaman kepada para Sahabat, tak juga direvisi, dari yang demikian.

Inilah hakikat taqiyyah yang diajarkan oleh Syi'ah sebagai bagian dari ajaran agama mereka. Ibarat serigala berbulu domba, maka mereka mencoba mengesankan bahwa sang serigala, sudah 100% berubah menjadi domba.

Walhasil, para ulama rabbani dengan keilmuan yang mereka miliki, tak kan tertipu dengan usaha-usaha Syi'ah untuk mengkaburkan jati diri mereka sendiri, meski mereka berusaha menjilat-jilat paham Sunni, supaya bisa diakui menjadi madzab kelima, sebagaimana mereka inginkan.

Jika tak ada lagi kewaspadaan dari ummat akan bahaya Syi'ah, maka tiba-tiba saja, ketika jumlah mereka sudah signifikan, mereka akan lepaskan bulu-bulu domba yang selama ini mereka pakai, dan menjelma menjadi serigala yang ganas, yang segera memangsa domba-domba yang tertipu dengan kamuflase yang dilakukannya selama ini.

Wallahu a'lam

'Bius Mematikan' Haidar Bagir (Pemilik Penerbit MIZAN, Untuk Sunni!
Posted on 3:31 PM / 0 comments / Read More

Distorsi Itikad Baik Merukunkan Umat, Bantahan Artikel Haidar Bagir

Di tengah kondisi umat dan bangsa yang sarat dengan problem sosial dan membutuhkan solusi konkrit, saya menyambut baik tulisan Sdr. Haidar Bagir yang berjudul “Syiah dan Kerukunan Umat” yang dimuat harian Republika (20/1/2012). Apalagi Bung Haidar, yang tentu saja telah mencermati sikap dan reaksi para pengkritik Syiah sejak meletus kasus Sampang akhir tahun lalu, dengan bijak menulis, “…harus diakui bahwa inti nasihat mereka kepada para pengikut syiah di Indonesia mengandung kebenaran-kebenaran dan patut jadi renungan. Intinya agar setelah memahami bahwa antara kedua mazhab ada perbedaan-perbedaan pandangan yang sulit atau bahkan tak bisa dipertemukan, para pengikut syiah di Indonesia tidak sekali-kali berupaya untuk melakukan dakwah syiah di Indonesia.”

Selanjutnya ia mengutarakan persetujuannya seraya mengutip pesan Ayatullah Ali Taskheri, salah satu pembantu terdekat Wali Faqih Iran yang juga Ketua Majma’ Al-‘Alami li At-Taqrib, yang tegas menyatakan bahwa, “hendaknya kaum syiah di Indonesia meninggalkan sama sekali pikiran untuk mensyiahkan kaum muslim di Indonesia.”

Alangkah leganya saya, dan juga mungkin kawan-kawan lain pengkritik Syiah, mendengar pernyataan penting dari salah satu tokoh intelektual Syiah Indonesia yang luwes bergaul dengan tokoh-tokoh muslim sunni lain dan cukup berpengaruh. Apalagi sinyal pesan itu semakin kuat menggema di akhir artikel itu berupa himbauan serius agar, “..orang-orang yang pandangannya didengar oleh para pengikut syiah di negeri ini, hendaknya mereka meyakinkan para pengikutnya untuk dapat membawa diri dengan sebaik-baiknya serta mengutamakan persaudaraan dan toleransi terhadap saudara-saudaranya yang merupakan mayoritas di negeri ini.”

Paradoks

Tampak kesan itikad baik yang muncul untuk menciptakan kerukunan umat di tengah konflik yang menganga antara muslim sunni dan syiah di negeri ini. Namun harapan saya dan juga mungkin ribuan pembaca lain buyar seketika ketika Bung Haidar membahas tiga kelemahan mendasar argumentasi para pengecam syiah. Suasana dialog yang sudah baik itu justru diperkeruh dan dikotori sendiri oleh penulisnya dengan cara mendistorsi riwayat-riwayat ahlussunnah. Oleh sebab itu izinkan saya untuk menjawab tuduhan itu satu persatu.

Pertama, generalisasi tuduhan bahwa Syiah meyakini Al-Qur’an saat ini tidak lengkap dan ada distorsi (tahrif). Bung Haidar memang tidak memungkiri bahwa ada anasir ulama syiah di berbagai zaman yang mempercayai dan berargumentasi soal ini. Namun ia berpandangan bahwa keyakinan tahrif itu tidak diterima luas dan justru jumhur ulama syiah meyakini sebaliknya, bahwa Al-Qur’an mushaf Usmani ini sudah lengkap dan sempurna.

Jika memang benar demikian adanya, mengapa Adnan Al-Bahrani, seorang tokoh syiah kontemporer, masih menyatakan pendapat bahwa Al-Quran telah mengalami distorsi dan perubahan yang dilakukan oleh orang-orang Islam (Ahlusunnah) adalah konsensus dalam sekte syiah, dan pengetahuan yang pasti dalam mazhab mereka. (lihat buku Mungkinkah Sunah-Syiah dalam Ukhuwah?! hlm.302)

Karena sudah jadi hal yang aksiomatis, maka upaya untuk menutup-nutupi keyakinan tersebut dengan cara taqiyah yang sering dilakukan syiah kontemporer adalah sia-sia. Seorang ulama syiah terkemuka, An-Nuri At-Thabarsi bahkan telah membahasnya tuntas soal tahrif itu dalam buku yang tebal berjudul, Fashl Al-Khitab fi Itsbati Tahrifi Kitab Rabb Al-Arbab. Di dalam buku itu, terhimpun lebih dari 200 riwayat yang membenarkan distorsi dalam Al-Qur’an. Bahkan di bukunya itu Nuri at-Thabarsi mengutip 40 nama ulama imamiyah yang meyakini doktrin tahrif Al-Qur’an itu. Jadi mana yang bisa kita percaya, Haidar Bagir atau Nuri at-Thabarsi?

Selain Nuri Thabarsi, ada sederet nama-nama pemuka syiah dari berbagai periode sejarah yang juga tegas menyatakan terjadinya tahrif. Setidaknya itulah hasil penelitian yang dilakukan Prof. Ahmad Sa’ad Al-Ghamidi (Maktabah Syamilah ed.2) . Ia menjelaskan bahwa pernyataan adanya tahrif itu diungkapkan oleh lebih dari 30 ulama imamiyah seperti: Fadhl ibn Syadzan an-Naisaburi (w.260 H) di kitab Al-Idhah hlm.112-114, Furat ibn Ibrahim Al-Kufi (ulama abad ke-3 H) di kitab Tafsirnya vol.1/18, Al-‘Ayasyi dalam Tafsirnya vol.1/12-13 dan 47-48, Abu Al-Qasim Ali ibn Ahmad Al-Kufi (w. 352 H) dalam kitab Al-Istighotsah min Bida’ Al-Tsalatsah vol.1/51-53, Muhammad ibn Ibrahim An-Nu’mani di kitab Al-Ghaibah, Abu Abdillah Muhammad ibn an-Nu’man Al-Mufid (w. 413) di kitab Awa’il Al-Maqalat, Abu Manshur Ahmad ibn Ali At-Thabrisi dalam kitab Al-Ihtijaj vol.1/240, 245, 249, Abu Al-Hasan Ali ibn Isa Al-Irbili (w. 692) dalam Kasyfu Al-Ghummah fi Ma’rifat Al-Aimmah vol.1/319, Al-Faidh Al-Kasyani (w. 1091) dalam Tafsir As-Shofi vol.1/24-25 dan 32-33, Muhammad ibn Hasan Al-Hur Al-Amili (w. 1104) di kitab Wasa’il As- vol.18/145, Hasyim ibn Sulaiman Al-Bahrani (w. 1107) dalam Tafsir Al-Burhan vol.4/151-152, Muhammad Baqir Al-Majlisi (w. 1111) dalam Bihar Al-Anwar dan Mir’atu Al-Uqul vol.12/525, Ni’matullah Al-Musawi Al-Jazairi (w. 1112) di kitab Al-Anwar An-Nu’maniyah vol.2/360-364, Yusuf ibn Ahmad Al-Bahrani (w. 1186) di kitab Al-Durar An-Najfiyyah hlm.294-296.

Lebih dari fakta itu semua, jika merujuk kitab Al-Kafi (ditulis oleh Abu Ja’far Al-Kulaini w. 329) yang diakui sebagai kitab hadits induk yang paling sahih dengan riwayat mutawatir dan disusun pada masa Ghaybah Shugro dari Imam yang ke-12 yaitu Al-Mahdi, dapat kita jumpai keyakinan adanya tahrif dengan nada bahwa tak ada yang mengumpulkan dan menghafal Qur’an persis seperti yang diwahyukan oleh Allah kecuali Ali bin Abi Thalib dan imam-imam setelahnya (vol.1/228), atau para imam yang mendapat wasiat, dan jumlah ayatnya adalah 17.000 ayat (vol.2/634) yang turut hilang dibawa Imam ke-12 Al-Mahdi dan baru akan hadir lagi saat beliau kembali dari ghaybah-nya.

Patut disayangkan, saat Bung Haidar mengatakan jumhur ulama syiah sepakat bulat bahwa Al-Qur’an mushaf usmani yang ada sekarang ini lengkap dan sempurna, ia tidak menyebutkan sumber-sumber primer dalam dakwaannya itu. Itulah agaknya tren perspektif baru tentang syiah yang ingin mengesankan bahwa sunni – syiah sepakat tidak adanya ajaran tahrif terhadap Al-Qur’an yang ada sekarang. Namun data-data yang kami kemukakan agaknya bertolak belakang dengan pernyataan beliau.

Kedua, baru saja Bung Haidar ingin mengesankan bahwa sunni-syiah sepakat tidak ada tahrif dalam Al-Qur’an, justru di poin kedua kelemahan mendasar argumentasi pengecam syiah yaitu tidak terpeliharanya keseimbangan pandangan, ia memperkeruh suasana dengan mendistorsi riwayat-riwayat ahlusunnah, yang mengesankan adanya tahrif. Ia menyindir bahwa hal itu juga terdapat di kitab sahih dan hadis sahih yang diakui ahlusunnah.

