Search This Blog

Pages

 
Showing posts with label menjawab liberal. Show all posts
Showing posts with label menjawab liberal. Show all posts

Thursday, August 9, 2012

Pluralisme dan Pluralitas

Pluralisme

Kebanyakan orang awam beranggapan secara simplisitis bahwa "pluralisme adalah toleransi" atau "pluralisme agama adalah toleransi agama". Yang menyedihkan, anggapan atau asumsi simplistik ini tidak hanya terbatas pada kalangan "awam" (yang memang tak terdidik secara akademis dalam bidang ini), tapi hatta kalangan para tokoh atau yang ditokohkan yang memang spesialisasi akademiknya di bidang ini pun tampak begitu over-confident dengan pemahamannya yang simplistik. 

Posted on 3:28 PM / 0 comments / Read More

Orang yang Bingung Berarti Kehilangan Islamnya

Hidayatullah.com, Damaskus--Kalau ada orang yang bingung antara mau menjadi "Liberal" atau menjadi "Teroris" berarti dia sudah kehilangan Islam dari dirinya. Orang seperti ini adalah korban perang pemikiran yang dilancarkan Dunia Barat sekular kepada Islam. Perang ini berusaha memaksa umat Islam untuk memilih antara harus menjadi Muslim "fundamentalis" atau menjadi Muslim "moderat" atau "liberal". "Fundamentalis" dianggap cenderung menjadi teroris, sedangkan "liberal" dianggap bisa hidup seenak syahwat layaknya bangsa Barat.
Posted on 3:27 PM / 0 comments / Read More

Liberalisasi Islam di Indonesia


Ide sekularisasi Islam di Indonesia pertama kali digulirkan oleh Nurcholish Madjid pada 3 Januari 1970. Idenya itu diadopsi dari pemikiran Harvey Cox dengan bukunya yang terkenal berjudul The Secular City. Nurcholish mungkin tidak menyadari bahwa apa yang ia lakukan adalah bagaikan membuka sebuah kotak pandora. Saat kotak itu terbuka, maka terjadilah peristiwa-peristiwa tragis yang susul-menyusul dan berlangsung secara liar, sulit dikendalikan lagi, hingga kini.

Posted on 3:26 PM / 0 comments / Read More

Tuesday, July 12, 2011

Membongkar Kebohongan & Penyesatan Buku ''Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi''



Waspadai buku “SEJARAH BERDARAH SEKTE SALAFI WAHABI: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama.” Buku yang diberi Kata Pengantar oleh Ketua PBNU, Prof KH Said Agil Siraj ini penuh dengan kesesatan, antara lain: menebar provokasi kebencian dan permusuhan sesama Muslim, mengajarkan rasisme, penuh kecurangan dan kebohongan, mempromosikan ajaran Syi’ah, memicu pertikaian besar sesama kaum Muslimin, terang-terangan mengajarkan prinsip-prinsip kesesatan, mengajarkan sikap kurang ajar kepada para Ulama, memakai metode intelijen untuk mengadu-domba umat Islam, dan mendukung serangan kaum Islamophobia terhadap dakwah.

Di tahun 2011 ini muncul sebuah kejutan khususnya di lapangan dakwah Islam di tanah Air, yaitu dengan terbitnya sebuah buku berjudul: “SEJARAH BERDARAH SEKTE SALAFI WAHABI: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama.” Buku ini karya orang Indonesia, tetapi disamarkan seolah penulisnya adalah orang Arab. Si penulis menyebut dirinya sebagai Syaikh Idahram, sebuah nama yang terasa asing di kancah dakwah.

Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” –selanjutnya disingkat dengan SBSSW– ini sangat berbahaya kalau tersebar luas ke tengah masyarakat. Dilihat dari judulnya saja, tampak sangar, provokatif, dan berpotensi menjerumuskan kaum Muslimin dalam pertikaian tanpa kesudahan. Buku SBSSW ini tidak layak diklaim sebagai buku ilmiah. Bisa dikatakan, buku ini adalah buku adu-domba, yang ditulis oleh orang Syiah dan Liberal, dalam rangka membenturkan sekelompok Ummat Islam dengan kelompok lainnya. Bahkan ia sudah masuk kategori buku Black Champaign.

Kita harus belajar dari kejadian-kejadian aktual di tengah masyarakat. Misalnya kerusuhan di Cikeusik Banten yang menimpa penganut Ahmadiyyah. Kerusuhan itu sudah direkayasa sedemikian rupa; disana telah dipersiapkan barisan provokator, penyerang bersenjata, pengambil gambar, korban, tukang upload video di internet, dll. Lalu pasca kejadian itu, dibuat rekayasa opini yang sangat keji melalui media-media TV. Dalam opini yang dikembangkan, digambarkan betapa beringas sikap aktivis Islam kepada kaum Ahmadiyyah. Padahal pihak Ahmadiyyah sendiri melalui pimpinannya (Deden) sejak awal sudah menginginkan terjadi kerusuhan di tempat tersebut. Akibat kerusuhan ini, para aktivis Liberal (baca: kaum non Muslim) berkoar-koar meminta supaya FPI dibubarkan. Kejadian itu mencerminkan skenario adu-domba, permusuhan, dan penyesatan opini. Kaum Liberal (non Muslim) yang kebanyakan adalah anak-cucu kaum PKI di tahun 1965 dulu, mereka selalu berada di balik aksi-aksi jahat untuk menghancurkan citra kaum Muslimin dan merusak persatuan Ummat. Di balik beredarnya buku SBSSW tercium aroma kuat modus serupa, berupa adu domba dan penyesatan opini. Semoga Allah Ta’ala mengekalkan laknat, kehancuran usaha, kesusahan hidup, serta kehinaan, atas kaum pendosa yang selalu memfitnah Islam dan kaum Muslimin itu. Amin Allahumma amin, ya ‘Aziz ya Jabbar ya Mutakabbir.

Buku ini bisa memicu banyak bahaya di tengah-tengah kehidupan kaum Muslimin. Disini kita akan membahas sisi-sisi bahaya tersebut, antara lain sebagai berikut:

1. Menebar provokasi kebencian dan permusuhan sesama Muslim

Buku ini memprovokasi masyarakat untuk membenci dan memusuhi apa yang oleh penulis disebut sebagai sekte Salafi Wahabi. Menyebarkan kebencian seperti itu jelas sangat dilarang dalam Islam.

Dalam hadits Nabi SAW bersabda, “Seorang Muslim itu saudara Muslim yang lain, tidak boleh menzhaliminya, membiarkannya dizhalimi, dan menghinanya. Taqwa itu di sini –kata Nabi sambil menunjuk ke dadanya tiga kali-. Cukuplah seseorang disebut berbuat jahat jika dia menghina saudara Muslimnya)” [HR. Muslim].

2. Mengajarkan rasisme yang sangat berbahaya

Buku ini mengandung ajaran-ajaran RASIS yang sangat berbahaya. Penulisnya mengajak Ummat Islam memusuhi negara Saudi, para ulamanya, kaum santrinya, serta Pemerintahannya. Selain itu penulis buku itu juga mengajak memusuhi siapa saja, di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, yang mendukung paham Wahabi.

Salah satu bukti sikap RASIS dari penulis buku ini ada di hal. 174. Disana dia mengatakan: “Tanduk setan itu berasal dari keturunan Bani Tamim. Sedangkan kita tahu bahwa, pendiri Salafi Wahabi itu juga berasal dari keturunan yang sama, yaitu Bani Tamim, sebagaimana gelar yang selalu dipakainya: Muhammad Ibnu Abdul Wahhab an Najdi at Tamimi. Jadi klop sudah. Bukan dibuat-buat.” (SBSSW, hal. 174). Dalam halaman yang cukup banyak penulis ini menghancurkan nama baik wilayah Najd, di Saudi. Salah satunya dia katakan: “Dari Najd timbul berbagai kegoncangan, fitnah-fitnah, dan dari sana munculnya tanduk setan.” (SBSSW, hal. 158).

Anehnya vonis “tanduk setan” terhadap Najd dan penduduknya ini tidak dilakukan, kecuali setelah di Najd bangkit dakwah Wahabi. Artinya, vonis itu mengandung niat busuk. Kalau misalnya wilayah Najd dianggap “tanduk setan”, seharusnya mereka sudah melontarkan vonis jauh-jauh hari sebelum muncul gerakan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Bahkan seharusnya, mereka dan Khilafah Utsmani di Turki tidak boleh marah ketika Najd direbut oleh keluarga Ibnu Saud. Ya buat apa marah, wong Najd sudah divonis sebagai “tanduk setan” kok? Malah mereka seharusnya bersyukur, ada manusia yang mau mengolah wilayah “tanduk setan” itu. Kalau melihat dendam kesumat kaum anti Wahabi, baik dari sisi kaum Alawiyyun atau kaum Syiah, masalah sebenarnya bukan ke persoalan Najd sebagai “tanduk setan.” Tetapi Najd yang semula dikuasai keluarga Syarif Hussein selama 700 tahun, lalu berpindah kekuasaan ke tangan Ibnu Saud. Itu sebenarnya masalah utama di balik munculnya hadits-hadits soal Najd sebagai “tanduk setan” ini. Bisa jadi, ketika 700 tahun Najd dikuasai keluarga Syarif, mereka tidak banyak menyinggung soal Najd sebagai “tanduk setan.”

Bukan hanya Bani Tamim atau penduduk Najd yang dilecehkan penulis, dia juga melecehkan orang Arab.

Dalam bukunya dia berkata: “Tidak semua orang Arab mengerti agama, bahkan banyak dari mereka yang ‘lebih dajjal’ daripada dajjal.” (SBSSW, hal. 224).

Padahal Nabi SAW menyebut bahwa puncak fitnah itu ada saat kedatangan dajjal. Bahkan kata beliau, para Nabi dan Rasul selalu mengingatkan ummatnya tentang dajjal ini. Lalu kini, si penulis menuduh banyak orang Arab ‘lebih dajjal’ dari dajjal sendiri. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Berarti dalam hal ini penulis merasa lebih pintar dari Nabi SAW? Masya Allah!! Banyak bukti-bukti sikap RASIS dari si penulis yang menyebut diri Syaikh Idahram ini. Dan sikap RASIS ini sudah menjadi ciri khas kaum Syiah dan penganut SEPILIS.

Para penganut Syiah di Indonesia banyak dari keturunan Arab Yaman (Hadramaut). Mereka itu orang Arab, atau keturunan Arab. Padahal dalam akidah Syiah, jika nanti turun Imam Al Mahdi Al Qaim, dia akan membabat habis bangsa Arab, hanya menyisakan kaum Persia. Begitu keyakinan mereka. (Mengapa Saya Keluar dari Syiah, karya Sayyid Hussein Al Musawi, hal. 134-135). Pemimpin FPI, Habib Rieziq Shihab, pernah menulis sebuah makalah ilmiah tentang karakter RASIS kaum Liberal.

