Search This Blog

Pages

 
Showing posts with label islamphobia. Show all posts
Showing posts with label islamphobia. Show all posts

Monday, August 6, 2012

Pemerintah China Larang Muslim Uighur Berpuasa


Hidayatullah.com--Di sela semangat Ramadhan yang ikut mewarnai umat Islam di China. Pemerintah Negeri Komunis itu justru mengeluarkan larangan berpuasa bagi umat Islam di Daerah otonomi Xinjiang Uighur. Kebijakan yang datang di pertengahan bulan Ramadhan ini jelas sangat menodai hak asasi umat Islam di tempat tersebut.

Juru bicara Kongres Dunia Untuk Uighur menyatakan bahwa sikap pemerintah China ini akan menimbulkan masalah baru. Pasalnya mereka mengkhawatirkan sikap ini akan melahirkan sentimen anti pemerintah dari kelompok Muslim Uighur.

“Kebijakan tersebut akan memaksa orang-orang Uighur untuk memberontak (para pemerintah China) lebih jauh," jelas salah satu juru bicara kongres  seperti dikutip Reuters.com.

Pemerintah China sendiri bersikukuh bahwa kebijakan ini merupakan upaya menekan lahirnya ekstremisme agama. Alasan kesehatan juga menjadi salah satu senjata pemerintah China mempertahankan argumentasinya.

Dikutip dari AlArabiya.net, saat ini sekitar sembilan juta orang Uighur yang berbahasa Turki, bersama minoritas etnis Muslim wilayah Xinjiang lainnya telah mengajukan protes.

Mereka menyalahkan para pemimpin China atas kebijakan ini. Bagi mereka ini adalah sebuah kedzaliman terhadap hak beragama.

Setiap hari seorang Muslim di Xinjiang yang diketahui berpuasa akan dipaksa untuk minum dan berbuka puasa. Pada bulan Juli 2009, Pernah terjadi bentrokan antara Pemerintah China dan Umat Islam setempat dan menewaskan kurang lebih 200 warga Muslim.*
Posted on 5:52 AM / 0 comments / Read More

Thursday, July 5, 2012

Ketahuan Peluk Islam, Polisi Norton, AS, Dipecat

REPUBLIKA.CO.ID, NORTON, OHIO, - Seorang warga Amerika Serikat, yang dulu bekerja di Kepolisian Norton, Ohio, Nicholas A. Matheny, mengajukan gugatan hak sipil ke pengadilan federal atas keluhan diskriminasi negara, konspirasi, pembalasan dan lingkungan kerja yang buruk dan jahat. Gugatan ditujukan kepada Kota Norton, Kepala Kepolisian Norton, Thaddeus Hete, Sersan Polisi John Dalessandro ,Pemerintahkan Kota, Richard Ryland.
Posted on 2:21 PM / 0 comments / Read More

Wednesday, March 28, 2012

Tolak Ikut Renang Campuran, Siswi Muslim Swiss Dihukum

REPUBLIKA.CO.ID,  BASEL -- Satu keluarga muslim di Basel dikenai hukuman denda 1.400 franc (1.550 dolar AS) lantaran menolak anak perempuan mereka mengikuti kelas renang campuran. Pihak keluarga menolak untuk membayar denda dengan alasan hukuman itu merupakan pelanggaran terhadap hak kebebasan beragama.
Posted on 10:50 AM / 0 comments / Read More

Saturday, November 5, 2011

Kebebasan Melecehkan Agama di Prancis

Hidayatullah.com--Edisi Charia  majalah satiris Prancis Charlie Hebdo, berdampak fatal. Rabu malam (02/11/2011) kantor redaksi di Paris dilempar dua bom molotov.  "Kantor redaksi Charlie Hebdo Terbakar" demikian koran de Telegraaf, dikutip RNW, (03/11/2011).