Memang tertera dalam Sunan Ibnu Majah, dari Muhammad ibn Ishaq dari Abdullah ibn Abi Bakr dari ‘Amrah dari ‘Aisyah, dan dari Abdurrahman ibn Al-Qasim dari ayahnya dari Aisyah berkata, telah turun ayat tentang rajam dan radha’ah (menyusui) orang dewasa dengan 10 kali susuan, sungguh dahulu tertulis di dalam lembaran di bawah tempat tidurku, dan saat Rasulullah saw wafat kami sibuk mengurusi jenazahnya sehingga masuk Dajin (hewan peliharaan seperti kambing atau ayam) dan memakan lembaran ayat itu. Hadits itu munkar dan tidak sahih, meski diriwayatkan oleh Ibnu Majah, seperti diterangkan oleh para pakar hadis. Ada illat yang merusak sanadnya yaitu pada salah satu rawinya Muhammad ibn Ishaq, ia dinilai mudhtharib (kacau hadisnya) karena menyelisihi dan menyalahi riwayat para rawi lain yang lebih tsiqoh (terpercaya). Ibnu Majah sendiri ketika meriwayatkan hadis ini dari Muhammad ibn Ishaq menukil dua sanad yang berbeda dari dia. Sedangkan perawi lain yang lebih tsiqoh seperti Imam Malik dalam Al-Muwattha’ (vol.2/608) dari Abdullah ibn Abi Bakr dari ‘Amrah dari Aisyah, dan Imam Muslim (no.1452) dari Yahya ibn Sa’id dari ‘Amrah dari ‘Aisyah, keduanya dengan redaksi “Al-Qur’an telah turun dengan ayat susuan 10 kali agar jadi mahram lalu dinasakh kemudian turun lagi ayat susuan 5 kali susuan yang sudah pasti hukumnya dan ayat-ayat itu kami baca dahulu kala sebagai Qur’an”, dan tak ada kata-kata ‘pelecehan’ bahwa lembaran ayat itu dimakan Dajin (kambing atau ayam). Oleh sebab itulah Imam Az-Zaila’I menilai dalam takhrij hadis dan atsar bahwa, penambahan redaksi ayat rajam dan radha’ah yang ada di bawah kasur aisyah lalu dimakan kambing itu adalah rekayasa dan manipulasi perbuatan kaum mulhid (ateis) dan rafidhah (syiah).

Hal lain yang disinggung adalah bahwa kutukan dan kecaman atas sahabat Nabi bukan khas syiah, namun sunni juga diindikasi melakukan hal yang sama pada era Bani Umayyah berkuasa. Perlu diketahui bahwa asal muasal berita yang mengatakan bahwa kebijakan Bani Umayyah mencela Imam Ali ibn Abi Thalib di mimbar-mimbar jumat dan baru dihilangkan itu oleh ‘Umar ibn Abdul Aziz, bersumber dari Ibnu Sa’ad dalam kitab Thabaqat, yang ia riwayatkan dari Ali ibn Muhammad al-Madaini dari gurunya Luth ibn Yahya. Berita semacam ini tidak benar dan sudah diteliti oleh Dr. Ali Muhammad Shallabi dalam bukunya Al-Khalifah Al-Rasyid Umar bin Abdul Aziz. Sebab hampir semua pakar dan imam hadis ahlisunnah menilai Ali Al-Madaini dan Luth ibn Yahya sebagai perawi yang tidak bisa dipercaya dan terbiasa meriwayatkan dari orang-orang yang lemah hafalannya dan tak dikenal (majhul). Selain tinjauan ilmu riwayat hadis, Shallabi juga menganalisis bahwa tidak benar pula fakta puluhan tahun Imam ‘Ali dikutuk Bani Umayyah, sementara kitab-kitab sejarah yang ditulis semasa dengan daulah Umayyah tidak pernah menceritakan adanya fakta sejarah itu. Kisah itu baru ditulis oleh para ahli sejarah mutakhir dalam kitab-kitab yang disusun pada era Bani Abbasiyah. Dengan motif politis untuk menjelek-jelekkan citra Bani Umayyah di tengah umat. Shallabi juga yakin bahwa kisah itu baru disusun dalam kitab Muruj al-Dzahab karya Al-Mas’udi (Syi’i) dan penulis syiah lainnya hingga kisah fiktif itu ikut tersusupi ke dalam kitab tarikh ahlisunnah yang ditulis belakangan seperti Ibnul Atsir dalam Al-Kamil fi Tarikh yang disebut Sdr. Haidar, namun tidak ada sandaran satupun riwayat yang sahih. (Shallabi: 107)

Ketiga, soal perkembangan pandangan yang terjadi dalam mazhab syiah. Jika benar Konferensi Majma’ Ahl Al-Bayt di London 1995 tegas menyatakan menerima keabsahan kekhalifahan tiga khalifah terdahulu sebelum Imam Ali, demikian pula fatwa Rahbar Iran Sy. Ali Khamenei yang melarang penghinaan terhadap orang-orang yang dihormati oleh para pemeluk ahlus sunnah seperti ditulis Bung Haidar. Maka kami menunggu dengan sangat kapan otoritas marja’ taklid Syiah di Iran dan juga Indonesia untuk membenahi, membantah dan meluruskan semua buku-buku referensi syiah klasik dan kontemporer yang terbit dalam berbagai bahasa dunia, terutama yang diajarkan di hauzah-hauzah ilmiah Iran, yang lalu diajarkan kepada pengikutnya dan dipropagandakan di tengah komunitas muslim sunni Indonesia.

Buku-buku dan tulisan itu, yang sebagian isinya telah dibeberkan oleh Sdr. Adian Husaini di Jurnal Islamia, harus ditarik, direvisi, lalu dicetak ulang sehingga bersih dari kecaman dan hinaan kepada para sahabat nabi dan istri-istri beliau yang mulia. Jika hal itu bisa dan benar-benar terwujud, maka persaudaraan dan toleransi hakiki yang diharapkan Bung Haidar muncul dari para pengikut syiah di Indonesia pasti terwujud dan itu artinya tidak perlu lagi pengikut syiah menampilkan status kesyiahannya, sebab mereka sudah sama seratus persen dengan ahlusunnah wal jamaah di negeri ini. Wallahu a’lam.

Distorsi Itikad Baik Merukunkan Umat, Bantahan Artikel Haidar Bagir
Oleh Fahmi Salim
Wakil Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) dan Anggota Komisi Pengkajian MUI Pusat.
Posted on 3:28 PM / 0 comments / Read More

Syiah dan Kesalahpahaman, Tanggapan Artikel "Sekali Lagi, Syiah dan Kerukunan Umat"

Dalam artikelnya di Republika (27/1/2012), Saudara Haidar Bagir menanggapi artikel bantahan yang ditulis oleh Muhammad Baharun dan saya. Sebelumnya, perlu disampaikan, dalam setiap munazharah (debat ilmiah) perlu ada kode etik (adabul baths). Dan salah satu kode etik yang selalu saya pegang dari Al-Azhar Mesir, -- almamater saya -- adalah kaidah yang menyatakan, “in kunta naqilan fa’alayka bil-shihhat wa in kunta mudda’iyan fa’alayka bi-d-dalil”.

Artinya, jika anda menukil pendapat, maka harus benar-benar diverifikasi dan jika anda mendakwa maka harus mendatangkan dalil. Dalam konteks inilah, Haidar keliru. Saat menyebutkan satu-dua dakwaan atau nukilan, ia tidak menyebut sumber apalagi memverifikasi kesahihannya. Jadi harap dimaklumi. Tak bermaksud semena-mena, tetapi menaati kode etik, yang mungkin ditafsirkan lain. Ini berbeda dengan ulama salaf yang dengan amanah telah menyebutkan sanad lengkap, dan menjadi tugas peneliti selanjutnya untuk memverifikasi kebenarannya.

Pertama, masih soal Tahrif (distorsi dan ketidaklengkapan) Al-Qur’an di kalangan Syiah dan Sunnah. Saya tegaskan bahwa Ahlusunnah secara mutlak menerima keotentikan, kelengkapan dan kemutawatiran mushaf Usmani yang ada saat ini --tanpa ada pengurangan dan tambahan sedikitpun. Namun tak jarang, kalangan Syiah menuduh balik bahwa indikasi tahrif banyak ditemukan dalam riwayat-riwayat yang terdapat dalam kitab-kitab hadis standar di kalangan sunnah. Saudara Haidar telah menyebutkan di antara contoh sebagiannya.

Contoh-contoh riwayat yang berbau ‘Tahrif’, yang disebut Haidar, sangat akrab di kalangan pengkaji ilmu Al-Qur’an dalam kajian Nasikh-Mansukh. Berbagai literatur seperti Al-Burhan (vol.2/41-46) karya Az-Zarkasyi, Al-Itqon (hlm.332&336) karya As-Suyuthi dan Manahil Irfan (vol.2/154-155) karya Az-Zarqani memberi contoh hadis Sayidah Aisyah tentang hukum 10 kali susuan yang dinasakh oleh 5 kali susuan (HR.Muslim) untuk kategori nasakh (konsep abrogasi) baik pada hukum dan bacaan Al-Qur’an. Sedangkan riwayat Sayidina Umar tentang ayat rajam (HR.Bukhari) dan riwayat Ubay ibn Ka’ab tentang ayat rajam (HR.Ibnu Hibban), dijadikan contoh untuk kategori nasakh pada bacaan saja, dan hukumnya tetap berlaku.

Menilai riwayat-riwayat yang dikategorikan nasikh-mansukh menurut konsep ‘Ahlusunnah’, dan menyamakan dengan ‘Tahrif’ adalah suatu kekeliruan yang mendasar. Ulama Ahlusunnah memandang adanya nasakh di dalam Al-Qur’an, --- yang tentunya adalah hak prerogatif Allah SWT dan hanya bisa terjadi selama Rasulullah hidup dan atas kewenangannya –bukan suatu distorsi (Tahrif) dan ketidaklengkapan Al-Qur’an.

Nukilan dari Aisyah, seperti dikutip Haidar, bahwa surah Al-Ahzab aslinya 200 ayat lalu tersisa hanya 73 ayat dalam mushaf Usmani, ditinjau dari sanadnya dhoif. Karena hadis itu diriwayatkan oleh Abu Ubaid (penulis Fadha’il Al-Qur’an) sampai ke Aisyah, yang rawinya Ibnu Lahi’ah dinilai mukhtalit (hafalannya amburadul) setelah kitab-kitabnya hangus terbakar, sehingga sanadnya dhoif/lemah (Mizan Al-I’tidal vol.2/475-477). Demikian pula nukilan dari Ubay ibn Ka’ab bahwa jumlah surah Al-Ahzab setara dengan Al-Baqarah (286 ayat), ternyata seorang rawinya Al-Mubarak ibn Fadhalah adalah mudallis yang dinilai dhoif/lemah, seperti penilaian Abu Dawud dan Abu Zur’ah dalam Al-Mudallisin (vol.1/80).