3. Penuh kecurangan dan kebohongan

Buku ini penuh kecurangan dan kebohongan. Penulis secara sadar mengacaukan akal para pembaca dengan data-data, kutipan, referensi, dll. Tetapi semua itu tidak dituangkan dalam suatu pembahasan ilmiah secara jujur.

Contoh, ketika dia menyebutkan kekejaman kaum Wahabi di hal. 61-138, bab tentang, “Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama.” Disini yang diceritakan penulis hanya kekejaman, keganasan, kesadisan, serta angkara murka kaum Wahabi. Tetapi penulis tidak pernah sedikit pun mengakui bahwa semua itu merupakan bentuk KONFLIK POLITIK antara keluarga-keluarga Emir (bangsawan) di Jazirah Arab.

Konflik seperti itu sudah terjadi sejak lama di Jazirah Arab, bahkan sebelum Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dilahirkan oleh ibunya. Penulis ini juga hanya menghujat posisi Kerajaan Saudi, padahal yang melepaskan diri dari Khilafah Utsmani Turki bukan hanya Saudi. Disana ada Yaman, Bahrain, UEA, Qatar, Irak, Oman, Mesir, Yordania, Syria, dll. Kecurangan yang dibungkus kemasan ilmiah, tentu lebih berbahaya, sebab ia akan dikira sebagai kebenaran yang tak terbantahkan.


4. Mempromosikan ajaran Syi’ah

Buku ini juga mempromosikan ajaran-ajaran Syiah. Banyak indikasi-indikasi yang membuktikan hal itu dalam buku SBSSW. Nanti akan kita bahas secara khusus tentang akidah yang dianut penulis (Syaikh Idahram). Salah satu contoh kecil, sangat halus, tetapi kelihatan. Perhatikan kalimat berikut ini: “Pada bulan Safar 1221 H/1806 M, Saud menyerang an Najaf al Asyraf, namun hanya sampai di As Sur (pagar perlindungan). Meskipun gagal menguasai An Najaf, tetapi banyak penduduk tak berdosa mati terbunuh.” (SBSSW, hal. 104-105).

Tidak ada seorang pun Ahlus Sunnah yang menyebut Kota Najaf dengan sebutan Al Asyraf. Hanya orang Syiah yang melakukan hal itu.

Kota Najaf terletak di Irak, begitu pula Karbala. Sedangkan Kota Qum terletak di Iran. Kota Najaf, Karbala, dan Qum selama ini diklaim sebagai kota suci kaum Syiah. Sepanjang tahun kaum Syiah berziarah ke kota-kota itu karena disana ada situs-situs yang disucikan kaum Syiah. Selama ini kaum Muslimin mengenal Masjidil Haram di Makkah dengan sebutan Al Haram As Syarif. Namun kaum Syiah menyebut Kota Najaf dengan ungkapan Al Asyraf (artinya, lebih mulia atau paling mulia). Seolah, mereka ingin mengatakan, bahwa Najaf lebih mulia dari Kota Makkah. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.

Fakta lain yang menunjukkan bahwa si penulis berakidah Syiah adalah pernyataan berikut ini: “Dalam Islam, sedikitnya ada 7 mazhab yang pernah dikenal, yaitu: Mazhab Imam Ja’far ash Shadiq (Mazhab Ahlul Bait), Mazhab Imam Abu Hanifah an Nu’man, Mazhab Imam Malik bin Anas, Mazhab Imam Syafi’i, Mazhab Imam Ahmad ibnu Hanbal, Mazhab Syiah Imamiyah, dan Mazhab Daud azh Zhahiri. Sedangkan “Mazhab Salaf” tidak pernah ada! Sebab ulama Salaf itu banyak, termasuk di dalamnya imam-imam mazhab yang tadi.” (SBSSW, hal. 208).

Demi Allah, Ahlus Sunnah di seluruh dunia Islam tidak akan ada yang mengatakan perkataan seperti ini. Perkataan seperti ini hanya akan keluar dari lidah orang-orang Syiah (Rafidhah). Lihatlah, dalam perkataan ini dia mengklaim ada 7 madzhab dalam Islam, yaitu 4 madzhab Ahlus Sunnah, ditambah 2 madzhab Syiah (madzhab Ja’fari dan Imamiyyah) dan 1 madzhab Zhahiri. Pendapat yang masyhur di kalangan Ahlus Sunnah, madzhab fikih itu hanya ada 4 saja, yaitu madzhab Abu Hanifah (Hanafi), Imam Malik (Maliki), Imam Syafi’i (Syafi’i), dan madzhab Imam Ahmad (Hanbali). Kalau ada tambahan, paling madzhab Zhahiri. Itu pun tidak masyhur di kalangan Ahlus Sunnah. Lalu dalam buku SBSSW itu, si penulis Syiah berusaha membohongi kaum Muslimin, dengan mengatakan, bahwa dalam Islam ada sedikitnya 7 madzhab. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Bahkan madzhab Ja’fari dalam kalimat di atas disebut pada urutan pertama. Lebih busuk lagi, madzhab Syiah Imamiyyah yang merupakan salah satu sekte Syiah paling ekstrem, disebut sebagai madzhab Islam juga. Allahu Akbar!

Kalimat di atas juga mengandung kebodohan yang sangat telanjang. Coba perhatikan kalimat berikut ini: Sedangkan “Mazhab Salaf” tidak pernah ada! Sebab ulama Salaf itu banyak, termasuk di dalamnya imam-imam mazhab yang tadi. (SBSSW, hal. 208). Kalimat seperti ini hanya mungkin dikatakan oleh orang gila. Bayangkan, si penulis secara tegas mengklaim, bahwa madzhab Salaf itu tidak ada. Tetapi pada kalimat yang sama, dia mengakui bahwa imam-imam madzhab (seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, dan Imam Ahmad), termasuk bagian dari ulama Salaf. Si penulis bermaksud mementahkan eksistensi madzhab Salaf, tetapi saat yang sama dia mengakui bahwa imam-imam madzhab itu termasuk imam madzhab Salaf. Kalau dia jujur ingin mengatakan, bahwa madzhab Salaf tidak ada, berarti madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, atau Hanbali juga tidak ada. Ya bagaimana lagi, wong mereka itu imam-imam Salaf kok. Si penulis itu mengakui, bahwa mereka adalah imam-imam Salaf.

Sangat disayangkan dalam hal ini, KH. Ma’ruf Amin, salah satu Ketua MUI, ikut mendukung buku ini. Padahal MUI sendiri pada tahun 1984 pernah mengeluarkan fatwa yang menjelaskan pokok-pokok kesesatan paham Syiah menurut Ahlus Sunnah, kemudian MUI meminta Ummat Islam mewaspadai sekte ini. (Lihat situs voa-islam.com, tentang tersebarnya fatwa palsu MUI tentang Syiah yang ditulis anggota MUI, Prof. Dr. Umar Shihab. Fatwa itu mengklaim bahwa paham Syiah tidak sesat menurut MUI. Lalu redaksi voa-islam.com mencantumkan fatwa MUI asli yang dikeluarkan tahun 1984, tentang aspek-aspek kesesatan Syiah).

Bahkan KH. Ma’ruf Amin pernah diminta MUI untuk mengkaji tentang haramnya Nikah Mut’ah di kalangan Syi’ah. (Lihat Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, karya Ustadz Hartono Ahmad Jaiz, hal. 144. Jakarta, Pustaka Al Kautsar, tahun 2006).

Seharusnya beliau membaca secara teliti buku SBSSW itu, sebelum mempromosikannya ke tengah masyarakat. Kalau ingin membantah KH. Ma’ruf Amin ini, kita merasa tidak enak, sebab beliau termasuk ulama sepuh di negeri kita. Tetapi kalau melihat keterlibatan beliau dalam mendukung buku SBSSW itu, kita sangat menyesalinya. Bisakah disini dikatakan bahwa KH. Ma’ruf Amin ikut mendukung paham Syiah? Wallahu A’lam bisshawaab. Semoga saja dukungan KH. Ma’ruf Amin ini hanyalah merupakan ketergelinciran seorang alim dan semoga ia segera dihapus dengan pernyataan bara’ah (berlepas diri dari buku SBSSW itu). Kalau beliau tidak melakukannya, secara pribadi saya akan menyebut beliau sebagai pendukung Syiah dan SEPILIS. Siapapun yang terlibat mempromosikan ajaran sesat (Syiah dan SEPILIS) tidak layak didoakan mendapat khusnul khatimah, karena promosi seperti itu bisa membuat ribuan kaum Muslimin mati dalam keadaan su’ul khatimah. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

5. Pemicu pertikaian besar sesama kaum Muslimin

Buku ini bisa memicu pertikaian besar di tengah kaum Muslimin. Mengapa dikatakan demikian? Sebab sang penulis tidak mengidentifikasi kaum Wahabi dengan ciri-ciri yang jelas. Dengan sendirinya masyarakat akan bingung memahami, Wahabi itu apa dan bagaimana? Perlu diketahui, yang mengajarkan Tauhid, Sunnah, ilmu, dan dakwah, bukan hanya dakwah Wahabi. Jamaah-jamaah Islam yang lain juga mengajarkan hal itu.

Contoh, gerakan Ikhwanul Muslimin. Manhaj gerakan ini merujuk kepada Ushulul Isyrin (prinsip 20) yang diajarkan Syaikh Hasan Al Bana rahimahullah. Dalam prinsip itu juga diajarkan tentang pentingnya Tauhid, buruknya syirik; pentingnya Sunnah, buruknya bid’ah. Bahkan ormas Islam seperti Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, Dewan Dakwah (DDII), Pesantren Hidayatullah, Wahdah Islamiyyah, dll. juga mengajarkan Tauhid, Sunnah, ilmu, dan dakwah. Begitu pula Majelis Mujahidin, Jamaah Ansharut Tauhiid, dan yayasan-yayasan dakwah Salafi. Jika masyarakat salah paham, mereka akan menyangka bahwa semua organisasi, lembaga, atau yayasan itu harus dibenci dan dimusuhi, karena mereka dianggap Wahabi.