Di halaman muka edisi khusus majalah mingguan itu terlihat karikatur nabi Muhammad sebagai redaktur tamu. Di karikatur itu, nabi Muhammad dengan jari telunjuknya menyebut "100 pukulan cambuk kalau tidak tertawa".

Ketakutan Barat


Dalam sambutan disebutkan bahwa nabi Muhammad menusuk naga dengan ketakutan Barat atas kemenangan partai Islam Annahda dalam pemilu di Tunisia. Edisi khusus itu juga sarat dengan berbagai karikatur lain, di antaranya seorang Muslimah yang tidak jera dengan pukulan cambuk.

Menurut pemimpin redaktur Stéphane Charbonnier, ketika halaman muka baru saja diterbitkan, ia sudah menerima banyak ancaman.

"Yang parah, sebelum seluruh edisi khusus itu diterbitkan, kami sudah menjadi sasaran kekerasan," katanya. Setelah dilempari bom molotov, kantor redaksi terbakar. Kaca pintu, jendela, hancur berantakan. Tapi pihak redaksi pantang mundur, mereka akan tetap bertekad menerbitkan nomor kedua edisi khusus itu.

Sasaran hacker


Selain kantor redaksi, situs web Charlie Hebdo juga menjadi sasaran hacker. Dengan latar belakang kitab al-Qur'an dicantumkan kalimat "Tidak ada Tuhan selain Allah".

Tapo para politisi bergiliran memberi dukungan kepada mingguan tersebut.

"Kebebasan berpendapat dijamin di Prancis. Kritik terhadap agama merupakan ciri pembatasan antara agama dan negara di Prancis," tegas Christian Delporte pakar media universitas Versailles.

"Prancis sepenuhnya mendukung kebebasan bergurau tentang ajaran Islam," tulis koran Trouw.

Perdana menteri Prancis François Fillon naik pitam.


"Pelaku pengrusakan kantor redaksi Charlie Hebdo harus diseret ke pengadilan. Kebebasan bersuara adalah pilar demokrasi di Prancis. Kekerasan apapun harus ditindak tegas," tegasnya seperti dikutip koran Algemeen Dagblad.
Sesungguhnya bukan kali ini saja Charlie Hebdo membuat heboh. Tahun 2007 lalu majalah ini mendapat kecaman umat Muslilm setelah memuat kartun Denmark yang memvisualkan wajah Nabi Muhammad.

Selama ini media massa Barat mengklaim hak kebebasan berpendapat dan bersuara, meski itu adalah pelecehan agama lain.
Posted on 7:28 AM / 0 comments / Read More

Friday, October 14, 2011

Fox News tak Hanya Negatif Soal Islam, Mereka Berbohong Nonstop


REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON - Sebuah postingan hasil jajak pendapat dari Public Religion Research Institute awal pekan ini menunjukkan korelasi kuat antara "kepercayaan terhadap Fox News dan perilaku negatif " para Muslim.

Sebuah situs think thank di Amerika Think Progress bahkan menayangkan bagan untuk membantu mengilustrasikan bagaimana besar fokus Fox News terhadap penggambaran negatif terhadap islam.

Situasi itu dipandang serius. Seorang konservatif mungkin akan melontark komentar bahwa ini hanya menunjukkan bahwa jaringan lain--yang bukan Fox--masih cukup sopan dapam menghadapi ancaman "Islamofasis".

Masalahnya ialah, bahwa banyak pemberitaan tentang Islam yang dilakukan jaringan Fox News tahun lalu tidak fokus pada fakta aktual, melainkan ide marjinal tentang Islam di AS yang secara cepat menjadi fitur permanen perang budaya kelompok sayap kanan.

Fox News telah menghabiskan banyak waktu di masa lalu untuk menguatkan konspirasi tak berdasar bahwa sebagian besar masjid adalah radikal, dan bahwa pemerintahan Obama telah disusupi oleh Ikhwanul Muslimin, juga Muslim di AS mencoba menerapkan hukum Syariah.