Nah, tidak seperti dikesankan Haidar bahwa fakta itu ditengarai bentuk Tahrif, lagi-lagi jika mau jujur, justru riwayat Aisyah dan Ubay di atas ditempatkan oleh As-Suyuthi dalam kategori nasakh tilawah (lihat hlm.336). Artinya, Suyuthi ingin menegaskan bahwa sisa 127 ayat atau 213 ayat semuanya telah dinasakh bacaan dan hukumnya. Kecuali ayat Rajam yang hukumnya tetap berlaku meski bacaannya telah dinasakh. Inilah yang ditegaskan kembali oleh Al-Bayhaqi dalam As-Sunan Al-Kubra (vol.8/211), Qadhi Abu Bakr Al-Baqillani dalam Al-Intishar lil Qur’an (vol.1/406), dan Ibnu Hajar Asqallani dalam Fathul Bari (vol.12/144).

Jadi kesimpulannya, riwayat-riwayat itu hanya untuk konteks nasikh-mansukh, dan bukan pembuktian terjadinya Tahrif dalam Qur’an menurut ulama sunni. Saudara Haidar sebagai pendukung Syiah seharusnya memahami masalah ini. Menyamakan atau sengaja mengaburkan konsep Naskh dengan Tahrif jelas kesalahan fatal. Jangan memaksakan cara pandang Syiah pada referensi kaum Sunni.

Selanjutnya, yang kedua, soal riwayat pengutukan Ali ibn Abi Thalib. Saya tidak memungkiri ‘adanya’ cerita-cerita fantastis yang tertuang dalam buku-buku tarikh yang Saudara Haidar sebutkan. Namun sekali lagi, sumber tertua pangkal dari cerita itu adalah riwayat Ibnu Sa’d dalam Thabaqat. Jika Ali Al-Madaini bisa sedikit ditolerir, namun kelemahan riwayat lebih berat karena faktor guru al-Madaini yaitu Luth ibn Yahya Al-Kufi. Dia lah yang saya maksud semua pakar dan imam hadis menilainya lemah. Al-Dzahabi dalam Siyar A'lam An-Nubala (vol.7/301-302) menulis: "Abu Mikhnaf Luth ibn Yahya Al-Kufi, penulis kitab tasnif dan tarikh, meriwayatkan dari Jabir al-Ju'fi, Mujalid ibn Sa'id, Sha'qab ibn Zuhair, dan sekelompok orang tak dikenal (majhulin)…Yahya ibn Ma'in berkata: (orang ini Luth ibn Yahya) tidak tsiqoh, Abu Hatim berkata: hadisnya ditinggalkan, Ad-Daruquthni berkata: tukang pemberi kabar yang lemah. Selain itu, Abu Mikhnaf adalah tukang berita yang rusak dan tak dipercaya (Mizan Al-I’tidal, vol.3/409)

Mengutip riwayat Sahih Muslim dari Sahl ibn Sa’ad (no.2409) juga kurang tepat dalam konteks pengutukan. Sebab Imam Muslim justru memasukkan hadis itu dalam Bab Min Fadha’il Aly ibn Abi Thalib (Keutamaan Ali R.A.).

Memang tidak mudah menyeleksi riwayat yang tertuang dalam buku-buku sejarah, juga menganalisanya secara adil. Apalagi sering dijumpai oknum-oknum tertentu dengan motif politis memperkeruh suasana dalam setiap periode penulisan sejarah. Penting dicatat, Ahlusunnah sepanjang sejarah tidak pernah membela, merestui dan apalagi menjadikan pengutukan terhadap para sahabat dan ahlul bait Nabi – terlebih Sayidina Ali -- sebagai akidah atau dendam kesumat yang tertanam kuat secara resmi. Bisa dibayangkan, dengan asumsi cerita kutukan terhadap Sayidina Ali selama 70 tahun (yang diragukan kebenarannya) itu sudah sangat tercela, bagaimanakah lagi pengutukan terhadap Khalifah Abu Bakr dan Umar, serta istri nabi yang dilestarikan lebih dari 1000 tahun–dan entah sampai kapan-?

Dalam I’tiqad Ahlusunnah, semua sahabat dan keluarga nabi, tanpa terkecuali, adalah orang-orang mulia yang terdidik dalam madrasah nubuwwah dan berjuang bertahun-tahun menegakkan panji Islam bersama Rasulullah. Pengorbanan nyawa, harta dan keluarga sudah tak terhitung. Mustahil rasanya, manusia-manusia yang disanjung berkali-kali dalam Al-Qur’an dan hadis nabi, mereka sontak berubah menjadi manusia tak bermoral dan beragama seketika hanya karena rebutan tahta dunia. Kecuali jika kita hendak katakan, bahwa Rasul telah gagal total dalam dakwahnya dan Allah SWT salah karena telah memuji kualitas iman mereka. Ini sama artinya merendahkan Allah dan Rasul-Nya, Wal’iyadzu billah!

Polemik ini semoga lebih membuka wawasan umat, bahwa masih ada ganjalan-ganjalan teologis dan historis dalam hal hubungan muslim Sunni dan Syiah. Jurang perbedaan antara keduanya juga lebar baik dalam aspek ushul akidah maupun furu’ agama. Agar tidak terjadi hal-hal yang tak diinginkan bersama, juga demi keutuhan bangsa ini, maka benarlah ajakan Saudara Haidar agar semua elemen Syiah tidak mendakwahkan ajarannya di tengah mayoritas mutlak Sunni. Jika himbauan itu tidak diindahkan serius, terus terang saya kuatir nasib persatuan bangsa ini, dimana muslim sebagai mayoritas, akan terkoyak dan tercabik-cabik. Cukup sudah pengalaman konflik sektarian di Irak, Lebanon dan Pakistan menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.

Sayangnya, Penerbit Mizan yang dipimpin Saudara Haidar, sejak 1983 terus-menerus menerbitkan buku berjudul Dialog Sunnah-Syi’ah –sebuah dialog fiktif yang dikarang Syarafuddin Al-Musawi- yang mengandung fitnah dan penghinaan terhadap Istri Nabi Muhammad saw, terutama Aisyah R.A.

Terakhir, apa yang saya tulis ini adalah bagian dari tawashaw bil-haq dan tawashaw bil-shabr secara objektif, ikhlas, dan tajarrud pada al-haq seperti harapan Sdr. Haidar. Agar umat semakin cerdas dan dewasa. Wallahu a’lam. (***)

Syiah dan Kesalahpahaman, Tanggapan Artikel "Sekali Lagi, Syiah dan Kerukunan Umat"
Oleh Fahmi Salim, MA
(Wakil Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia/MIUMI)
Posted on 3:25 PM / 0 comments / Read More

Tuesday, July 12, 2011

Membongkar Kebohongan & Penyesatan Buku ''Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi''



Waspadai buku “SEJARAH BERDARAH SEKTE SALAFI WAHABI: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama.” Buku yang diberi Kata Pengantar oleh Ketua PBNU, Prof KH Said Agil Siraj ini penuh dengan kesesatan, antara lain: menebar provokasi kebencian dan permusuhan sesama Muslim, mengajarkan rasisme, penuh kecurangan dan kebohongan, mempromosikan ajaran Syi’ah, memicu pertikaian besar sesama kaum Muslimin, terang-terangan mengajarkan prinsip-prinsip kesesatan, mengajarkan sikap kurang ajar kepada para Ulama, memakai metode intelijen untuk mengadu-domba umat Islam, dan mendukung serangan kaum Islamophobia terhadap dakwah.

Di tahun 2011 ini muncul sebuah kejutan khususnya di lapangan dakwah Islam di tanah Air, yaitu dengan terbitnya sebuah buku berjudul: “SEJARAH BERDARAH SEKTE SALAFI WAHABI: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama.” Buku ini karya orang Indonesia, tetapi disamarkan seolah penulisnya adalah orang Arab. Si penulis menyebut dirinya sebagai Syaikh Idahram, sebuah nama yang terasa asing di kancah dakwah.

Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” –selanjutnya disingkat dengan SBSSW– ini sangat berbahaya kalau tersebar luas ke tengah masyarakat. Dilihat dari judulnya saja, tampak sangar, provokatif, dan berpotensi menjerumuskan kaum Muslimin dalam pertikaian tanpa kesudahan. Buku SBSSW ini tidak layak diklaim sebagai buku ilmiah. Bisa dikatakan, buku ini adalah buku adu-domba, yang ditulis oleh orang Syiah dan Liberal, dalam rangka membenturkan sekelompok Ummat Islam dengan kelompok lainnya. Bahkan ia sudah masuk kategori buku Black Champaign.

Kita harus belajar dari kejadian-kejadian aktual di tengah masyarakat. Misalnya kerusuhan di Cikeusik Banten yang menimpa penganut Ahmadiyyah. Kerusuhan itu sudah direkayasa sedemikian rupa; disana telah dipersiapkan barisan provokator, penyerang bersenjata, pengambil gambar, korban, tukang upload video di internet, dll. Lalu pasca kejadian itu, dibuat rekayasa opini yang sangat keji melalui media-media TV. Dalam opini yang dikembangkan, digambarkan betapa beringas sikap aktivis Islam kepada kaum Ahmadiyyah. Padahal pihak Ahmadiyyah sendiri melalui pimpinannya (Deden) sejak awal sudah menginginkan terjadi kerusuhan di tempat tersebut. Akibat kerusuhan ini, para aktivis Liberal (baca: kaum non Muslim) berkoar-koar meminta supaya FPI dibubarkan. Kejadian itu mencerminkan skenario adu-domba, permusuhan, dan penyesatan opini. Kaum Liberal (non Muslim) yang kebanyakan adalah anak-cucu kaum PKI di tahun 1965 dulu, mereka selalu berada di balik aksi-aksi jahat untuk menghancurkan citra kaum Muslimin dan merusak persatuan Ummat. Di balik beredarnya buku SBSSW tercium aroma kuat modus serupa, berupa adu domba dan penyesatan opini. Semoga Allah Ta’ala mengekalkan laknat, kehancuran usaha, kesusahan hidup, serta kehinaan, atas kaum pendosa yang selalu memfitnah Islam dan kaum Muslimin itu. Amin Allahumma amin, ya ‘Aziz ya Jabbar ya Mutakabbir.

Buku ini bisa memicu banyak bahaya di tengah-tengah kehidupan kaum Muslimin. Disini kita akan membahas sisi-sisi bahaya tersebut, antara lain sebagai berikut:

1. Menebar provokasi kebencian dan permusuhan sesama Muslim

Buku ini memprovokasi masyarakat untuk membenci dan memusuhi apa yang oleh penulis disebut sebagai sekte Salafi Wahabi. Menyebarkan kebencian seperti itu jelas sangat dilarang dalam Islam.