6. Terang-terangan mengajarkan prinsip-prinsip kesesatan

Buku ini secara jelas telah mengajarkan prinsip-prinsip KESESATAN secara telanjang. Disini akan disebutkan beberapa pernyataan penulis. Coba perhatikan kalimat berikut ini: “Sesungguhnya Salaf tidak pernah sama dalam memahami berbagai masalah agama yang begitu komplek.” (SBSSW, hal. 201). Ini adalah jenis KESESATAN BESAR. Kalimat ini jelas meniadakan Al Ijma’ di kalangan para Shahabat, Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in. Padahal para ulama sudah sepakat, kalau suatu urusan telah menjadi ijma’ (konsensus) mayoritas Shahabat, hal itu menjadi dasar hukum yang kuat. Misalnya ijma’ Shahabat dalam memilih empat Khalifah (Abu Bakar Ra, Umar Ra, Utsman Ra, dan ‘Ali Ra) sebagai pemimpin Ummat. Ijma’ ini tidak diragukan lagi. Begitu pula ijma’ mereka dalam Jihad Fi Sabilillah, penulisan Mushaf Al Qur’an, menyatukan bacaan Al Qur’an, Shalat berjamaah di masjid, Shalat ‘Ied, Shalat Istisqa’, menyelenggarakan Zakat, Shaum Ramadhan, manasik Haji, dll. Apa saja yang dilakukan secara jama’i oleh Shahabat Ra, dan tidak ada pengingkaran mereka atas hal itu, ia adalah Ijma’ Shahabat.

Kalau dikatakan Salaf tidak pernah sama dalam segala masalah agama, otomatis mereka selalu berselisih dan berselisih. Disini mengandung dua tuduhan dahsyat. Pertama, penulis itu telah menuduh para Shahabat Ra bermental buruk, sehingga sulit menyatukan kalam.

Di mata kaum Syiah, mencela, menghina, atau merendahkan para Shahabat Ra bukan sesuatu yang aneh. Bahkan melaknat para Shahabat itu telah menjadi amal shalih tersendiri. Na’udzbillah min dzalik.

Mereka selalu berpecah-belah, tak pernah bersatu. Kedua, penulis juga menuduh ajaran Islam sebagai biang perpecahan. Padahal secara hakiki, Islam mengajarkan prinsip Al Jamaah, yaitu persatuan Ummat. Bahkan ada ulama yang mengatakan, perpecahan adalah qurrata a’yun-nya syaitan. Karena syaitan sangat berkepentingan terhadap perpecahan Ummat

Kemudian, perhatikan kalimat berikut ini, “Siapa saja yang ahli atau telah memenuhi syarat dalam memahami teks-teks agama, dia berhak atas hal itu, tidak wajib mengikuti pemahaman Salaf seperti yang disangkakan Salafi Wahabi.” (SBSSW, hal. 205). Lihatlah betapa beraninya ucapan penulis ini! Dia begitu meremehkan kaum Salaf, dan merasa dirinya setara dengan Salaf. Innalillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Sudah masyhur tentang kisah Imam Malik rahimahullah. Beliau pernah ditanya 40 pertanyaan, dan sebagian besar pertanyaan itu dijawab dengan kalimat, “Laa ad-riy” (aku tidak tahu). Hanya satu pertanyaan yang beliau jawab. Lihatlah, betapa sangat hati-hatinya Imam Malik dalam berfatwa. Padahal siapa yang meragukan pengetahuan beliau tentang Islam? Ajaran yang menyuruh Ummat Islam mengikuti jejak Salafus Shalih, bukanlah monopoli kaum Wahabi. Hal itu disebutkan dalam Al Qur’an, Surat At Taubah ayat 100:

“Dan orang-orang yang mula pertama masuk Islam, dari kalangan kaum Muhajirin dan kaum Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan, Allah ridha kepada mereka, dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah telah menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan besar.”

Disini ada kalimat “walladzinat taba’uu hum bil ihsan” (dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan). Ini adalah dalil qath-iy tentang pentingnya mengikuti jejak Salafus Shalih (para Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in).

Lucunya, si penulis dalam bukunya ternyata getol mengikuti konsep keilmuwan yang ditinggalkan para Salaf, setidaknya dalam soal riwayat hadits-hadits. Bisa dikatakan disini, “Tanpa peranan generasi Salaf, kita hari ini tidak akan memiliki ilmu apapun.”

Di halaman lain penulis SBSSW berkata: “Bagaimana mungkin mereka mengharuskan kita mengikuti madzhab Salaf, kalau namanya saja tidak ada? Sebab tidak pernah ada dan tidak pernah dikenal dalam sejarah peradaban umat Islam, apa yang dinamakan madzhab Salaf.” (SBSSW, hal. 207-208). Ini adalah puncak kebodohan si penulis. Memang dalam Al Qur’an atau As Sunnah, tidak disebutkan secara eksplisit “madzhab Salaf.” Tetapi kaum Salaf itu ada dan nyata. Kaum Salaf adalah para Shahabat Nabi, Khulafaur Rasyidin, Ahlul Bait Nabi, kaum Muhajirin, kaum Anshar, peserta Perang Badar, peserta Bai’at Ridhwan, dll. Begitu pula Imam madzhab fiqih, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam Ahmad bin Hanbal; para imam ahli hadits, seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ibnu Majah, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i, Imam Baihaqi, Imam Ibnu Khuzaimah, Imam Ad Darimi, dll. Semua itu adalah kaum Salaf. Mereka ada dan nyata. Hanya orang-orang pandir yang akan mengingkari mereka.

Kita tidak perlu mencari-cari sebutan “madzhab Salaf” untuk mengikuti jejak mereka. Adanya eksistensi kaum Salaf yang merupakan generasi terbaik Ummat ini, itu sudah menunjukkan adanya manhaj Salaf. Seperti pernyataan kaum Badui yang masih bersih fithrah ketika ditanya tentang eksistensi Allah. “Adanya jejak kaki dan kotoran hewan, bisa menunjukkan adanya kafilah yang melintasi padang pasir. Begitu pula, adanya bintang-bintang di langit menunjukkan adanya Sang Pencipta alam semesta.” Adanya suatu kaum yang memiliki sifat-sifat tertentu, hal itu sudah membuktikan adanya manhaj kaum tersebut. Kalau kemudian manhaj Salaf hendak dibuang, jelas akan bubar agama ini. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Bagaimana bisa kita memahami Islam, tanpa metode yang dicontohkan kaum Salaf? Adapun bentuk mengikuti manhaj Salaf itu secara kongkritnya ialah mengikuti dan melestarikan kaidah-kaidah ilmiyah yang diwariskan kaum Salaf di bidang Al Qur’an, Tafsir, ilmu Hadits, Akidah, Fiqih, Ibadah, hukum Haad, Siyasah, Suluk, ilmu bahasa, sastra Arab, dll. Sejauh kita beragama mengikuti kaidah-kaidah ilmiah itu, berarti kita telah mengikuti Salaf. Dan kaidah-kaidah inilah yang selama ini hendak dihancurkan oleh para penganut SEPILIS.

7. Kurang ajar kepada para Ulama

Buku ini mengajarkan sikap kurang ajar kepada para ulama yang telah diakui oleh Ummat. Perilaku seperti ini sudah khas menjadi ciri kaum Syiah dan SEPILIS. Mereka tidak segan-segan menyerang Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Bukhari, Az Zuhri, bahkan melecehkan para Shahabat Ra. Salah satu bukti sikap kurang ajar ke ulama ialah perkataan penulis berikut ini: “Menurut hemat penulis, dalam masalah ini (yaitu soal apakah Al Qur’an itu makhluk atau bukan –pen.), Imam Ahmad lah yang keliru. Sebab Allah SWT secara terang berfirman dalam Al Qur’an, ‘Ma ya’tihim min dzikrin min robbihim muhdatsin’ (tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Qur’an pun yang muhdats/baru dari Tuhan mereka).” [QS. Al Anbiya’: 2].

Lihat, betapa lancangnya si penulis dalam membantah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah! Dia merasa lebih pandai dari Imam Ahmad. Masya Allah.

Dengan berdalil memakai surat Al Anbiya’ ayat 2 ini, penulis hendak mematahkan akidah Imam Ahmad bin Hanbal, bahwa Al Qur’an itu Kalamullah, bukan muhdats (ciptaan baru). Menurut si penulis, Al Qur’an itu ciptaan baru alias makhluk. Namun sangat curangnya, dia memotong kelanjutan dari ayat tersebut. Kelanjutannya adalah, “Illa istama’uhu wa hum yal’abuun” (melainkan mereka mendengarkan, namun dengan main-main). Jadi yang dimaksud dalam Surat Al Anbiya’ ayat 2 itu ialah celaan terhadap sikap buruk orang musyrikin, tatkala datang ayat-ayat Allah yang baru (karena memang Al Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur), mereka mendengarkan tetapi sambil bermain-main. Ayat ini berkaitan dengan kelakuan orang musyrik, bukan dalil bahwa Al Qur’an itu makhluk. Kalau tidak percaya, silakan Pembaca periksa sendiri ayat tersebut menurut versi terjemahan paling popluler di Indonesia, yaitu Departemen Agama RI. Ulama akidah menjelaskan, bahwa keyakinan ‘Al Qur’an itu makhluk’, apabila didasari pengetahuan dan kesengajaan, akan membuat kafir pelakunya. Sebab dengan keyakinan itu mereka hendak menyamakan Al Qur’an dengan makhluk, yang tentu di siksi makhluk terdapat banyak kelemahan dan kesalahan. Siapapun yang meyakini demikian, berarti dia telah kufur kepada Al Qur’an. Padahal salah satu syarat keimanan adalah at tashdiqu bil qalbi (pembenaran dengan hati). Kalau hatinya sudah kufur kepada Al Qur’an, otomatis imannya pun gugur. Maka orang-orang Syiah yang meyakini bahwa Al Qur’an telah diubah-ubah oleh para Shahabat Nabi Saw termasuk ke golongan gugur iman itu. Na’udzubillah minal kufri.

Di sisi lain, penulis ini dengan sangat lancang mengatakan: “Jadi benar apa yang disangkakan selama ini, bahwa ternyata Salaf yang mereka maksud, tidak lain dan tidak bukan, adalah Ibnu Taimiyah dan CS-nya.” (SBSSW, hal. 220). Begitu juga: “Sudah jelaslah, siapakah sebenarnya yang mereka ikuti, yakni Ibnu Taimiyah, Ibnu Abdul Wahab dan CS-nya, yang mereka klaim sebagai ‘Salaf’.” (SBSSW, hal. 222). Menyebut ulama besar dengan kata “CS-nya” bukanlah adab manusia terpelajar. Ia hanya pantas dilakukan manusia-manusia otak kotor. Lebih buuk lagi si penulis mengatakan: “Begitu juga dengan Muhammad bin Abdul Wahhab, tokoh pendiri Wahabi –sosok temperamental dan kejam yang telah membunuhi ribuan umat Islam semasa hidupnya-, hampir semua ulama yang hidup sezaman dengannya menganggap ajarannya sesat.” (SBSSW, hal. 223).

Jahatnya, si penulis sama sekali tidak pernah bisa membuktikan, bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab telah membunuh manusia, apalagi sampai ribuan manusia. Itu tak ada bukti valid yang bisa dipegang.