Tahun lalu, debat mengenai proposal pendirian pusat komunitas Islam hanya beberapa blok dari reruntuhan WTC menyajikan kesempatan Fox News untuk tancap gas, menjajakan produk beritanya.

Dalam tayangan yang mengudara, Fox News menuduh Imam yang mencoba menerapkan Syariah, memiliki ikatan dengan Ikhwanul Muslimin atau Muslim Brotherhood.

Padahal secara mendasar persaudaraan antara sesama Muslim jauh berbeda dengan Ikhwanul Muslimin, kelompok oposisi yang berada di Mesir. Namun Fox News dianggap mengelabui pemirsa dengan menekankan Ikhwanul Muslimin, grup garis keras di Mesir tersebut.

Tak berhenti sampai di sana, Fox News juga mengatakan proyek pusat komunitas Islam di Manhattan itu akan didanai oleh teroris.

Situasi yang terjadi di Mesir juga disambar dengan sikap serupa oleh Fox dalam menyoal keberdaan Ikhwanul Muslimin. Namun, mengingat kaum konservatif tak begitu kuat bersatu dalam isu tersebut, maka timbul liputan lebih seimbang terhadap protes ketimbang sebelumnya.

Meski pun demikian, dalam pemberitaan tentang Eropa, Fox News dinilai saluran yang masih cukup bisa diandalkan.

Masalah utama bukan pada pemirsa Fox News yang mendengar dan melihat banyak hal negatif tentang Islam. Mereka telah mendengar banyak hal salah mengenai Islam, demikian tulis Washington Post mengomentari jajak pendapat tersebut.

Fox, dianggap telah 'menyebarluaskan' sebuah 'realitas alternatif' yang terus menggambarkan Muslim sebagai komunitas dengan potensi bahaya, asing dan layak dicurigai.

Sebagai contoh, Fox secara tidak proposional menggunakan istilah-istilah yang mencerminkan pandangan negatif tentang Muslim lebih sering ketimbang pesaingnya.

Dan Ketika istilah-istilah tersebut digunakan, mereka kerap dijadikan bagian cerita penyebar kebencian dan ketakutan terhadap kemungkinan 'kejahatan' Muslim, seperti keinginan menerapkan hukum syariah atau melakukan plot terorisme. Beberapa contoh seperti berikut.

– Dipandu Bill O’Reilly pada 13/1/11: "Warga Amerika perlu tahu apa yang terjadi di dalam komunitas Muslim--di dalam negara kita, karena kita tidak tahu benar. Banyak dari mereka adalah komunitas tertutup, mungkin saja. Kami tidak tahu. – Pengamat Hukum Fox, Peter Johnson Junior 7/2/11: “Anda harus memeriksa pada riset ilmiah terhadap isu ini selama bertahun-tahun - apakah Demokrasi dan Islam sejalan? Sebagian besar ilmuwan dalam bidang tersebut telah mengatakan, mereka tidak kompatibel."

– Fox and Friends’ Brian Kilmeade 15/10/10: “Ada kelompok orang-orang tertentu yang menyerang kita pada 11 Septmber. Itu bukan hanya satu orang, itu adalah satu agama. Tidak semua Muslim adalah teroris, namun semua teroris adalah Muslim."

Maka, jajak pendapt menyimpulkan, para pemirsa--Mayoritas simpatisan Partai Republik--selalu berpikir mereka mendapat berita tulen tentang Islam, padahal yang terjadi adalah sebaliknya. Itu adalah bagian terburuk, karena pandangan macam itu, begitu masuk ke sistem pemahaman seseorang, sungguh sulit untuk dicabut.
Posted on 4:57 PM / 0 comments / Read More

Monday, October 3, 2011

Organisasi Muslim AS Protes: FBI Samakan Islam dengan Nazisme


REPUBLIKA.CO.ID, SEATTLE - Diam-diam, FBI melatih para agennya untuk bersikap 'lebih waspada' terhadap kaum Muslim. Menurut laporan American-Islamic Relations (CAIR) Washington, agen FBI terus-menerus dilatih untuk melihat arus utama Muslim Amerika dengan kecurigaan dan untuk melihat agama Islam itu sendiri sebagai sumber terorisme dan ekstremisme.