Dalam hadits Nabi SAW bersabda, “Seorang Muslim itu saudara Muslim yang lain, tidak boleh menzhaliminya, membiarkannya dizhalimi, dan menghinanya. Taqwa itu di sini –kata Nabi sambil menunjuk ke dadanya tiga kali-. Cukuplah seseorang disebut berbuat jahat jika dia menghina saudara Muslimnya)” [HR. Muslim].

2. Mengajarkan rasisme yang sangat berbahaya

Buku ini mengandung ajaran-ajaran RASIS yang sangat berbahaya. Penulisnya mengajak Ummat Islam memusuhi negara Saudi, para ulamanya, kaum santrinya, serta Pemerintahannya. Selain itu penulis buku itu juga mengajak memusuhi siapa saja, di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, yang mendukung paham Wahabi.

Salah satu bukti sikap RASIS dari penulis buku ini ada di hal. 174. Disana dia mengatakan: “Tanduk setan itu berasal dari keturunan Bani Tamim. Sedangkan kita tahu bahwa, pendiri Salafi Wahabi itu juga berasal dari keturunan yang sama, yaitu Bani Tamim, sebagaimana gelar yang selalu dipakainya: Muhammad Ibnu Abdul Wahhab an Najdi at Tamimi. Jadi klop sudah. Bukan dibuat-buat.” (SBSSW, hal. 174). Dalam halaman yang cukup banyak penulis ini menghancurkan nama baik wilayah Najd, di Saudi. Salah satunya dia katakan: “Dari Najd timbul berbagai kegoncangan, fitnah-fitnah, dan dari sana munculnya tanduk setan.” (SBSSW, hal. 158).

Anehnya vonis “tanduk setan” terhadap Najd dan penduduknya ini tidak dilakukan, kecuali setelah di Najd bangkit dakwah Wahabi. Artinya, vonis itu mengandung niat busuk. Kalau misalnya wilayah Najd dianggap “tanduk setan”, seharusnya mereka sudah melontarkan vonis jauh-jauh hari sebelum muncul gerakan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Bahkan seharusnya, mereka dan Khilafah Utsmani di Turki tidak boleh marah ketika Najd direbut oleh keluarga Ibnu Saud. Ya buat apa marah, wong Najd sudah divonis sebagai “tanduk setan” kok? Malah mereka seharusnya bersyukur, ada manusia yang mau mengolah wilayah “tanduk setan” itu. Kalau melihat dendam kesumat kaum anti Wahabi, baik dari sisi kaum Alawiyyun atau kaum Syiah, masalah sebenarnya bukan ke persoalan Najd sebagai “tanduk setan.” Tetapi Najd yang semula dikuasai keluarga Syarif Hussein selama 700 tahun, lalu berpindah kekuasaan ke tangan Ibnu Saud. Itu sebenarnya masalah utama di balik munculnya hadits-hadits soal Najd sebagai “tanduk setan” ini. Bisa jadi, ketika 700 tahun Najd dikuasai keluarga Syarif, mereka tidak banyak menyinggung soal Najd sebagai “tanduk setan.”

Bukan hanya Bani Tamim atau penduduk Najd yang dilecehkan penulis, dia juga melecehkan orang Arab.

Dalam bukunya dia berkata: “Tidak semua orang Arab mengerti agama, bahkan banyak dari mereka yang ‘lebih dajjal’ daripada dajjal.” (SBSSW, hal. 224).

Padahal Nabi SAW menyebut bahwa puncak fitnah itu ada saat kedatangan dajjal. Bahkan kata beliau, para Nabi dan Rasul selalu mengingatkan ummatnya tentang dajjal ini. Lalu kini, si penulis menuduh banyak orang Arab ‘lebih dajjal’ dari dajjal sendiri. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Berarti dalam hal ini penulis merasa lebih pintar dari Nabi SAW? Masya Allah!! Banyak bukti-bukti sikap RASIS dari si penulis yang menyebut diri Syaikh Idahram ini. Dan sikap RASIS ini sudah menjadi ciri khas kaum Syiah dan penganut SEPILIS.

Para penganut Syiah di Indonesia banyak dari keturunan Arab Yaman (Hadramaut). Mereka itu orang Arab, atau keturunan Arab. Padahal dalam akidah Syiah, jika nanti turun Imam Al Mahdi Al Qaim, dia akan membabat habis bangsa Arab, hanya menyisakan kaum Persia. Begitu keyakinan mereka. (Mengapa Saya Keluar dari Syiah, karya Sayyid Hussein Al Musawi, hal. 134-135). Pemimpin FPI, Habib Rieziq Shihab, pernah menulis sebuah makalah ilmiah tentang karakter RASIS kaum Liberal.

3. Penuh kecurangan dan kebohongan

Buku ini penuh kecurangan dan kebohongan. Penulis secara sadar mengacaukan akal para pembaca dengan data-data, kutipan, referensi, dll. Tetapi semua itu tidak dituangkan dalam suatu pembahasan ilmiah secara jujur.

Contoh, ketika dia menyebutkan kekejaman kaum Wahabi di hal. 61-138, bab tentang, “Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama.” Disini yang diceritakan penulis hanya kekejaman, keganasan, kesadisan, serta angkara murka kaum Wahabi. Tetapi penulis tidak pernah sedikit pun mengakui bahwa semua itu merupakan bentuk KONFLIK POLITIK antara keluarga-keluarga Emir (bangsawan) di Jazirah Arab.

Konflik seperti itu sudah terjadi sejak lama di Jazirah Arab, bahkan sebelum Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dilahirkan oleh ibunya. Penulis ini juga hanya menghujat posisi Kerajaan Saudi, padahal yang melepaskan diri dari Khilafah Utsmani Turki bukan hanya Saudi. Disana ada Yaman, Bahrain, UEA, Qatar, Irak, Oman, Mesir, Yordania, Syria, dll. Kecurangan yang dibungkus kemasan ilmiah, tentu lebih berbahaya, sebab ia akan dikira sebagai kebenaran yang tak terbantahkan.


4. Mempromosikan ajaran Syi’ah

Buku ini juga mempromosikan ajaran-ajaran Syiah. Banyak indikasi-indikasi yang membuktikan hal itu dalam buku SBSSW. Nanti akan kita bahas secara khusus tentang akidah yang dianut penulis (Syaikh Idahram). Salah satu contoh kecil, sangat halus, tetapi kelihatan. Perhatikan kalimat berikut ini: “Pada bulan Safar 1221 H/1806 M, Saud menyerang an Najaf al Asyraf, namun hanya sampai di As Sur (pagar perlindungan). Meskipun gagal menguasai An Najaf, tetapi banyak penduduk tak berdosa mati terbunuh.” (SBSSW, hal. 104-105).

Tidak ada seorang pun Ahlus Sunnah yang menyebut Kota Najaf dengan sebutan Al Asyraf. Hanya orang Syiah yang melakukan hal itu.

Kota Najaf terletak di Irak, begitu pula Karbala. Sedangkan Kota Qum terletak di Iran. Kota Najaf, Karbala, dan Qum selama ini diklaim sebagai kota suci kaum Syiah. Sepanjang tahun kaum Syiah berziarah ke kota-kota itu karena disana ada situs-situs yang disucikan kaum Syiah. Selama ini kaum Muslimin mengenal Masjidil Haram di Makkah dengan sebutan Al Haram As Syarif. Namun kaum Syiah menyebut Kota Najaf dengan ungkapan Al Asyraf (artinya, lebih mulia atau paling mulia). Seolah, mereka ingin mengatakan, bahwa Najaf lebih mulia dari Kota Makkah. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.

Fakta lain yang menunjukkan bahwa si penulis berakidah Syiah adalah pernyataan berikut ini: “Dalam Islam, sedikitnya ada 7 mazhab yang pernah dikenal, yaitu: Mazhab Imam Ja’far ash Shadiq (Mazhab Ahlul Bait), Mazhab Imam Abu Hanifah an Nu’man, Mazhab Imam Malik bin Anas, Mazhab Imam Syafi’i, Mazhab Imam Ahmad ibnu Hanbal, Mazhab Syiah Imamiyah, dan Mazhab Daud azh Zhahiri. Sedangkan “Mazhab Salaf” tidak pernah ada! Sebab ulama Salaf itu banyak, termasuk di dalamnya imam-imam mazhab yang tadi.” (SBSSW, hal. 208).

Demi Allah, Ahlus Sunnah di seluruh dunia Islam tidak akan ada yang mengatakan perkataan seperti ini. Perkataan seperti ini hanya akan keluar dari lidah orang-orang Syiah (Rafidhah). Lihatlah, dalam perkataan ini dia mengklaim ada 7 madzhab dalam Islam, yaitu 4 madzhab Ahlus Sunnah, ditambah 2 madzhab Syiah (madzhab Ja’fari dan Imamiyyah) dan 1 madzhab Zhahiri. Pendapat yang masyhur di kalangan Ahlus Sunnah, madzhab fikih itu hanya ada 4 saja, yaitu madzhab Abu Hanifah (Hanafi), Imam Malik (Maliki), Imam Syafi’i (Syafi’i), dan madzhab Imam Ahmad (Hanbali). Kalau ada tambahan, paling madzhab Zhahiri. Itu pun tidak masyhur di kalangan Ahlus Sunnah. Lalu dalam buku SBSSW itu, si penulis Syiah berusaha membohongi kaum Muslimin, dengan mengatakan, bahwa dalam Islam ada sedikitnya 7 madzhab. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Bahkan madzhab Ja’fari dalam kalimat di atas disebut pada urutan pertama. Lebih busuk lagi, madzhab Syiah Imamiyyah yang merupakan salah satu sekte Syiah paling ekstrem, disebut sebagai madzhab Islam juga. Allahu Akbar!

Kalimat di atas juga mengandung kebodohan yang sangat telanjang. Coba perhatikan kalimat berikut ini: Sedangkan “Mazhab Salaf” tidak pernah ada! Sebab ulama Salaf itu banyak, termasuk di dalamnya imam-imam mazhab yang tadi. (SBSSW, hal. 208). Kalimat seperti ini hanya mungkin dikatakan oleh orang gila. Bayangkan, si penulis secara tegas mengklaim, bahwa madzhab Salaf itu tidak ada. Tetapi pada kalimat yang sama, dia mengakui bahwa imam-imam madzhab (seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad), termasuk bagian dari ulama Salaf. Si penulis bermaksud mementahkan eksistensi madzhab Salaf, tetapi saat yang sama dia mengakui bahwa imam-imam madzhab itu termasuk imam madzhab Salaf. Kalau dia jujur ingin mengatakan, bahwa madzhab Salaf tidak ada, berarti madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, atau Hanbali juga tidak ada. Ya bagaimana lagi, wong mereka itu imam-imam Salaf kok. Si penulis itu mengakui, bahwa mereka adalah imam-imam Salaf.