Penulis ini tentu saja tidak segan melecehkan ulama-ulama besar lain, seperti Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Al Albani, Syaikh Ibnu Jibrin, Syaikh Shalih Fauzan, bahkan melecehkan dewan fatwa Saudi, Lajnah Da’imah. Kalau sudah begini, apalagi yang bisa diharapkan dari penulis ini? Masih adakah kebaikan disana?

8. Memakai metode intelijen untuk mengadu-domba umat Islam

Dalam mengkritik gerakan dan paham Wahabi, penulis jelas-jelas menggunakan metode TAJASSUS alias mencari-cari kesalahan. Cara demikian biasanya dilakukan kalangan intelijen anti Islam, untuk mengadu-domba Ummat. Metode tajassus bukan metode ilmiah, tetapi termasuk metode khianat dalam ilmu. Metode tajassus pertama kali dikembangkan oleh Fir’aun dan Bani Israil, ketika mereka selalu mencari-cari kesalahan Musa As. Bahkan tajassus itu termasuk perbuatan haram. Dalam Al Qur’an disebutkan, “Wa laa tajas-sasuu” (dan janganlah kalian saling mencari-cari kesalahan). [Al Hujuraat: 12].

Di hadapan sikap tajassus, tidak ada seorang manusia pun yang selamat dari kesalahan. Namanya juga mencari-cari kesalahan; kalau tidak ketemu, ya dipaksakan agar tetap ada kesalahan. Dalam buku SBSSW itu penulis menyebut fatwa Syaikh Bin Baz tentang “bumi tidak berputar.” Di antara sekian banyak fatwa-fatwa Syaikh Bin Baz yang bermanfaat, sehingga Dr. Yusuf Al Qaradhawi pernah menyebut beliau sebagai Al Imamul Jazirah, ternyata oleh penulis diambil fatwa tentang “bumi tidak berputar ini” (hal. 220-221). Begitu pula penulis ini menyebut pendapat Ibnu Taimiyyah yang ganjil tentang “siksa neraka untuk orang kafir tidak kekal” (hal. 184). Pendapat-pendapat seperti ini bukan pendapat utama mereka. Ia adalah pendapat “recehan” di sisi sedemikian banyak pendapat-pendapat mereka yang berkualitas. Tetapi karena memang dasarnya benci, apapun kesalahan yang dijumpai akan dipakai untuk menyerang.

Salah satu yang lucu ialah ketika si penulis mengutip pandangan Dr. Said Ramadhan Al Buthi dalam bukunya, As Salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah Laa Madzhab Islami. (SBSSW, hal. 27). Dengan dasar buku ini dia menuduh ulama-ulama Wahabi tidak mengikuti madzhab apapun. Padahal para ahli-ahli Islam sudah mafhum, bahwa ulama-ulama Saudi, termasuk Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, bahkan Ibnu Taimiyyah rahimahullah, mereka itu pengikut madzhab Imam Ahmad bin Hanbal. Ini sangat nyata dan jelas.

Dalam soal “Al Qur’an adalah Kalamullah” jelas-jelas mereka mengikuti akidah Imam Ahmad. Begitu pula Bahkan Syaikh Al Albani rahimahullah telah menyusun kitab Al Irwa’ul Ghalil, sebanyak total 9 jilid. Kitab ini berisi takhrij hadits-hadits yang termuat dalam kitab Manarus Sabil yang menjadi pegangan fiqih madzhab Hanbali. Ulama-ulama Wahabi pun giat memberikan syarah terhadap kitab Aqidah Thahawiyyah, yang bersumber dari akidah Imam Abu Hanifah rahimahullah. Dan begitu bencinya penulis ini kepada Wahabi, sampai dia menulis: “Pembagian tauhid semacam itu tidak terdapat juga di dalam karya murid-murid Imam Ahmad bin Hanbal yang terkenal seperti Ibnu Al Jauzi dan Al Hafizh Ibnu Katsir.” (SBSSW, hal. 236).

Kalau dunia ilmiah sudah dimasuki metode tajassus ini, hasilnya hanyalah kerusakan, dendam, dan kesesatan. Tidak ada kebaikan dari metode yang dibangun di atas cara haram. Bukankah tajassus diharamkan dalam Al Qur’an?

9. Penulisnya tertimpa penyakit Gila

Penulis ini (Idahram) termasuk orang-orang yang sudah tertimpa penyakit “gila.” Di dalam bukunya ini tercampur-baur berbagai macam pemikiran, akidah, fitnah, kebohongan, dendam kesumat, kecurangan, dan sebagainya. Bahkan di dalamnya terdapat banyak kontradiksi-kontradiksi.

Contohnya, perhatikan kalimat berikut ini: “Kita harus melepaskan pemahaman-pemahaman tersebut dan kembali kepada Al Qur’an, Sunnah Rasul SAW, dan ilmu bahasa Arab sebagai alatnya. Lalu, kita pakai otak kita untuk memahami dan menelaah perkara-perkara yang diperselisihkan tersebut, sehingga akan jelas bagi kita saat itu, mana pendapat yang benar dan mana yang salah di antara mereka. Kita kembali kepada pemahaman kita, bukan kepada pemahaman Salaf.” (SBSSW, hal. 211).

Lihatlah betapa beraninya penulis dalam meninggikan otaknya di atas ilmu para Salaf yang mulia. Kemudian baca kalimat berikut ini: “Sebab, jika semua orang Arab ‘berhak’ untuk menafsirkan Al Qur’an sekehendak hatinya, tanpa mengerti rambu-rambunya, dan boleh berijtihad tanpa keahlian yang dia miliki, maka semua orang Arab menjadi ulama. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Tidak semua orang Arab mengerti agama, bahkan banyak dari mereka yang ‘lebih dajjal’ daripada dajjal. Itulah sebabnya, kenapa tidak sembarang orang boleh berijtihad dan mengeluarkan fatwa.” (SBSSW, hal. 224).

Dua kutipan ini tentu sangat mencengangkan; satu sisi memberi kebebasan penuh kepada akal untuk mencerna perselisihan-perselisihan agama; di sisi lain tidak boleh sembarangan memahami agama dengan akal sendiri. Padahal jarak antara kalimat pertama dan kedua hanya beberapa halaman saja.

Kegilaan itu merata dalam buku si penulis. Ketika dia membahas hadits-hadits tentang Najd, dia mengklaim bahwa Najd adalah tempatnya fitnah, tempatnya puncak kekafiran, tempatnya “tanduk setan.” Tetapi ketika membahas tentang kekejaman kaum Wahabi (seperti yang dituduhkan penulis), dia menyebutkan kota-kota di Najd yang menjadi sasaran keganasan kaum Wahabi, seperti Thaif, Qashim, Ahsa, Uyainah, Riyadh, Syammar, dan lainnya. (Lihat SBSSW, hal. 77-106).

10. Mendukung serangan kaum Islamophobia terhadap dakwah


Dan terakhir, di antara bahaya terbesar di balik tersebarnya buku ini, adalah suatu kenyataan, bahwa Wahabi hanya merupakan SASARAN KESEKIAN dari serangan orang-orang ini. Serangan ini merupakan satu agenda, di samping agenda-agenda serangan lain.

Tentu kita masih ingat munculnya buku, “Ilusi Negara Islam.” Di sana gerakan-gerakan dakwah Islam internasional juga mendapatkan stigmatisasi, dengan label “gerakan transnasional.” Tujuannya, agar masyarakat Indonesia membenci gerakan-gerakan dakwah dari luar negeri itu.

Kita menyadari, kaum Syiah, penganut SEPILIS, Yahudi-Nashrani, orientalis Barat, aliran-aliran sesat, mereka sudah sepakat untuk menghancurkan fondasi ajaran Islam dari dasar-dasarnya. Siang malam mereka berjuang untuk merealisasikan tujuan penghancuran Akidah, Syariat, dan Peradaban Islam. Seperti LSM SETARA Institute.

Adalah sangat ajaib ketika Said Agil Siraj, Ketua PBNU, memberikan dukungan terbuka terhadap buku SBSSW ini. Apa tujuannya? Apakah ingin menghancurkan dakwah Islam, ilmu Syariat, merusak persatuan Ummat, dan mencerai-beraikan proyek-proyek pembangunan Islam selama ini? Di mana kualitas intelektualitas seorang Said Agil Siraj sebagai “profesor doktor” dan Ketua PBNU? Tidak ingatkah Said Agil Siraj bahwa dia mendapat gelar doktor setelah menamatkan studi di Universitas Ummul Qura’, yang dikelola kaum Wahabi?

Kalau kata orang Jawa Timur, “Yo, sing nduwe isin-lah, Pak!” Anda sudah kenyang mendapat fasilitas dari kaum Wahabi, bahkan anak-anak Anda lahir di bawah kemurahan kaum Wahabi, lalu kini Anda ikut menyerang paham Wahabi dengan membabi-buta. Apakah dulu di pesantren Anda tidak diajari pelajaran adab seorang Muslim?

Kalau membaca buku SBSSW itu, saya yakin bahwa posisi Said Agil Siraj ini –semoga Allah membalas perbuatannya secara adil dan menjadi ibrah besar bagi kaum Muslimin di Nusantara- bukan hanya sebagai pemberi kata pengantar. Saya yakin, Said Agil Siraj terlibat langsung di balik proyek penerbitan buku-buku propaganda ini.

Menurut Ustadz Hartono Ahmad Jaiz, sosok Said Agil Siraj ini pernah dikafirkan oleh 12 orang kyai. Ada pula yang melayangkan surat ke Universitas Ummul Qura, meminta supaya mereka mencabut gelar doktor Said Agil. (50 Tokoh Islam Liberal Indonesia, karya Budi Handrianto, hal. 160. Jakarta, Pustaka Al Kautsar, 2007).

Demikianlah sekilas pandangan tentang buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi,” karya Syaikh Idahram. Buku ini andaikan ditulis dengan semangat kejujuran, metode ilmiah Islami, serta upaya melakukan koreksi terhadap sesama Muslim, dalam rangka memperbaiki kehidupan Ummat; tentu upaya itu akan disambut dengan rasa syukur. Sekurangnya, ia akan dipandang sebagai sumbangan ilmiah berharga. Tetapi dengan performa judul, metode penulisan, serta sekian banyak kecurangan yang dilakukan penulis; tidak diragukan lagi bahwa buku SBSSW itu ditujukan untuk merusak kehidupan kaum Muslimin.

Secara pribadi saya menghimbau agar para ahli-ahli Islam segera “turun tangan” untuk membuat analisis obyektif atas buku SBSSW itu. Kemudian hasilnya, silakan sampaikan kepada khalayak kaum Muslimin. Saya sendiri berpandangan, buku ini sangat berbahaya, dan sudah selayaknya di-black list, atau ditarik dari peredaran.