Pada hari Senin, tanggal 3 Oktober, American-Islamic Relations (CAIR) Washington akan bergabung dalam satu koalisi kelompok masyarakat di sebuah konferensi pers di Seattle untuk mengungkapkan kekhawatiran tentang laporan ini.

Konferensi pers akan menampilkan seorang pemimpin komunitas yang ikut dalam kelas yang diselenggarakan oleh FBI untuk tahun 2011. Sang nara sumber itu menyatakan, selama pendidikan, dibagikan bahan-bahan yang mengaitkan Arab, Muslim, dan Islam dengan paham Nazi atau Nazisme.

Dokumen, yang ditandatangani oleh agen FBI setempat dan didistribusikan di kelas, menyatakan antara lain: "Perlu sebuah kehati-hatian... perbandingan propaganda Arab / Islam dan propaganda Nazi mengungkapkan kedekatan kaitan ... saya akan menyarankan bahwa konflik saat ini kelanjutan dari kebijakan Nazi yang dilakukan oleh orang Arab ..."

Pada konferensi pers, CAIR juga akan merilis sebuah surat kepada Departemen Kehakiman AS (DOJ) yang ditandatangani oleh koalisi setidaknya 16 masyarakat, buruh, dan organisasi lintas sektor yang meminta penyelidikan ke dalam pola bias dan pelatihan tidak akurat yang diberikan oleh FBI.

CAIR juga mensinyalir FBI tampaknya terus mempekerjakan seorang analis kontraterorisme yang salah memahami Islam dan ajarannya.

Sebelumnya, seorang analis FBI mengatakan kepada agen-agen FBI bahwa mainstream Muslim Amerika mungkin simpatisan teroris, bahwa Nabi Muhammad adalah seorang pemimpin sekte, dan bahwa zakat dan sedekah dalam Islam adalah bagian dari mekanisme pendanaan untuk pertempuran.

CAIR baru-baru ini mengirim surat kepada Direktur FBI, Robert Mueller, menyerukan tindakan segera untuk reformasi instruktur anti-Muslim dan bahan Islamofobia selama pelatihan kontraterorisme.

FBI mengatakan akan "melakukan tinjauan komprehensif dari semua pelatihan dan bahan-bahan referensinya'. Namun, hingga kini, apa yang dikemukanan FBI hanya 'omong kosong'.

Komentar:

Berlainan dengan apa yang sering ditampilkan dalam filem-filem di TV bahwa para agent FBI melakukan pekerjaannya secara profesional dan mendapatkan sumber informasi yang terpercaya ketika menganalisis suatu kejahatan. Tapi dalam kehidupan sebenarnya, sumber-sumber informasi yang akurat itu hanya isapan jempol semata, apalagi kalau sudah menyangkut mengenai Islam.

Para analis FBI itu ternyata tidak tahu apa-apa mengenai Islam atau mereka memang tahu mengenai Islam tapi tidak menyampaikan hal yang sebenarnya kepada yang dilatihnya. Tentu ada tujuan tersembunyi di belakang semua ini, yaitu menginginkan supaya citra agama Islam tetap buruk dan umat Islam terus tersudut. Dengan demikian diharapkan rakyat Amerika tetap melanjutkan dukungan mereka terhadap pemerintah dalam aksi agresi ke negeri-negeri Islam. Karena yang ada dalam pemikiran rakyat Amerika adalah Islam sama dengan teroris. Inilah pencucian otak besar-besaran yang dilakukan oleh pemerintah Amerika.
Posted on 12:06 PM / 0 comments / Read More

Saturday, September 24, 2011

Usai Diejek Rasis, Siswa Muslim Sydney Dikeroyok Rekannya

REPUBLIKA.CO.ID,SYDNEY - Sekitar 20 Pelajar sebuah sekolah di utara Sydney secara brutal memukuli pelajar Muslim. Pelajar itu diketahui bernama Hamid Mamzai berusia 15 tahun.