Sangat disayangkan dalam hal ini, KH. Ma’ruf Amin, salah satu Ketua MUI, ikut mendukung buku ini. Padahal MUI sendiri pada tahun 1984 pernah mengeluarkan fatwa yang menjelaskan pokok-pokok kesesatan paham Syiah menurut Ahlus Sunnah, kemudian MUI meminta Ummat Islam mewaspadai sekte ini. (Lihat situs voa-islam.com, tentang tersebarnya fatwa palsu MUI tentang Syiah yang ditulis anggota MUI, Prof. Dr. Umar Shihab. Fatwa itu mengklaim bahwa paham Syiah tidak sesat menurut MUI. Lalu redaksi voa-islam.com mencantumkan fatwa MUI asli yang dikeluarkan tahun 1984, tentang aspek-aspek kesesatan Syiah).

Bahkan KH. Ma’ruf Amin pernah diminta MUI untuk mengkaji tentang haramnya Nikah Mut’ah di kalangan Syi’ah. (Lihat Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, karya Ustadz Hartono Ahmad Jaiz, hal. 144. Jakarta, Pustaka Al Kautsar, tahun 2006).

Seharusnya beliau membaca secara teliti buku SBSSW itu, sebelum mempromosikannya ke tengah masyarakat. Kalau ingin membantah KH. Ma’ruf Amin ini, kita merasa tidak enak, sebab beliau termasuk ulama sepuh di negeri kita. Tetapi kalau melihat keterlibatan beliau dalam mendukung buku SBSSW itu, kita sangat menyesalinya. Bisakah disini dikatakan bahwa KH. Ma’ruf Amin ikut mendukung paham Syiah? Wallahu A’lam bisshawaab. Semoga saja dukungan KH. Ma’ruf Amin ini hanyalah merupakan ketergelinciran seorang alim dan semoga ia segera dihapus dengan pernyataan bara’ah (berlepas diri dari buku SBSSW itu). Kalau beliau tidak melakukannya, secara pribadi saya akan menyebut beliau sebagai pendukung Syiah dan SEPILIS. Siapapun yang terlibat mempromosikan ajaran sesat (Syiah dan SEPILIS) tidak layak didoakan mendapat khusnul khatimah, karena promosi seperti itu bisa membuat ribuan kaum Muslimin mati dalam keadaan su’ul khatimah. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

5. Pemicu pertikaian besar sesama kaum Muslimin

Buku ini bisa memicu pertikaian besar di tengah kaum Muslimin. Mengapa dikatakan demikian? Sebab sang penulis tidak mengidentifikasi kaum Wahabi dengan ciri-ciri yang jelas. Dengan sendirinya masyarakat akan bingung memahami, Wahabi itu apa dan bagaimana? Perlu diketahui, yang mengajarkan Tauhid, Sunnah, ilmu, dan dakwah, bukan hanya dakwah Wahabi. Jamaah-jamaah Islam yang lain juga mengajarkan hal itu.

Contoh, gerakan Ikhwanul Muslimin. Manhaj gerakan ini merujuk kepada Ushulul Isyrin (prinsip 20) yang diajarkan Syaikh Hasan Al Bana rahimahullah. Dalam prinsip itu juga diajarkan tentang pentingnya Tauhid, buruknya syirik; pentingnya Sunnah, buruknya bid’ah. Bahkan ormas Islam seperti Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, Dewan Dakwah (DDII), Pesantren Hidayatullah, Wahdah Islamiyyah, dll. juga mengajarkan Tauhid, Sunnah, ilmu, dan dakwah. Begitu pula Majelis Mujahidin, Jamaah Ansharut Tauhiid, dan yayasan-yayasan dakwah Salafi. Jika masyarakat salah paham, mereka akan menyangka bahwa semua organisasi, lembaga, atau yayasan itu harus dibenci dan dimusuhi, karena mereka dianggap Wahabi.

6. Terang-terangan mengajarkan prinsip-prinsip kesesatan

Buku ini secara jelas telah mengajarkan prinsip-prinsip KESESATAN secara telanjang. Disini akan disebutkan beberapa pernyataan penulis. Coba perhatikan kalimat berikut ini: “Sesungguhnya Salaf tidak pernah sama dalam memahami berbagai masalah agama yang begitu komplek.” (SBSSW, hal. 201). Ini adalah jenis KESESATAN BESAR. Kalimat ini jelas meniadakan Al Ijma’ di kalangan para Shahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in. Padahal para ulama sudah sepakat, kalau suatu urusan telah menjadi ijma’ (konsensus) mayoritas Shahabat, hal itu menjadi dasar hukum yang kuat. Misalnya ijma’ Shahabat dalam memilih empat Khalifah (Abu Bakar Ra, Umar Ra, Utsman Ra, dan ‘Ali Ra) sebagai pemimpin Ummat. Ijma’ ini tidak diragukan lagi. Begitu pula ijma’ mereka dalam Jihad Fi Sabilillah, penulisan Mushaf Al Qur’an, menyatukan bacaan Al Qur’an, Shalat berjamaah di masjid, Shalat ‘Ied, Shalat Istisqa’, menyelenggarakan Zakat, Shaum Ramadhan, manasik Haji, dll. Apa saja yang dilakukan secara jama’i oleh Shahabat Ra, dan tidak ada pengingkaran mereka atas hal itu, ia adalah Ijma’ Shahabat.

Kalau dikatakan Salaf tidak pernah sama dalam segala masalah agama, otomatis mereka selalu berselisih dan berselisih. Disini mengandung dua tuduhan dahsyat. Pertama, penulis itu telah menuduh para Shahabat Ra bermental buruk, sehingga sulit menyatukan kalam.

Di mata kaum Syiah, mencela, menghina, atau merendahkan para Shahabat Ra bukan sesuatu yang aneh. Bahkan melaknat para Shahabat itu telah menjadi amal shalih tersendiri. Na’udzbillah min dzalik.

Mereka selalu berpecah-belah, tak pernah bersatu. Kedua, penulis juga menuduh ajaran Islam sebagai biang perpecahan. Padahal secara hakiki, Islam mengajarkan prinsip Al Jamaah, yaitu persatuan Ummat. Bahkan ada ulama yang mengatakan, perpecahan adalah qurrata a’yun-nya syaitan. Karena syaitan sangat berkepentingan terhadap perpecahan Ummat

Kemudian, perhatikan kalimat berikut ini, “Siapa saja yang ahli atau telah memenuhi syarat dalam memahami teks-teks agama, dia berhak atas hal itu, tidak wajib mengikuti pemahaman Salaf seperti yang disangkakan Salafi Wahabi.” (SBSSW, hal. 205). Lihatlah betapa beraninya ucapan penulis ini! Dia begitu meremehkan kaum Salaf, dan merasa dirinya setara dengan Salaf. Innalillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Sudah masyhur tentang kisah Imam Malik rahimahullah. Beliau pernah ditanya 40 pertanyaan, dan sebagian besar pertanyaan itu dijawab dengan kalimat, “Laa ad-riy” (aku tidak tahu). Hanya satu pertanyaan yang beliau jawab. Lihatlah, betapa sangat hati-hatinya Imam Malik dalam berfatwa. Padahal siapa yang meragukan pengetahuan beliau tentang Islam? Ajaran yang menyuruh Ummat Islam mengikuti jejak Salafus Shalih, bukanlah monopoli kaum Wahabi. Hal itu disebutkan dalam Al Qur’an, Surat At Taubah ayat 100:

“Dan orang-orang yang mula pertama masuk Islam, dari kalangan kaum Muhajirin dan kaum Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan, Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah telah menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan besar.”

Disini ada kalimat “walladzinat taba’uu hum bil ihsan” (dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan). Ini adalah dalil qath-iy tentang pentingnya mengikuti jejak Salafus Shalih (para Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in).

Lucunya, si penulis dalam bukunya ternyata getol mengikuti konsep keilmuwan yang ditinggalkan para Salaf, setidaknya dalam soal riwayat hadits-hadits. Bisa dikatakan disini, “Tanpa peranan generasi Salaf, kita hari ini tidak akan memiliki ilmu apapun.”

Di halaman lain penulis SBSSW berkata: “Bagaimana mungkin mereka mengharuskan kita mengikuti madzhab Salaf, kalau namanya saja tidak ada? Sebab tidak pernah ada dan tidak pernah dikenal dalam sejarah peradaban umat Islam, apa yang dinamakan madzhab Salaf.” (SBSSW, hal. 207-208). Ini adalah puncak kebodohan si penulis. Memang dalam Al Qur’an atau As Sunnah, tidak disebutkan secara eksplisit “madzhab Salaf.” Tetapi kaum Salaf itu ada dan nyata. Kaum Salaf adalah para Shahabat Nabi, Khulafaur Rasyidin, Ahlul Bait Nabi, kaum Muhajirin, kaum Anshar, peserta Perang Badar, peserta Bai’at Ridhwan, dll. Begitu pula Imam madzhab fiqih, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Ahmad bin Hanbal; para imam ahli hadits, seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ibnu Majah, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i, Imam Baihaqi, Imam Ibnu Khuzaimah, Imam Ad Darimi, dll. Semua itu adalah kaum Salaf. Mereka ada dan nyata. Hanya orang-orang pandir yang akan mengingkari mereka.

Kita tidak perlu mencari-cari sebutan “madzhab Salaf” untuk mengikuti jejak mereka. Adanya eksistensi kaum Salaf yang merupakan generasi terbaik Ummat ini, itu sudah menunjukkan adanya manhaj Salaf. Seperti pernyataan kaum Badui yang masih bersih fithrah ketika ditanya tentang eksistensi Allah. “Adanya jejak kaki dan kotoran hewan, bisa menunjukkan adanya kafilah yang melintasi padang pasir. Begitu pula, adanya bintang-bintang di langit menunjukkan adanya Sang Pencipta alam semesta.” Adanya suatu kaum yang memiliki sifat-sifat tertentu, hal itu sudah membuktikan adanya manhaj kaum tersebut. Kalau kemudian manhaj Salaf hendak dibuang, jelas akan bubar agama ini. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Bagaimana bisa kita memahami Islam, tanpa metode yang dicontohkan kaum Salaf? Adapun bentuk mengikuti manhaj Salaf itu secara kongkritnya ialah mengikuti dan melestarikan kaidah-kaidah ilmiyah yang diwariskan kaum Salaf di bidang Al Qur’an, Tafsir, ilmu Hadits, Akidah, Fiqih, Ibadah, hukum Haad, Siyasah, Suluk, ilmu bahasa, sastra Arab, dll. Sejauh kita beragama mengikuti kaidah-kaidah ilmiah itu, berarti kita telah mengikuti Salaf. Dan kaidah-kaidah inilah yang selama ini hendak dihancurkan oleh para penganut SEPILIS.