Akhirul kalam, semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala selalu merahmati kaum Muslimin di negeri ini, menolong mereka atas segala prahara berat yang menimpa, menyantuni mereka atas segala konspirasi jahat yang dilontarkan musuh-musuh Islam, serta meluaskan hidayah ke seluruh sudut negeri, agar lebih banyak manusia yang hidup di atas keshalihan; bukan di atas khianat, kedengkian, dan permusuhan terhadap Islam. Allahumma amin. Wallahu a’lamu bis-shawab. 

Oleh: AM. Waskito
Posted on 9:08 AM / 0 comments / Read More

Thursday, May 26, 2011

Prangkap Istilah: Liberal dan Fundamentalisme

Beberapa waktu lalu, seorang doktor bidang sosiologi agama dari Jepang datang kepada saya. Ia bermaksud melakukan penelitian tentang umat Islam di Indonesia. Kata dia, banyak orang salah paham tentang kelompok Islam Fudamentalis di Indonesia. Karena itulah, dia ingin meluruskannya.

Menurutnya, dia punya banyak teman Islam Fundamentalis di Indonesia, yang tidak seperti dipahami oleh para peneliti Barat. Ia menceritakan, ada seorang dosen di sebuah universitas di Barat yang mempunyai tolok ukur dalam menentukan, apakah seorang Muslim pro kepada demokrasi atau tidak, yaitu bagaimana sikapnya terhadap pornografi. Jika orang Muslim masih menolak pornografi, maka berarti dia tidak demokratis. Walhasil, peneliti asal Jepang ini tampaknya simpatik terhadap Islam dan ingin meluruskan kesalahpahaman orang-orang Barat dan Jepang terhadap Islam.

Sayangnya, sebagaimana banyak peneliti sosial lainnya, si peneliti ini juga telah terjebak kepada kerangka kajian (framework) Barat dalam meneliti masyarakat Islam. Dia, misalnya, sudah terjebak dalam pola pikir dikotomis, membagi masyarakat Islam Indonesia menjadi dua bagian besar, yaitu Islam Liberal dan Islam Fundamentalis.

Ketika dia meminta saya menulis satu artikel untuk bahan penelitiannya, saya katakan padanya, bahwa saya bukan liberal dan bukan fundamentalis. Saya Islam. Tidak pakai embel-embel. Dia kebingungan. Dan akhirnya, saya menolak untuk menulis sesuatu untuk penelitiannya, karena dia sudah memasang perangkap untuk penelitiannya, bahwa seorang Muslim dipaksa untuk memilih tempat, liberal atau fundamentalis.

Itulah contoh para peneliti masyarakat Muslim yang terjebak dalam framework Barat dalam melakukan penelitian terhadap masyarakat Muslim. Padahal, Islam memiliki konsep dan istilah sendiri dalam meneliti masyarakat Muslim. Islam mengenal istilah mukmin, kafir, fasik, munafik, dan sebagainya. Harusnya, istilah-istilah itu yang digunakan ketika meneliti masyarakat Muslim. Tapi, karena framework Barat yang digunakan, maka istilah dan makna yang dihasilkan pun berbeda.

Misalkan, dalam masyarakat Islam dikenal konsep dan istilah fasik. Dalam konsep Islam, orang fasik tidak boleh didengar begitu saja ucapan dan kesaksiannya (QS. Al Hujuraat : 6). Ada istilah kafir, yang juga memiliki konsekuensi dalam hubungan sosial, baik dalam soal perkawinan, waris, makanan, kekeluargaan, dan sebagainya. Dalam konsep sosial Barat, tidak dikenal konsep dan istilah fasik, sebab bagi masyarakat Barat yang sekular, orang tetap dihormati oleh masyarakat, meskipun tidak pernah menjalankan aturan agamanya. Banyak ilmuan Barat yang tetap dipuja dan dihormati meskipun tidak pernah menyembah Tuhan dan rajin berzina.

Konsep mayarakat seperti ini sangat berbeda dengan Islam, yang menjadikan ilmu dan amal serta akhlak sebagai pedoman untuk menilai seseorang. Sepandai apapun seseorang jika akhlaknya bejat, maka ia tidak boleh ditempatkan sebagai seorang yang terhormat dalam masyarakat Islam, karena dia berlaku fasik. Karena itulah, para ulama Islam dikenal sebagai orang yang tinggi ilmunya sekaligus sangat tinggi tingkat ibadah dan akhlaknya.

Konsep mayarakat Islam seperti ini sangat berbeda dengan konsep masyarakat Barat, sehingga para ilmuan sosiologi agama seharusnya tidak menggunakan framework Barat saat mengkaji masyarakat Islam. Kita misalnya, juga tidak bisa menggunakan istilah-istilah Islam untuk diterapkan pada kaum non-Islam. Kita tidak bisa menyebut bahwa George W. Bush seorang Kristen yang mukmin, shalih, muttaqin, atau seorang Kristen-salafi. Andaikan George W. Bush mati dalam perang di Irak, tidaklah patut dia diberi gelar syahid. Untuk kaum Kristen, seperti Bush, bisa digunakan istilah-istilah khas dalam masyarakat Kristen, seperti Kristen Fundamentalis, Kristen Konservatif, Kristen Kanan, dan sebagainya.

Tahun 2006 lalu, Litbang Departemen Agama mengadakan penelitian tentang perkembangan paham-paham liberal keagamaan di Indonesia. Sayangnya para peneliti Litbang Depag ini juga menggunakan framework Barat yang dikotomis, yakni membagi umat Islam menjadi dua kelompok, Islam Liberal dengan Islam Fundamentalis atau Konservatif dan sebagainya. Misalnya, peneliti depag yang meneliti paham keagamaan liberal di lingkungan UIN Jakarta, menulis "Gagasan-gagasan keislaman liberal tentunya sangat berbeada dengan pemahaman keislaman kaum fundamentalis sehingga menimbulkan forum permusuhan antara kalangan fundamentalis dengan liberal ketika duduk satu meja pada forum-forum diskusi yang melibatkan kedua belah pihak."

Peneliti Depag yang melakukan penelitian di lingkungan IAIN Surabaya juga menulis kesimpulan, "Konflik pemikiran antara kalangan muslim liberal yang menurut saya adalah islam rasional dengan kalangan muslim kerdil yang menurut saya adalah islam irrasional mungkin harus dipahami sebagai konflik pemikiran biasa, karena dengan itu akan lahir dinamika keagamaan yang sehat, yang penting tidak ada konflik fisik."

Peneliti faham liberal di lingkungan IAIN Sumatra Utara menulis dalam laporannya, "Faham yang seringkali bertentangan dengan faham liberal adalah doktrin konservatif yang secara sederhana menyatakan dukungan terhadap pemeliharaan status quo."

Cara penamaan dikotomis ala Barat semacam ini sebenarnya sangat menjebak. Dari berbagai contoh kita bisa melihat, bagaimana kuatnya cengkraman pola pikir dikotomis yang dikembangkan para ilmuan Barat dalam memandang masyarakat Muslim. Istilah-istilah yang berasal dari fenomena masyarakat Kristen di Barat kemudian dipaksakan masuk ke dalam khazanah keilmuan dalam studi keislaman.

Sangatlah tidak mudah menjebol hegomoni penggunaan istilah-istilah Barat dalam pemikiran dan studi Islam yang sudah terlanjur mencengram otak para profesor, doktor, dan peneliti di kalangan akademisi Muslim dewasa ini. Tapi, para ilmuan Muslim tidak boleh menyerah dalam soal ini.

Depok, 10 Agustus 2007
DR. Adian Husaini, M.A. (Ketua Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)
Sumber Majalah ar-risalah No.75/Vol.VII/03
Posted on 7:29 AM / 0 comments / Read More

Saturday, May 21, 2011

Liberal Menzhalimi Akal


“Argumen-argumen tekstual tak jarang berfungsi bukan sebagai penambah keluasan cakrawala berpikir, tapi sebagai katup pembahasan.” Itulah di antara pernyataan nyleneh kaum liberalis. Tentu, yang mereka maksud argumen-argumen tekstual adalah nash al-Quran dan as-Sunnah. Dan itu yang mereka sebagai katup! Katup, sesuatu yang biasa digunakan untuk membuka dan menutup. Mereka menuduh al-Quran dan as-Sunnah sebagai alat untuk mengungkung kebebasan berpikir dan membatasi keluasan cakrawala.

Kebebasan Mempertuhan Akal

Karena itu, orang-orang liberal berpendapat sudah saatnya menggelorakan semboyan kebebasan berpikir, yaitu berfikir tentang apapun tanpa batas, liar tanpa batasan, termasuk dalam memposisikan al-adillah an-naqliyyah (dalil-dalil al-Quran dan al-Hadits) dan pemahamannya.

Bagi mereka, jika dibandingkan akal, al-Quran dan al-Hadits bersifat relatif dan bukan merupakan kebenaran yang mutlak. Jadi, akal dianggapnya lebih otoritatif untuk menentukan dan menafsirkan benar dan salah, halal dan haram. Bahkan jika terjadi pertentangan di antara keduanya, yakni al-Quran dan as-Sunnah di satu sisi serta akal di sisi yang lain, maka al-Quran dan as-Sunnah-lah yang perlu ditafsirkan ulang dengan kaedah hermeneutik ataupun pemahaman substantif.

Bahkan juga, bagi mereka jika perlu merubah lafazh-nya. Contohnya, di antara pentolan mereka berani mengganti “Innad-dîna ‘indallâhil-Islam” dengan “Innad-dîna indallâhil-Hanifiyah”. Kenapa demikian? Mereka beralasan kalau agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam, itu namanaya arogan dan anti toleransi. Astaghfirullâh!

Entah dari mana mereka mendapatkan inspirasi, tapi idea seperti itu mirip dengan apa yang pernah dilakukan iblis manakala menolak perintah Allah dengan dalih akalnya. Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab: “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. al-A’râf: 12)

Kedudukan Akal dalam Islam

Sesungguhnya tiada alasan untuk mempertentangkan akal dengan naql, karena memang tidak ada pertentangan antara dalil naqli yang shahih dengan aqli yang sharih (benar dan lurus). Akal berfungsi sebagai penguat kebenaran nash syar’i. Tetapi, bila terjadi pertentangan antara keduanya, maka nash syar’i harus didahulukan dan dimenangkan, sementara akal harus dibelakangkan dan dikalahkan karena sifat keterbatasannya. Akal dapat dijadikan dalil jika ia sejalan dengan al-Quran dan as-Sunnah. Jika ia bertentangan dengan keduanya, maka ia dianggap bertentangan dengan sumber dasarnya.

...Akal berfungsi sebagai penguat kebenaran nash syar’i. Tetapi, bila terjadi pertentangan antara keduanya, maka nash syar’i harus didahulukan dan dimenangkan, sementara akal harus dibelakangkan dan dikalahkan karena sifat keterbatasannya...

Peranan akal di sisi naql, adalah seperti peranan orang awam disisi mujtahid. Para mujtahidlah yang mengetahui nash syar’i sekaligus maksud dari nash tersebut, hingga dialah yang mampu memutuskan hukum halal dan haram berdasarkan kekuatan ilmunya terhadap nash syar’i tersebut serta sifat ketundukannya kepada musyari’ (yang berhak menentukan syari’at) yakni Allah dan Rasul-Nya. Karena kekuatan ilmu nash syar’i dan ketundukan terhadap musyari’ inilah hingga Allah memuliakan mujtahid. Hasil ijtihad yang salahpun mendapat pahala satu, yakni pahala ijtihad. Rasulullah Shallallâhu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Apabila seorang hakim menghukumi suatu perkara dengan kekuatan ijtihadnya kemudian hasil ijtihad tersebut benar maka dia mendapat pahala dua. Dan apabila salah, maka dia baginya pahala satu (yakni pahala ijtihad).” (HR. al-Bukhârî)

Sementara orang awam-sampai dia tidak lagi awam-kewajibannya adalah memahami dan mengikuti mujtahid serta percaya kepadanya. Itu saja! Karena bisa jadi, sekalipun dijelaskan dalil dan istidlal (maksud dalil tersebut) kepadanya, belum tentu si awam memahaminya.

Coba, kalau seorang awam dipaksa berijtihad. Di samping pasti rusak, itu juga sama saja menghina dan menzhalimi mereka karena mendaulat untuk berbuat diluar kemampuannya.

Jelaslah, bahwa tidak berbanding kalau harus mempertentangkan antara naql dan akal. Karena naql kebenarannya mutlak,

“Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. al-Baqarah: 147)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Dîn kaum muslimin ditegakkan di atas landasan ittiba’ pada Kitabullah, as-Sunnah, dan apa-apa yang menjadi kesepakatan ummat. Ketiga perkara ini merupakan pokok-pokok yang ma’shum (terjaga dari kesalahan).”

Sedangkan kebenaran akal tidak mutlak, sangat tergantung dan terkait erat dengan sifat keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang Allah berikan kepada masing-masing manusia. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. al-Isrâ’: 85)

Mengapa Memilih Kesesatan

Demikianlah Islam dalam mendudukkan akal. Dan yang lebih penting lagi bahwa Allah Subhânahu wa Ta’âlâ menurunkan wahyu dan mengutus para Rasul adalah untuk menutupi kekurangan yang ada pada manusia, termasuk kekurangan dalam akalnya. Tanpa petunjuk niscaya sesat, dan tanpa teladan niscaya kebingungan.

Al-Quran dan as-Sunnah adalah karunia, yang dengannnya manusia bisa hidup dalam keterarahan, dan dengannya juga seorang muslim justru tidak akan terkekang, melainkan lapang dan seimbang.

Sedangkan bagi mereka yang menolaknya, kemudian lebih memilih akal sebagai agama, sesungguhnya orang itu telah mengambil kesesatan daripada petunjuk, dan memilih dalam kebingungan dari pada jalan yang lempang.
Wallâhu a’lam. (fath & hanif/ www.ar-risalah.or.id)

http://ar-risalah.or.id/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=243

Posted on 6:08 AM / 0 comments / Read More

Monday, May 16, 2011

Ngaku Muslim tapi Ikut Memusuhi Islam



Jika ber-Islam hanya kita artikan sebagai ketaatan melaksanakan ibadah ritual semata, risiko yang digambarkan banyak ayat al-Qur'an tidaklah perlu ditakutkan. Orang kafir akan membiarkan ummat Islam tenggelam dalam ritual ibadahnya. Mereka tidak peduli apakah kita menjalankan shalat lima waktu atau ditambah shalat-shalat yang lain. Mereka tak hirau, apakah kita menjalankan puasa Ramadhan atau ditambah Senin dan Kamis.

Selama tidak beranjak dari ibadah ritual, selama itu pula ummat Islam akan aman-aman saja. Akan tetapi jika sudah mulai bergerak ke soal amar ma'ruf nahi munkar, mengkait-kaitkan agama dengan berbagai masalah kehidupan, baik ekonomi, politik, maupun sosial budaya, maka pada saat itu kaum kafir langsung ambil ancang-ancang. Apalagi jika ummat Islam kemudian berbicara mengenai jihad dan perjuangan.

Ketika kita tenggelam dalam ibadah dan kekhusyu'an, mereka tidak peduli. Bahkan kalau perlu mereka akan ikut juga membangunkan sarana ibadah lengkap dengan segala fasilitas dan kemegahannya. Pada saat seperti itu, kita memang tidak bersinggungan sama sekali dengan kepentingannya. Akan tetapi persoalan akan menjadi lain jika kita mulai bicara tentang negara, bagaimana menata negara sesuai dengan mandat yang telah diberikan Allah kepada kita. Maka pertentangan segera terjadi.

Padahal kita tahu bahwa Islam bukan hanya mengajarkan ibadah ritual. Malah ajaran ritual dalam Islam tidak lebih dari 10 persen saja. Sembilan puluh persen sisanya berbicara soal kehidupan, baik di dunia maupun akhirat. Kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan negara. Kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Tidak satu sisi kehidupanpun yang vakum dari ajaran Islam.

Di sinilah letak persoalannya. Mereka berharap agar ummat Islam tidak membawa-bawa agamanya ke pentas kehidupan, padahal yang demikian itu mustahil bagi kita. Agama bagi mereka adalah urusan pribadi-pribadi (privat), tapi bagi kita sebaliknya, agama menjangkau batas-batas privat, publik, dunia global, bahkan hingga ke akhirat. Karenanya, Islam itu merupakan tuntunan agama yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, sekaligus sebagai ideologi yang mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia dan alam semesta.

Kaum sekuler jelas tak sepakat dengan pendirian itu. Mereka menghendaki agar urusan negara tidak dicampur dengan urusan agamanya. Bagi mereka, cukuplah agama hanya mengatur urusan akhirat, sementara urusan dunia biar diurus dengan ideologi dunia. Mereka menghendaki agar ummat Islam cukup mengurus masjid saja, sementara urusan negara diserahkan kepada orang lain yang lebih acuh terhadap aturan agama.

Kepada mereka harus kita jawab bahwa dunia dan akhirat adalah milik Allah. Bumi dan langit beserta seluruh yang ada di antara keduanya adalah milik-Nya dan berada dalam genggaman kekuasaan-Nya. Sedangkan kita hanyalah orang yang diberi mendat untuk mengatur kehidupan di dunia sesuai dengan kehendak-Nya.

Dunia ini bukan milik perorangan, baik yang bernama raja, sultan, presiden, atau juga preman. Dunia ini juga bukan milik orang banyak, seperti koperasi, perusahaan, suku, bangsa, negara, atau rakyat banyak. Bumi ini tetap milik Allah dan selamanya akan tetap menjadi milik-Nya. Dialah owner, komisaris, dan pemilik satu-satunya. Oleh karenanya, dalam penyelenggaraan dunia dan negara harus disesuaikan dengan kehendak pemiliknya. Merupakan perampasan hak jika ada yang mengklaim dirinya sebagai penguasa sebuah negara.

Keyakinan seperti ini ditantang habis-habisan oleh kaum sekuler. Mereka merasa bahwa penyelenggaraan negara harus diputus dari keterikatannya dengan Tuhan. Bahkan mereka meyakini bahwa urusan dunia cukup diurus oleh manusia saja, sebab manusialah yang paling mengetahui kebutuhannya. Tuhan cukup duduk di singgasana-Nya ('arsy), tak perlu turun ke bumi, ikut-ikutan mengatur urusan manusia. Sebab ikut campurnya aturan Tuhan bagi mereka hanya akan menghalangi berbagai keinginan mereka terhadap dunia.

Dua keyakinan yang berbeda ini tentu saja akan bertemu di lapangan. Orang-orang sekuler bertemu dengan kaum muslimin dalam posisi berhadap-hadapan. Maka konflik itu sewaktu-waktu dapat meledak menjadi perseteruan yang dahsyat. Perseteruan itu tidak hanya berlangsung sesaat, tapi akan terjadi dalam waktu yang amat panjang, sepanjang umur agama dan keyakinan sekuler itu sendiri.

Dalam kaitannya dengan konflik yang bakal terjadi itulah, kemudian Allah mengungkapkan berbagai rencana jahat merekaterhadap ummat Islam. Semakin keras usaha kita merealisasikan gagasan-agasan keislaman dalam berbagai bidang kehidupan, semakin keras pula perlawanan mereka kepada kita. Jika mereka tidak dalam keadaan berkuasa, mereka menggunakan cara-cara teror sebagai bentuk perlawanannya. Akan tetapi jika sedang berkuasa, mereka gunakan kekuasaannya untuk memberangus dan memaksa kita.

"Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya." (QS al-Anfaal: 30)

Yang lebih menyakitkan lagi bahwa kaum sekuler ini mengaku dirinya sebagai muslim juga, bahkan mereka juga menjalankan ritual-ritual Islam.

Tidak sedikit di antara mereka yang sudah menyandang gelar haji. Bahkan ada yang secara rutin melaksanakan ibadah sunnah, seperti puasa Senin dan Kamis. Secara pribadi mereka adalah muslim, tapi secara jama'i, mereka berpegang pada ajaran dan ideologi lain. Islam mereka hanya secara fungsional, sedangkan secara struktural mereka malah menghadapi Islam. Keberpihakannya dalam masalah-masalah kehidupan tidak pada Islam, tapi cenderung membenarkan sistem, ideologi, dan keyakinan musuh Islam.

Dalam hal memilih pemimpin, misalnya, mereka tak menghiraukan urusan agama. Bagi mereka, siapapun bisa dipilih menjadi pemimpin asal sesuai kepentingannya. Soal
agama, itu urusan sendiri-sendiri. Padahal al-Qur'an membimbing kita agar lebih berhati-hati dalam memilih pemimpin. Secara tegas malah kita dilarang memilih pemimpin di luar Islam. Allah berfirman:
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?" (QS an-Nisaa: 144)
Orang yang mengaku muslim tapi memilih pemimpin dari golongan orang-orang kafir telah dinyatakan Allah sebagai kaum munafiq, sebagaimana firman-Nya, 
"Kabarkanah kepada orang-orang munafiq bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, yaitu orang-orang yang mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan itu kepunyaan Allah." (QS an-Nisaa: 138-139)
Bukan hanya orang yang jelas-jelas kekafirannya saja yang tidak diperbolehkan untuk dijadikan pemimpin, tapi juga mereka yang tidak jelas-jelas memihak kepada Islam. Seseorang yang tidak jelas pemihakannya terhadap Islam dan perjuangannya menegakkan Islam, mereka tak layak diangkat sebagai pemimpin. Walapun mereka itu mempunyai hubungan dekat, baik karena kekerabatan maupun karena pertemanan. Allah berfirman, 
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim." (QS at-Taubah: 23)

Orang-orang kafir, baik Yahudi, Nasrani, maupun orang-orang yang fasik tak layak menjadi pemimpin. Jangankan dijadikan pemimpin sedangkan dijadikan teman akrab saja tidak diperkenankan. Allah berfirman, 
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahami." (QS Ali Imraan: 118)
Militansi mereka untuk melawan segala kekuatan ummat tak diragukan lagi. Mereka tak segan-segan mengeluarkan harta bendanya, juga tenaga, fikiran, bahkan jiwanya sekaligus.