7. Kurang ajar kepada para Ulama

Buku ini mengajarkan sikap kurang ajar kepada para ulama yang telah diakui oleh Ummat. Perilaku seperti ini sudah khas menjadi ciri kaum Syiah dan SEPILIS. Mereka tidak segan-segan menyerang Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Bukhari, Az Zuhri, bahkan melecehkan para Shahabat Ra. Salah satu bukti sikap kurang ajar ke ulama ialah perkataan penulis berikut ini: “Menurut hemat penulis, dalam masalah ini (yaitu soal apakah Al Qur’an itu makhluk atau bukan –pen.), Imam Ahmad lah yang keliru. Sebab Allah SWT secara terang berfirman dalam Al Qur’an, ‘Ma ya’tihim min dzikrin min robbihim muhdatsin’ (tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Qur’an pun yang muhdats/baru dari Tuhan mereka).” [QS. Al Anbiya’: 2].

Lihat, betapa lancangnya si penulis dalam membantah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah! Dia merasa lebih pandai dari Imam Ahmad. Masya Allah.

Dengan berdalil memakai surat Al Anbiya’ ayat 2 ini, penulis hendak mematahkan akidah Imam Ahmad bin Hanbal, bahwa Al Qur’an itu Kalamullah, bukan muhdats (ciptaan baru). Menurut si penulis, Al Qur’an itu ciptaan baru alias makhluk. Namun sangat curangnya, dia memotong kelanjutan dari ayat tersebut. Kelanjutannya adalah, “Illa istama’uhu wa hum yal’abuun” (melainkan mereka mendengarkan, namun dengan main-main). Jadi yang dimaksud dalam Surat Al Anbiya’ ayat 2 itu ialah celaan terhadap sikap buruk orang musyrikin, tatkala datang ayat-ayat Allah yang baru (karena memang Al Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur), mereka mendengarkan tetapi sambil bermain-main. Ayat ini berkaitan dengan kelakuan orang musyrik, bukan dalil bahwa Al Qur’an itu makhluk. Kalau tidak percaya, silakan Pembaca periksa sendiri ayat tersebut menurut versi terjemahan paling popluler di Indonesia, yaitu Departemen Agama RI. Ulama akidah menjelaskan, bahwa keyakinan ‘Al Qur’an itu makhluk’, apabila didasari pengetahuan dan kesengajaan, akan membuat kafir pelakunya. Sebab dengan keyakinan itu mereka hendak menyamakan Al Qur’an dengan makhluk, yang tentu di siksi makhluk terdapat banyak kelemahan dan kesalahan. Siapapun yang meyakini demikian, berarti dia telah kufur kepada Al Qur’an. Padahal salah satu syarat keimanan adalah at tashdiqu bil qalbi (pembenaran dengan hati). Kalau hatinya sudah kufur kepada Al Qur’an, otomatis imannya pun gugur. Maka orang-orang Syiah yang meyakini bahwa Al Qur’an telah diubah-ubah oleh para Shahabat Nabi Saw termasuk ke golongan gugur iman itu. Na’udzubillah minal kufri.

Di sisi lain, penulis ini dengan sangat lancang mengatakan: “Jadi benar apa yang disangkakan selama ini, bahwa ternyata Salaf yang mereka maksud, tidak lain dan tidak bukan, adalah Ibnu Taimiyah dan CS-nya.” (SBSSW, hal. 220). Begitu juga: “Sudah jelaslah, siapakah sebenarnya yang mereka ikuti, yakni Ibnu Taimiyah, Ibnu Abdul Wahab dan CS-nya, yang mereka klaim sebagai ‘Salaf’.” (SBSSW, hal. 222). Menyebut ulama besar dengan kata “CS-nya” bukanlah adab manusia terpelajar. Ia hanya pantas dilakukan manusia-manusia otak kotor. Lebih buuk lagi si penulis mengatakan: “Begitu juga dengan Muhammad bin Abdul Wahhab, tokoh pendiri Wahabi –sosok temperamental dan kejam yang telah membunuhi ribuan umat Islam semasa hidupnya-, hampir semua ulama yang hidup sezaman dengannya menganggap ajarannya sesat.” (SBSSW, hal. 223).

Jahatnya, si penulis sama sekali tidak pernah bisa membuktikan, bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah membunuh manusia, apalagi sampai ribuan manusia. Itu tak ada bukti valid yang bisa dipegang.

Penulis ini tentu saja tidak segan melecehkan ulama-ulama besar lain, seperti Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Al Albani, Syaikh Ibnu Jibrin, Syaikh Shalih Fauzan, bahkan melecehkan dewan fatwa Saudi, Lajnah Da’imah. Kalau sudah begini, apalagi yang bisa diharapkan dari penulis ini? Masih adakah kebaikan disana?

8. Memakai metode intelijen untuk mengadu-domba umat Islam

Dalam mengkritik gerakan dan paham Wahabi, penulis jelas-jelas menggunakan metode TAJASSUS alias mencari-cari kesalahan. Cara demikian biasanya dilakukan kalangan intelijen anti Islam, untuk mengadu-domba Ummat. Metode tajassus bukan metode ilmiah, tetapi termasuk metode khianat dalam ilmu. Metode tajassus pertama kali dikembangkan oleh Fir’aun dan Bani Israil, ketika mereka selalu mencari-cari kesalahan Musa As. Bahkan tajassus itu termasuk perbuatan haram. Dalam Al Qur’an disebutkan, “Wa laa tajas-sasuu” (dan janganlah kalian saling mencari-cari kesalahan). [Al Hujuraat: 12].

Di hadapan sikap tajassus, tidak ada seorang manusia pun yang selamat dari kesalahan. Namanya juga mencari-cari kesalahan; kalau tidak ketemu, ya dipaksakan agar tetap ada kesalahan. Dalam buku SBSSW itu penulis menyebut fatwa Syaikh Bin Baz tentang “bumi tidak berputar.” Di antara sekian banyak fatwa-fatwa Syaikh Bin Baz yang bermanfaat, sehingga Dr. Yusuf Al Qaradhawi pernah menyebut beliau sebagai Al Imamul Jazirah, ternyata oleh penulis diambil fatwa tentang “bumi tidak berputar ini” (hal. 220-221). Begitu pula penulis ini menyebut pendapat Ibnu Taimiyyah yang ganjil tentang “siksa neraka untuk orang kafir tidak kekal” (hal. 184). Pendapat-pendapat seperti ini bukan pendapat utama mereka. Ia adalah pendapat “recehan” di sisi sedemikian banyak pendapat-pendapat mereka yang berkualitas. Tetapi karena memang dasarnya benci, apapun kesalahan yang dijumpai akan dipakai untuk menyerang.

Salah satu yang lucu ialah ketika si penulis mengutip pandangan Dr. Said Ramadhan Al Buthi dalam bukunya, As Salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah Laa Madzhab Islami. (SBSSW, hal. 27). Dengan dasar buku ini dia menuduh ulama-ulama Wahabi tidak mengikuti madzhab apapun. Padahal para ahli-ahli Islam sudah mafhum, bahwa ulama-ulama Saudi, termasuk Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, bahkan Ibnu Taimiyyah rahimahullah, mereka itu pengikut madzhab Imam Ahmad bin Hanbal. Ini sangat nyata dan jelas.

Dalam soal “Al Qur’an adalah Kalamullah” jelas-jelas mereka mengikuti akidah Imam Ahmad. Begitu pula Bahkan Syaikh Al Albani rahimahullah telah menyusun kitab Al Irwa’ul Ghalil, sebanyak total 9 jilid. Kitab ini berisi takhrij hadits-hadits yang termuat dalam kitab Manarus Sabil yang menjadi pegangan fiqih madzhab Hanbali. Ulama-ulama Wahabi pun giat memberikan syarah terhadap kitab Aqidah Thahawiyyah, yang bersumber dari akidah Imam Abu Hanifah rahimahullah. Dan begitu bencinya penulis ini kepada Wahabi, sampai dia menulis: “Pembagian tauhid semacam itu tidak terdapat juga di dalam karya murid-murid Imam Ahmad bin Hanbal yang terkenal seperti Ibnu Al Jauzi dan Al Hafizh Ibnu Katsir.” (SBSSW, hal. 236).

Kalau dunia ilmiah sudah dimasuki metode tajassus ini, hasilnya hanyalah kerusakan, dendam, dan kesesatan. Tidak ada kebaikan dari metode yang dibangun di atas cara haram. Bukankah tajassus diharamkan dalam Al Qur’an?

9. Penulisnya tertimpa penyakit Gila

Penulis ini (Idahram) termasuk orang-orang yang sudah tertimpa penyakit “gila.” Di dalam bukunya ini tercampur-baur berbagai macam pemikiran, akidah, fitnah, kebohongan, dendam kesumat, kecurangan, dan sebagainya. Bahkan di dalamnya terdapat banyak kontradiksi-kontradiksi.

Contohnya, perhatikan kalimat berikut ini: “Kita harus melepaskan pemahaman-pemahaman tersebut dan kembali kepada Al Qur’an, Sunnah Rasul SAW, dan ilmu bahasa Arab sebagai alatnya. Lalu, kita pakai otak kita untuk memahami dan menelaah perkara-perkara yang diperselisihkan tersebut, sehingga akan jelas bagi kita saat itu, mana pendapat yang benar dan mana yang salah di antara mereka. Kita kembali kepada pemahaman kita, bukan kepada pemahaman Salaf.” (SBSSW, hal. 211).

Lihatlah betapa beraninya penulis dalam meninggikan otaknya di atas ilmu para Salaf yang mulia. Kemudian baca kalimat berikut ini: “Sebab, jika semua orang Arab ‘berhak’ untuk menafsirkan Al Qur’an sekehendak hatinya, tanpa mengerti rambu-rambunya, dan boleh berijtihad tanpa keahlian yang dia miliki, maka semua orang Arab menjadi ulama. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Tidak semua orang Arab mengerti agama, bahkan banyak dari mereka yang ‘lebih dajjal’ daripada dajjal. Itulah sebabnya, kenapa tidak sembarang orang boleh berijtihad dan mengeluarkan fatwa.” (SBSSW, hal. 224).