Perhatikanlah caci-maki mereka, baik yang dilakukan secara kasar, di jalan-jalan maupun di mimbar bebas maupun yang dikemas dalam teori-teori yang seakan-akan ilmiah, padahal sangat bias dengan berbagai kepentingan. Melalui kata-kata, mereka berusaha memadamkan cahaya Islam. Kata-kata itu bisa dalam bentuk rekaman atau bentuk cetakan, seperti koran dan majalah. Untuk kepentingan ini mereka menguasai media. Baik cetak maupun elektronik. 
"Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai." (QS at-Taubah: 32)
Melalui media mereka membuat opini, menciptakan citra buruk pada Islam dan para aktivisnya. Dengan cara itu para pejuang pergerakan Islam di mana-mana ditakuti, diisolir dan akhirnya dibenci, bukan hanya oleh kalangan kafir tapi juga kalangan muslim sendiri.

Melalui media juga mereka adu domba antar kekuatan Islam. Mereka jadikan antar kekuatan Islam saling bersaing, saling berebut. Dan untuk itu mereka jadikan mereka saling tersinggung, saling marah, dan akhirnya saling membenci. Kekuatan Islam menjadi berantakan.

Luar biasa usaha yang mereka lakukan untuk menghalang-halangi kebangkitan Islam. Akan tetapi satu hal yang pasti bahwa Islam tetap akan jaya, sepanjang ummatnya tetap berpegang teguh pada ajarannya. Allah selalu berpihak kepada kebenaran dan orang-orang yang membawa dan memperjuangkannya.

Sumber: Hidayatullah.com
Posted on 6:44 AM / 0 comments / Read More

Sunday, May 15, 2011

Kawan yang Lebih Menakutkan




Kejatuhan Turki telah mengakibatkan Inggris dan Prancis mengobrak-abrik negara Islam. Seorang 'alim dari Al-Azhar Mesir dalam suatu haji akbar meminta kepada Raja Ibnus-Su'ud agar bersikap tegas terhadap kaum kuffar itu, dengan mengumumkan perang menghadapi mereka. Apa jawabab Ibnus-Su'ud?


"Mereka memusuhi kita itu sudah wajar, karena mereka sangat berbeda baik dari segi kebangsaan, keagamaan, maupun bahasa dan kepentingan. Akan tetapi bahaya yang sulit diampuni ialah bila kaum muslimin menjadi musuh bagi diri mereka sendiri. Aku, demi Allah, tidak takut kepada bangsa asing. Yang aku takuti hanyalah kaum muslimin sendiri."

Pernyataan Ibnus-Su'ud ternyata masih relevan hingga sekarang. Ketika kita hendak bersikap tegas kepada orang-orang kafir atau sekuler, justru pembela utama mereka adalah kelompok Islam. Tidak tanggung-tanggung, kelompok ini memiliki pengaruh yang sangat luas dan pengikut yang banyak, dengan justifikasi dari kaum ulama.

Kadang pembelaan itu dilandasi dengan hukum fiqih yang mereka tetapkan sendiri. Di satu sisi mereka memisahkan agama dari politik (jadi partaipun tidak beraqidah Islam), tetapi pda waktu yang sama mereka gunakan agama sebagai alatnya. Golongan seperti inilah yang oleh Ibnus-Sa'ud lebih ditakuti
daripada orang kafir dan kaum sekuler.

Bagaimana tidak? Mereka berada di barisan terdepan jika ada kelompok Islam yang mengkritik golongan kafir atau sekuler. Akhirnya, terhadap kelompok Islam mereka sering lebih galak dan vokal dibanding golongan kafir dan sekulernya sendiri. Sebagai bemper maupun pion lawan, mereka menjadi penyebab ummat Islam harus saling berhadapan sesama kawan. Mereka lebih pintar menemukan kesalahan saudara muslimnya, melapor jika ada gerakan yang membahayakan eksistensi kaum kuffar dan sekuler.

Ada juga yang menjadi propagandis dengan menyebarluaskan segala kebaikan kaum sekuler lewat berbagai jalur. Tujuannya agar kaum muslimin bersimpati, bahkan berempati. Kelompok propagandis ini terdiri dari para cendekiawan yang biasanya dibesarkan oleh mereka. Sekolah dibiayai, nama dilambungkan lewat media mereka yang memang mendominasi. Simbiosis yang saling menguntungkan, dan biasanya lebih berhasil mengangkat citra kaum sekuler. Bemper, pion, dan propagandis inilah kunci keberhasilan perjuangan kaum kuffar di negeri muslim.

Pertanyaannya, kenapa ada sebagian elite Islam yang tega berbuat seperti itu? Pertama, kemungkinan tidak sadar. Hatinya tertutup, sehingga hidayah tak bisa masuk. Mereka keburu berbangga atas prestasinya hingga sulit menerima pemahaman yang berbeda.

Kemungkinan kedua karena didorong rasa hasud terhadap saudara seiman. Mereka kecewa karena merasa pernah ditipu, dizhalimi, atau dipinggirkan, baik sengaja atau tidak, termasuk karena kemampuan mereka ataupun bukan.

Kemungkinan ketiga, pribadi atau golongan tersebut mengincar posisi atau jabatan politik tertentu yang ditawarkantuannya. Posisi itu dinilai lebih baik atau lebih strategis dibanding tawaran kawan seiman. Banyak yang memahami politik sebatas kekuasaan atau kursi, di legislatif ataupun eksekutif.

Padahal apalah artinya kedudukan, jabatan, atau kursi yang diberikan oleh kaum golongan kuffar dan kaum sekuler? Bagi orang yang beriman, semua itu adalah kehinaan. Apakah distribusikekuasaan itu bernama koalisi, aliansi, atau tak bernama sekalipun. Koalisi dengan mereka adalah kebathilan yang sangat ditentang al-Qur'an. Allah berfirman:
"Dan barangsiapa yang menjadikan mereka (golongan non-muslim dan sekuler) menjadi pimpinan, maka sesungguhnya ia termasuk golongan mereka." (QS al-Maidah: 51)
Jadi, yang merusak dan menjatuhkan Islam bukan saja golongan kafir-sekuler, tapi justru lebih banyak ulah dan sikap kaum muslimin sendiri. Mereka sendirilah yang menggali lubang kuburnya. Jauh sebelumnya Allah sudah mengingatkan,
"Dan demikianlah Kami jadikan dalam tiap-tiap negeri beberapa orang besar yang durhaka, agar mereka melakukan tipu daya dalam negeri mereka sendiri. Sesungguhnya mereka tidak melakukan tipu daya, kecuali atas diri mereka sendiri." (QS al-An'aam: 123)
Golongan ini patut dikasihani, betapa malang nasibnya. Dalam masalah-masalah ibadah makhdhah begitu getol dan tekun, tapi pembelaannya terhadap Islam dan umatnya sangat mengecewakan. Ironis.

Penyebab berikutnya dari pembelaan kelompok muslim terhadap kafir adalah rasa takut terhadap kemungkinan setelah kaum kafir menang. Mereka pilih aman dari risiko ditinggal, apalagi sampai dimusuhi. Akhirnya lebih baik menjilat daripada bersekutu memusuhi namun belum tentu berhasil.

Ketakutan ini sama sekali tidak beralasan. Karena semestinya mereka lebih takut berhadapan dengan sesama muslim. Juga, siapa yang lebih berhak ditakuti, orang-orang kafir atau Allah, sebagaimana ayat berikut,
"Apakah kalian takut kepada mereka itu? Maka sebenarnya, Allahlah yang lebih berhak ditakuti, jika kalian orang-orang yang beriman." (QS at-Taubah: 13)
Kenyataan membuktikan bahwa sebagian ulama dan pemimpin Islam sudah dihinggapi penyakit 'takut' ini. Takut miskin, takut pengaruhnya berkurang, takut risiko, takut menghadapi ancaman kematian.

Ketakutan ini sudah melampui batas hingga tugas utama mereka, yaitu amar ma'ruf dan nahi mungkar tidak bisa berjalan dengan baik. Mereka sudah terpengaruh kehidupan materialistis dan gaya hidup komsumeris, terlalu lama dimanjakan oleh materi. Inilah sesungguhnya bencana besar yang sedang kita hadapi. Kaum kafir berebut bukan untuk melamar, melainkan melumat dan memakan habis, sebagaimana tengara Rasulullah,
"Hampir datang saatnya ketika bangsa-bangsa mengerubuti kalian (ummat Islam) sebagaimana orang merubung hidangan." Para sahabat bertanya apakah pada waktu itu jumlah muslim sedikit. Sabda Nabi, "Tidak, namun keadaan kalian saat itu seperti buih di atas air bah. Ketakutan telah tertanam pada diri kalian lantaran kalian mencintai dunia dan takut mati."
Perjuangan nampaknya masih panjang. Jika dipaksakan, justru kita akan berhadapan dengan saudara sendiri.

Sumber: Hidayatullah.com
Posted on 7:20 PM / 0 comments / Read More

Saturday, May 14, 2011

Watak Sekuler Yang Anti Agama

(IslamMedia) Ada hal yang perlu dibongkar di balik pemikiran kaum sekuler, yaitu wataknya yang murni. Mengenai watak sekuler dari gerakan Islam liberal, terutama JIL, sudah tidak diperdebatkan lagi. Namun hal yang membuat kita sangat prihatin adalah berjangkitnya penyakit besar kepala di antara mereka.

Seringkali mereka menganggap dirinya reformis, revolusioner, progresif, dan seterusnya. Label-label ini mereka lekatkan pd diri mereka sendiri.

QS [2]:9 : “Mrk hendak menipu Allah dan org2 yang beriman, pdhal mrk hanya menipu diri mrk sendiri...”

Kebohongan, jika diucapkan terus-menerus, bisa terlihat oleh orang lain seolah kebenaran. Bahkan, jika kebohongan diucapkan terus-menerus, maka pengucapnya pun bisa mengiranya sebagai sebuah kebenaran.