Dua kutipan ini tentu sangat mencengangkan; satu sisi memberi kebebasan penuh kepada akal untuk mencerna perselisihan-perselisihan agama; di sisi lain tidak boleh sembarangan memahami agama dengan akal sendiri. Padahal jarak antara kalimat pertama dan kedua hanya beberapa halaman saja.

Kegilaan itu merata dalam buku si penulis. Ketika dia membahas hadits-hadits tentang Najd, dia mengklaim bahwa Najd adalah tempatnya fitnah, tempatnya puncak kekafiran, tempatnya “tanduk setan.” Tetapi ketika membahas tentang kekejaman kaum Wahabi (seperti yang dituduhkan penulis), dia menyebutkan kota-kota di Najd yang menjadi sasaran keganasan kaum Wahabi, seperti Thaif, Qashim, Ahsa, Uyainah, Riyadh, Syammar, dan lainnya. (Lihat SBSSW, hal. 77-106).

10. Mendukung serangan kaum Islamophobia terhadap dakwah


Dan terakhir, di antara bahaya terbesar di balik tersebarnya buku ini, adalah suatu kenyataan, bahwa Wahabi hanya merupakan SASARAN KESEKIAN dari serangan orang-orang ini. Serangan ini merupakan satu agenda, di samping agenda-agenda serangan lain.

Tentu kita masih ingat munculnya buku, “Ilusi Negara Islam.” Di sana gerakan-gerakan dakwah Islam internasional juga mendapatkan stigmatisasi, dengan label “gerakan transnasional.” Tujuannya, agar masyarakat Indonesia membenci gerakan-gerakan dakwah dari luar negeri itu.

Kita menyadari, kaum Syiah, penganut SEPILIS, Yahudi-Nashrani, orientalis Barat, aliran-aliran sesat, mereka sudah sepakat untuk menghancurkan fondasi ajaran Islam dari dasar-dasarnya. Siang malam mereka berjuang untuk merealisasikan tujuan penghancuran Akidah, Syariat, dan Peradaban Islam. Seperti LSM SETARA Institute.

Adalah sangat ajaib ketika Said Agil Siraj, Ketua PBNU, memberikan dukungan terbuka terhadap buku SBSSW ini. Apa tujuannya? Apakah ingin menghancurkan dakwah Islam, ilmu Syariat, merusak persatuan Ummat, dan mencerai-beraikan proyek-proyek pembangunan Islam selama ini? Di mana kualitas intelektualitas seorang Said Agil Siraj sebagai “profesor doktor” dan Ketua PBNU? Tidak ingatkah Said Agil Siraj bahwa dia mendapat gelar doktor setelah menamatkan studi di Universitas Ummul Qura’, yang dikelola kaum Wahabi?

Kalau kata orang Jawa Timur, “Yo, sing nduwe isin-lah, Pak!” Anda sudah kenyang mendapat fasilitas dari kaum Wahabi, bahkan anak-anak Anda lahir di bawah kemurahan kaum Wahabi, lalu kini Anda ikut menyerang paham Wahabi dengan membabi-buta. Apakah dulu di pesantren Anda tidak diajari pelajaran adab seorang Muslim?

Kalau membaca buku SBSSW itu, saya yakin bahwa posisi Said Agil Siraj ini –semoga Allah membalas perbuatannya secara adil dan menjadi ibrah besar bagi kaum Muslimin di Nusantara- bukan hanya sebagai pemberi kata pengantar. Saya yakin, Said Agil Siraj terlibat langsung di balik proyek penerbitan buku-buku propaganda ini.

Menurut Ustadz Hartono Ahmad Jaiz, sosok Said Agil Siraj ini pernah dikafirkan oleh 12 orang kyai. Ada pula yang melayangkan surat ke Universitas Ummul Qura, meminta supaya mereka mencabut gelar doktor Said Agil. (50 Tokoh Islam Liberal Indonesia, karya Budi Handrianto, hal. 160. Jakarta, Pustaka Al Kautsar, 2007).

Demikianlah sekilas pandangan tentang buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi,” karya Syaikh Idahram. Buku ini andaikan ditulis dengan semangat kejujuran, metode ilmiah Islami, serta upaya melakukan koreksi terhadap sesama Muslim, dalam rangka memperbaiki kehidupan Ummat; tentu upaya itu akan disambut dengan rasa syukur. Sekurangnya, ia akan dipandang sebagai sumbangan ilmiah berharga. Tetapi dengan performa judul, metode penulisan, serta sekian banyak kecurangan yang dilakukan penulis; tidak diragukan lagi bahwa buku SBSSW itu ditujukan untuk merusak kehidupan kaum Muslimin.

Secara pribadi saya menghimbau agar para ahli-ahli Islam segera “turun tangan” untuk membuat analisis obyektif atas buku SBSSW itu. Kemudian hasilnya, silakan sampaikan kepada khalayak kaum Muslimin. Saya sendiri berpandangan, buku ini sangat berbahaya, dan sudah selayaknya di-black list, atau ditarik dari peredaran.

Akhirul kalam, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu merahmati kaum Muslimin di negeri ini, menolong mereka atas segala prahara berat yang menimpa, menyantuni mereka atas segala konspirasi jahat yang dilontarkan musuh-musuh Islam, serta meluaskan hidayah ke seluruh sudut negeri, agar lebih banyak manusia yang hidup di atas keshalihan; bukan di atas khianat, kedengkian, dan permusuhan terhadap Islam. Allahumma amin. Wallahu a’lamu bis-shawab. 

Oleh: AM. Waskito
Posted on 9:08 AM / 0 comments / Read More

Monday, July 4, 2011

Pengkhianatan Syiah dan Usaha Mereka untuk Membunuh Shalahuddin Al-Ayyubi

 Orang-orang Syiah belum lupa bahwa Shalahuddin Al-Ayyubi adalah orang yang telah melenyapkan Daulah Fathimiyah di Mesir, dan kembali memberikan tempat bagi Ahlu sunnah wal jamaah. Karena itulah, mereka berusaha berulang kali untuk membunuhnya, untuk mendirikan Daulah Fathimiyah yang baru. Dan dalam semua konspirasi ini mereka meminta bantuan kepada orang-orang asing serta berkirim surat kepada mereka.

Al-Maqrizi berkata dalam As-Suluk, "Pada tahun 569 H sekelompok penduduk Mesir berkumpul untuk mengangkat salah seorang anak Al-Adhid —Khalifah Fathimiyah terakhir di Mesir- dan membunuh Shalahuddin Al-Ayyubi, serta mengirimkan surat kepada orang-orang asing guna meminta bantuan dari mereka. Di antara mereka adalah; Al-Qadhi al-Mufaddhal Dhiya'uddin Nasrullah bin Abdullah bin Kamil AlQadhi, Syarif Al-Julais, Najah Al-Hamami, Al-Faqih Imarah bin Ali Al-Yamani, Abdusshamad Al-Katib, Al-Qadhi Al-A'az Salamah Al-Uwairis seorang ketua pelaksana Dewan Konsiderasi dan Kehakiman, dai para dai Abdul Jabir bin Ismail bin Abdul Qowi, dan Wa'iz Zainuddin bin Naja. Ibnu Naja melaporkan mereka kepada sultan dan meminta padanya untuk memberikan kepadanya semua yang ada pada Ibnu Kamil Ad-Da'i berupa jabatan dan semua fasilitas. Permintaannya itu dikabulkan, kemudian orang-orang tersebut dikepung dan dihukum gantung. Shalahuddin mulai mengawasi setiap orang yang mempunyai ambisi terhadap Daulah Fathimiyah.
 
Beliau membunuh dan menahan banyak orang. Kepadanya disarankan untuk memberangkatkan seluruh pasukan dan pegawai istana serta panglima tentara Sudan ke wilayah dataran paling tinggi. Beliau menangkap seorang laki-laki bernama Qadid, salah seorang propagandis Daulah Fathimiyah di Alexandria pada hari Ahad, hari kelima belas di bulan Ramadhan.
 
Meskipun para pengkhianat yang telah mengadakan konspirasi telah dibunuh, tetapi orang-orang asing tetap datang sesuai dengan hasil korespondensi yang telah dilakukan di antara mereka sebelumnya.
 
Al-Maqrizi berkata, "Pada tahun itu, armada tentara asing mendarat secara tiba-tiba di Shaqaliah melalui pintu Alexandria pada akhir bulan Dzulhijah. Orang yang telah mempersiapkan armada ini adalah Ghalyalam bin Rajar, penguasa Shaqaliyah yang berkuasa pada tahun 560 H sesudah ayahnya. Ketika armada pasukan ini berlabuh di dermaga, mereka menurunkan seribu lima ratus kavaleri dari kapal-kapal perang mereka. Jumlah mereka adalah tiga puluh ribu prajurit, antara penunggang kuda dan pejalan kaki. Jumlah kapal yang mengangkut peralatan perang dan blockade adalah enam kapal, dan yang mengangkut perbekalan dan para personil adalah empat puluh kapal perang, mereka kira-kira berjumlah lima puluh ribu pejalan kaki.
 
Mereka berlabuh dekat mercusuar dan mereka menyerang kaum muslimin sampai mendesak mereka ke As-Sur. Jumlah kaum muslimin yang terbunuh sangat banyak. Kapal-kapal perang asing bergerak secara perlahan-lahan ke pelabuhan, sementara di sana terdapat kapal-kapal kaum muslimin, kemudian mereka menenggelamkannya. Mereka dapat menguasai darat dan membuat perkemahan di sana. Jumlah perkemahan mereka di darat mencapai tiga ratus kemah, mereka terus bergerak untuk mengepung seluruh negeri, dan mereka memasang tiga buah peralatan perang untuk menghancurkan benteng dan tiga buah katapel besar yang melontarkan batu hitam besar. Sultan Shalahuddin sedang berada di Faqus dan mendapat berita pada hari ketiga setelah orang-orang asing berlabuh. Dia mulai menyiapkan pasukan dan membuka pintu gerbang. Kaum muslimin menyerang orang-orang asing dan membakar peralatan perang mereka. Allah mendukung mereka dengan pertolongannya.
 
Orang-orang asing banyak terbunuh dan kaum muslimin merampas peralatan perang, barang-barang, dan persenjataan yang tidak mungkin dapat diperoleh kecuali dengan kerja keras melawan mereka. Sisa-sisa tentara asing kembali berangkat berlayar pada awal tahun tujuh puluh.
 
Tahukah Anda, berapa jumlah banyaknya pengkhianatan dari mereka? Seandainya Allah tidak memberikan nikmatnya kepada Shalahuddin dan orang-orangnya dan menolong mereka, tentu saja sebagaimana yang dikatakan oleh AlMaqrizi; akan semakin banyak susah payah, pengorbanan jiwa, dan darah yang mengalir. Semua ini, tidak lain adalah perbuatan dari orang-orang Syiah.
 
Belum lagi tahun 569 H berlalu dan datang tahun 570 H, orang-orang Syiah sudah merencanakan pengkhianatan lain, yaitu untuk mendirikan Daulah Fathimiyah dan membunuh Shalahuddin.
 
Al-Maqrizi berkata, "Pada tahun itu, Kanzuddaulah pemimpin Uswan mengumpulkan orang-orang Arab dan Sudan, menuju Kairo ingin mengembalikan Daulah Fathimiyah. Untuk mengumpulkannya mereka dia mengeluarkan uang yang sangat banyak. Ikut bergabung bersamanya orang-orang yang mempunyai ambisi yang sama, kemudian dia membunuh beberapa orang pejabat Shalahuddin.
 
Di desa Thud, muncul seorang laki-laki yang dikenal dengan nama Abbas bin Syadi, dia merebut negeri Qush dan merampas harta kekayaannya. Kemudian sultan Shalahuddin menyiapkan saudaranya raja Adil dengan pasukan yang besar, bersamanya pula Al-Khathir Muhadzdzib bin Mamati, kemudian dia berangkat dan memerangi Ibnu Syadi dan menghancurkan pasukannya serta membunuhnya. Setelah itu dia berangkat kembali dan bertemu dengan Kanzuddaulah di pinggiran kota Thud. Terjadilah peperangan di antara mereka berdua. Dalam peperangan tersebut, Kanzuddaulah melarikan diri setelah mengetahui banyak prajuritnya yang terbunuh. Akhirnya Kanzuddaulah terbunuh juga pada tanggal tujuh Shafar, dan raja Adil pun pergi ke Kairo.
 
Pengkhianatan ini bukan hanya sekadar berusaha membunuh Shalahuddin As-Sunni saja, yang telah melenyapkan Daulah Syiah di Mesir, tetapi juga akan membawa akibat yang timbul dari hal tersebut, yaitu semakin berbahayanya orang-orang asing di negara Syam. Ketika sultan Shalahuddin hendak mendatangi mereka, salah satu penghalang utamanya adalah pengkhianatan orang-orang Syi'ah kepadanya dalam kekuasaannya di Mesir.
 
Ibnu Katsir Rahimahullah berkata, "Tahun 570 H telah tiba dan sultan raja An-Nashir Shalahuddin bin Ayyub berkeinginan untuk masuk ke negara Syam guna melindunginya dari orang-orang asing, tetapi beliau ditimpa suatu permasalahan yang membuatnya mengenyampingkan keinginannya itu, yaitu bahwa orang-orang asing telah datang ke pesisir Mesir dengan armada perang yang belum pernah ada yang menandinginya dalam jumlah kapal perang, peralatan perang, dan blokade serta pasukan.
 
Salah satu yang juga menghalangi keberangkatan AnNashir ke Syam adalah seorang laki-laki yang dikenal dengan Al-Kanz. Sebagian orang-orang memanggilnya dengan Abbas bin Syadi, dia adalah salah seorang Mayor di wilayah-wilayah Mesir dan Daulah Fathimiyah. Dia dihubungkan dengan suatu negeri yang bernama Aswan, dia membuat orang-orang bergabung bersamanya. Maka bergabung bersamanya para rakyat jelata dari kota maupun dari desa. Dia menganggap bahwa dirinya dapat mengembalikan Daulah Fathimiyah dan melawan AI-Atabikah Turki....
 
Ketika negara telah kembali tenang dan tidak ada pemimpin dari Daulah Abidiyah (Fathimiyah) di sana, Shalahuddin muncul bersama pasukan Turki menuju negara Syam, yaitu ketika sultannya Nuruddin Mahmud bin Zanki wafat dan para penduduknya ditakut-takuti, dasar-dasarnya melemah dan para pemimpinnya berselisih. Tujuannya adalah menguatkan persatuan, berbuat baik kepada penduduknya, menolong Islam, melawan orang-orang zhalim, mengembalikan keagungan Al-Qur'an, melenyapkan semua agama "sesat" dan menghancurkan salib dalam keridhaan Allah yang Rahman serta memerangi setan.
 
Ketika memasuki Damaskus, beliau didatangi oleh para pejabat negara untuk berdamai dengannya, mereka melihatnya sangat baik, kemudian beliau segera berangkat ke Halab, karena telah terjadi kekacauan dan kerusuhan di sana. Beliau meminta saudaranya Thaghtakin bin Ayyub yang dijuluki dengan Saiful Islam untuk menjadi wakilnya di Damaskus. Ketika melewati Himash, beliau tinggal di sana dan tidak berusaha merebutnya. Kemudian beliau berangkat ke Hamat dan mengambilnya dari pemimpinnya Izzuddin bin Jibril lalu memintanya menjadi duta besarnya di antara dia dengan orang-orang Halab, dan dia memenuhi permintaannya.
 
Dia mendatangi mereka dan memperingatkan mereka atas nama Shalahuddin, tetapi mereka tidak memperdulikannya, bahkan memerintahkan untuk menahannya dan menangkapnya. Maka informasi kepada sultan menjadi terhambat, kemudian beliau mengirim surat kepada mereka, menyalahkan mereka atas terjadinya pertikaian dan tidak adanya persatuan, serta mengingatkan mereka dengan apa yang terjadi pada masanya, ayahnya, serta pamannya, ketika membantu Nuruddin dalam pengambilan beberapa keputusan yang baik yang disaksikan oleh para ahli agama. Kemudian beliau berangkat ke Halab dan berhenti di gunung Jausyan.
 
Di sinilah setan manusia merusak hati anak raja Nuruddin Mahmud dengan memprovokasi penduduk Halab untuk memerangi Shalahuddin. Itu dilakukannya dengan cara menunjuk para pemimpin senior. Para penduduk pun memenuhinya, karena keharusan bagi setiap orang untuk mematuhinya. Orang-orang Syiah memberi syarat kepadanya, yaitu; dengan mengembalikan kalimat "Hayya ala khairil amal" dalam adzan dan diumumkan di pasar-pasar, kemudian bagian sebelah timur masjid untuk mereka, nama-nama para imam dua belas harus disebutkan di sisi jenazah dan mereka bertakbir dalam shalat jenazah sebanyak lima kali, dan akad nikah mereka diserahkan kepada Syarif bin Abil Makarim Hamzah Al-Husaini.
 
Semua persyaratan mereka dipenuhi; semua masjid di seluruh negeri mengumandangkan adzan dangan "Hayya ala khairil amal." Para penduduk tidak mampu melawan AnNashir, dan mereka mengerahkan semua cara untuk menyerangnya. Pertama-tama mereka mengirimkan surat kepada Syaiban pemimpin Al-Hisbah, kemudian dikirimlah beberapa orang sahabatnya untuk membunuh An-Nashir, tetapi tidak berhasil sama sekali, akan tetapi mereka berhasil membunuh sebagian pejabat yang ada, kemudian muncul kembali yang lainnya dan mereka membunuh semuanya.
 
Pada saat itu, mereka mengirim surat kepada AlQaumash pemimpin Tharablus Al-Faranji dan menjanjikan padanya harta yang banyak apabila dia dapat membuat AnNashir pergi dari mereka. Al-Qaumash pernah ditahan oleh Nuruddin selama sepuluh tahun, kemudian dia menebus dirinya. Dia tidak akan melupakannya untuk Nuruddin...
 
"Pada tanggal empat belas Dzulhij ah tahun 571 H, beberapa orang Ismailiyah berusaha melawan sultan Shalahuddin, beliau dapat mengalahkan mereka setelah mereka melukai beberapa orang pemimpin dan pejabat.
 
Pada tahun 573 H, ketika sultan Shalahuddin keluar dari Kairo untuk memerangi orang-orang asing, beliau menuju Asqalan, kemudian menawan, merampas, dan membunuh. Kemudian pergi ke Ramallah dan orang-orang asing mengawasi mereka. Barnest Arnat penguasa Kurk datang pada mereka dengan pasukan yang besar. Kaum muslimin kalah dan sultan tetap bersama pasukan, kemudian beliau berperang dalam peperangan yang hebat. Beberapa orang mati terbunuh dan orang-orang asing mengambil barang bawaan kaum muslimin.
 
Dalam perjalanan mereka menuju Kairo, mereka merasa sangat kelelahan, bahkan beberapa orang dari mereka mati, begitu juga dengan hewan-hewan mereka. Orang-orang asing menahan beberapa orang, di antaranya adalah; Al-Faqih Dhiya`uddin Isa Al-Hakari. Sultan datang ke Kairo dan dia bersumpah bahwa dia tidak akan diserang penyakit sampai dia menghancurkan orang-orang asing, karena merekalah penyebab dari kekalahan ini.
 
Pada tahun 584 H, dua belas orang Syiah memberontak pada malam hari, mereka berteriak-teriak dengan mengatakan, "Wahai keturunan Ali! Wahai keturunan Ali." Mereka melewati jalan-jalan sambil berteriak seperti itu, karena mereka mengira para pejabat negara akan memenuhi ajakan mereka. Mereka melakukan itu untuk mengembalikan Daulah Fathimiyah, maka mereka mengeluarkan orang-orang yang ada di penjara dan menguasai negeri. Ketika tidak ada seorang pun yang mengikuti ajakan mereka, mereka bercerai-berai.
 
Inilah sebagian contoh-contoh pengkhianatan Syiah dan usaha mereka dalam usaha pembunuhan raja penolong Ahlu sunnah, Shalahuddin Rahimahullah. Mereka merencanakan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.

Nota: Petikan Buku Pengkhianatan-pengkhianatan Syiah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam (terjemahan), oleh Dr Imad Abdus Sami’ Husain, terbitan al-Kautsar
Posted on 8:52 AM / 0 comments / Read More

Popular Posts

Total Pageviews

Facebook

Blog Archive

Shout Box


ShoutMix chat widget

Followers

Copyright © 2011. SMART ZIKIR . Published by Ardisyam