Jika kita banyak membaca buku-buku para ulama Indonesia dahulu, kita akan geli melihat klaim-klain mereka tadi. Sebab, sama sekali tak ada yang baru dari konsep sekularisme yang mereka bawa. Termasuk jargon-jargonnya.

Ketika JIL br berkiprah di awal tahun 2000-an, ada jargon “agama yang diajarkan sekarang ini ‘terlalu fiqih’”. Pernyataan ini sudah pernah diucapkan oleh Soekarno dahulu, dan didebat oleh Natsir. Kemungkinan Soekarno pun mengikuti kata-kata org lain. Dalam debat itu terbukti Soekarno lemah dalam referensi. Soekarno banyak bicara tentang ‘kesuksesan’ sekularisme Turki, dan Natsir buktikan bahwa ia sangat minim rujukan. Perdebatan Natsir-Soekarno diulas secara apik dalam Biografi M. Natsir karya Ajip Rosidi. Debat tersebut berlangsung sebelum Republik Indonesia berdiri.

Nurcholish Madjid, lama setelah itu, mengutip pemikiran Ali Abdurraziq, persis seperti Soekarno juga. Kali ini, Buya Hamka yang ‘turun tangan’. Saat itu Buya Hamka pun mengatakan bahwa Cak Nur telah ‘ketinggalan jaman’. Maksudnya, tindakannya itu hanya sekedar mengulang-ulang argumen yang sudah dimentahkan para ulama.

Pemikiran Ali Abdurraziq sudah dibongkar habis-habisan oleh para ulama. Tapi memang dipuji-puji Barat, seperti biasa. Yang terjadi sekarang pun kurang lebih sama, sekedar pengulangan, sama2 membohongi diri sendiri.

Ada yang dengan ‘gagahnya’ mencibir Al-Hadits, “Hadits kan baru dibukukan di abad kedua Hijriah”. Ketika ditanya referensinya, dia cuma bisa sebut nama dosennya dan pemikir liberal di tanah air. Padahal teori itu sudah diajukan sejak lama oleh Joseph Schacht, dan sudah lama pula dibantah oleh Syaikh al-A’zhami. Tapi karena informasi hanya diambil sepihak, oknum yang malang ini tak pernah tahu siapa Syaikh al-A’zhami. Dia merasa sudah hebat kalau sudah dapat referensi dari nama-nama Barat. Menipu diri sendiri.

Sikap seperti itu biasanya mereka kemas dengan slogan-slogan yang sekilas terdengar ‘enak di telinga’. Misalnya, dulu Soekarno bilang bahwa agama terlalu tinggi dan suci untuk dibawa ke masalah politik. Pada prakteknya, kita semua tahu bahwa negara-negara sekuler selalu mengebiri agama-agama. Dengan pernyataan-pernyataannya, orang-orang sekuler berusaha memberi kesan bahwa mereka sangat mencintai agama.

Ambillah contoh Luthfi Assyaukanie, yang belum lama ini membombardir twitterverse dengan tweet-tweet anti-agamanya. Menurutnya, radikalisme di sekolah terjadi karena kegiatan-kegiatan agama dan kurangnya pelajaran evolusi. Dengan mudah kita dapat melihat bahwa Luthfi begitu anti dengan segala kegiatan agama di sekolah.

Soal ‘kedekatan hati’ kaum sekuler dengan teori evolusi, ini bukan hal yang mengejutkan. Sekularisme dibangun salah satunya dengan doktrin bahwa umat manusia senantiasa berevolusi. Dengan “evolusi”, mereka menganggap bahwa manusia selalu berubah ke arah yang lebih baik. Dengan kata lain, manusia kini pasti lebih baik daripada yang dahulu. Ini sudah menjadi doktrin bagi orang-orang sekuler.

Menurut mereka, para pendahulu mereka telah salah dalam memahami wahyu Tuhan. Maka lahirlah Liberalisasi Bibel di Barat, diikuti dengan lahirnya Hermeneutika. Sikap ini sudah dikritik oleh Prof. Naquib al-Attas, karena memang jauh dari logis. Jika umat manusia jaman dahulu tidak siap untuk menerima wahyu, maka mengapa Tuhan menurunkannya juga? Dalam Islam, kemajuan sains tidak berbanding lurus dengan kesalehannya. Kuli pasar dan ilmuwan sama-sama bisa jadi orang saleh atau kufur. Kita tak bisa begitu saja mengaku lebih mengerti Islam drpd Abu Bakar ra. Karena kita pakai iPad, sedang beliau hanya naik unta.

Para penganut teosofi juga menganut pola berpikir ‘evolusionis’ seperti ini. Menurut mereka, semua agama bersumber dari Tuhan yang sama, namun diturunkan menurut tingkat evolusi bangsa-bangsa. Kepada bangsa-bangsa primitif, diajarkanlah agama yang primitif. Yang modern juga mendapatkan agama modern.

Tidak heran bila para pemikir liberalis kini merasa hebat kalau bisa mencela ulama. Mereka merasa lebih pintar. Padahal konsep-konsepnya cuma meminjam dari orientalis, dan orientalis itu pun ada yang hidupnya sudah ratusan tahun yang lalu.

Sekarang banyak kita lihat kader-kader liberal yang berlindung di balik fakta bahwa dirinya berasal dari background NU. Pada saat yang sama, mereka cela Imam Syafi’i. Mungkin ia lupa mayoritas umat Islam RI menggunakan mazhab Syafi’i. Tidak heran, karena mereka hanya mengikuti instruksi dari para penyandang dananya di Barat sana.

Kembali pd tweet Luthfi, ia menjelaskan bahwa sekolah-sekolah sudah seperti majelis ta’lim. Apanya? Di tweet berikutnya, dijelaskan bahwa yang mirip majelis ta’lim adalah “tampilannya”. Jadi, ternyata analisis Luthfi hanya sebatas tampilan. Wajar kalau kesimpulannya dangkal begitu. Lucunya, sekolah yang dicelanya karena mirip majelis ta’lim itu justru salah satu SMAN terbaik di Jatim. Artinya, ia mengakui sendiri bahwa masalah tampilan tersebut tidak berpengaruh pd prestasi. Tapi tetap wajib dicela.

Ini menunjukkan bahwa tabiat sekularisme memang , sebaik apa pun mereka berusaha menutupinya. Urusan agama, meski cuma sekedar penampilan, pasti akan terus dibenci dan dihina oleh orang2 sekuler. Lihatlah bagaimana jilbab menjadi isu yang sangat serius di negara2 sekuler. Seolah-olah jilbab=bom. Sebaliknya, ada Muslimah di Jerman yang ditikam hanya karena atribut keislamannya, tak jadi perhatian mereka. Tapi kalau soal pelacur, misalnya, kuat sekali pembelaan mereka.

Ada juga kaum sekuler yang berusaha melogikakan kebenciannya pada jilbab dengan argumen-argumen yang, well, memalukan. Misalnya, mereka mengatakan bahwa justru jilbab itulah yang telah mendiskreditkan orang lain. Dengan kata lain, jilbab telah membuat orang-orang yang tidak berjilbab merasa terancam. Tidak ada logika di sini.

Menurut Luthfi, kita tidak butuh pelajaran agama. yang kita butuhkan adalah pengetahuan & pengajaran yang baik. Di sini, jelas Luthfi telah membedakan antara “agama” dan “pengetahuan”. Jadi, agama tidak pernah dianggap sebagai bagian dari dunia keilmuan. Itulah watak umum kaum sekuler.

Kalangan Sekuler-Barat memang membedakan antara “science” dan “knowledge”. “Science” adalah ilmu pengetahuan, sedangkan “knowledge” hanya pengetahuan (minus ilmu). Agama, oleh orang-orang sekuler, digolongkan ke dalam “knowledge”. tidak ada ilmu dalam agama (kata mereka).

Padahal, Islam bukan hanya menghormati ilmu, namun juga membangun tradisi keilmuan. Perdebatan para ulama fuqaha, yang dicela-cela oleh mereka, justru menunjukkan tingginya keilmuan mereka. Lihat contohnya penjelasan ust Ahmad Sarwat tentang perbedaan wudhu menurut para ulama mazhab. (http://youtu.be/-IJpu1fDnyY)

Justru dengan meneliti wahyu-wahyu Allah itulah umat Islam belajar mengembangkan kekritisannya. Yang dimaksud dengan ‘kekritisan’ bukanlah mengkritisi wahyu, namun justru memikirkan makna wahyu tersebut secara kritis-komprehensif.

Inilah yang tidak bisa dilakukan oleh peradaban Barat, sehingga mereka memutuskan untuk menjadi sekuler. Coba lihat pernyataan pamungkas Luthfie soal agama dan sekolah. Di sini, sekularisme tak lagi bisa menyembunyikan jati dirinya. Sekularisme adalah paham, bahkan sekularisme itu sendiri telah menjadi sebuah ‘agama baru’.

Luthfi Assyaukanie memang dikenal sangat anti-agama. Ia sering menyoroti ‘kekerasan bermotif agama’. Sayangnya, ia tidak pernah menyoroti ‘kekerasan bermotif sekuler’, atau ‘kekerasan oleh orang-orang sekuler’. Sebagai perbandingan.

Berapa banyak pelaku kekerasan di negeri ini? Adakah mereka penganut agama yang taat? Atau sekuler? Berapa banyak preman di jalanan? Mereka taat beragama, atau sekuler? Berapa banyak perempuan dipaksa berjilbab? Berapa banyak perempuan yang dilarang berjilbab? Orang-orang sekuler menghakimi cara berpakaian Muslimah, sedangkan kita dilarang menghakimi mereka yang berbikini.

Apa saja yang Anda ajukan, secemerlang apa pun pemikiran Anda, kalau asalnya dari agama, pasti mereka tolak. Hal ini pernah dialami sendiri oleh Moh. Natsir, ketika ia diundang mengikuti suatu konferensi perempuan. Dalam konferensi itu, banyak yang berorasi tentang peran perempuan menurut tokoh ini dan itu. Tapi ketika Natsir berpidato soal peran perempuan menurut Islam, orasinya langsung dipotong.

Demikianlah watak mereka. Janganlah kita terjatuh dalam lubang yang sama berkali-kali. Jangan terpedaya dengan tipuan yang sama. Orang-orang sekuler adalah para pembenci agama, meskipun mereka mati-matian membantahnya. Sejarah membantu kita melihat bahwa sebelum mereka pun sudah banyak yang membawa pemikiran yang sama, retorika yang sama.

Semoga kita terhindar dari tipu daya orang-orang yang suka menipu dirinya sendiri. Aamiin...

Oleh:
Posted on 9:02 AM / 0 comments / Read More

Popular Posts

Total Pageviews

Facebook

Blog Archive

Shout Box


ShoutMix chat widget

Followers

Copyright © 2011. SMART ZIKIR . Published by Ardisyam