The Sydney Morning Herald, Jum'at (23/9), melaporkan Hamid dipukul belasan kali sesama pelajar Sekolah Tinggi Asquith Boys setelah lebih dulu diteriaki ejekan bernada rasial. Usai dipukuli, ia tak sadarkan diri. Hamid lalu dibawa ke rumah sakit dengan pendarahan tak serius.

"Mereka memukul saya tanpa henti. Dia pantas mendapatkanya, Anda teroris. Pergi ketempat asalmu, sebuah tempat yang gemar meledakan sesuatu," ungkap Hamid menirukan perkataan pelajar yang memukulinya.

Pengalaman serupa juga dialami Najia, adik kandung Hamid. Najia mengaku telah mengalami pelecehan rasial selama dua tahun di sekolah. Lantaran pelecehan itu, Najia mengalami tekanan emosional.

"Anak ini begitu ketakutan, ia enggan keluar dari rumah,'' katanya.

Ibunya Hosna, yang melarikan diri Afghanistan 20 tahun lalu, mengaku telah berulang kali mengeluh kepada sekolah untuk tidak terpengaruh.

"Saya hanya ingin tahu mengapa pelecehan ini terjadi, mengapa kepala sekolah tidak peduli ada siswanya sedang diganggu, mengapa mereka tidak menghentikannya? Saya ingin orang tua lain tahu mengapa hal ini terjadi," katanya.

Sayang, saat diminta konfirmasi pihak sekolah menolak untuk berkomentar. Namun, Departemen Pendidikan memastikan 20 pelajar yang ketahuan memukuli Hamid itu dirumahkan selama 20 hari.

Juru Bicara Departemen Pendidikan mengatakan saat kejadian para guru dengan spontan memberikan bantuan langsung kepada Hamid. Mereka menelepon keluarga dan sebuah ambulans ketika insiden terjadi. "Hamid dan keluarganya ditawarkan konseling. Mediasi telah dilakukan antara pihak sekolah dan keluarga Hamid," ungkapnya.

Ia mengatakan pelaku rasisme tidak ditolerir. Siapapun pelakunya akan ditindak. "Tindakan disipliner telah dilakukan terhadap pelajar yang sebelumnya telah menggunakan bahasa bernada rasis kepada siswa lain," pungkasnya.
Posted on 1:20 PM / 0 comments / Read More

Tuesday, September 20, 2011

Larangan Shalat di Jalanan Prancis Berlaku


Hidayatullah.com--Larangan bagi Muslim untuk shalat di jalan-jalan kota Prancis berlaku mulai Jum'at (16/9), setelah dua buah masjid di kota Paris dan Marseille resmi dibuka.

Pekan lalu Menteri Dalam Negeri Claude Gueant mengatakan bahwa tidak akan ada lagi shalat di jalanan terhitung mulai 16 September ini.

"Jika ada yang melanggarnya, maka kami akan menghentikannya," kata Gueant.

Larangan shalat di jalan di seluruh Prancis berlaku bertepatan dengan dibukanya rumah ibadah baru bagi Muslim di daerah utara Paris. Di wilayah itu, ratusan orang setiap hari Jum'at selalu memenuhi jalan di dekat dua masjid setempat, karena jamaah tidak tertampung di dalam masjid.

Para pemimpin Muslim di distrik multietnis Goutte d'Or telah sepakat dengan pemerintah daerah Paris untuk menyewa barak yang tidak dipergunakan selama tiga tahun.

Masjid yang ada akan ditutup selama dua pekan, untuk mendorong jamaah pergi ke tempat baru itu yang dapat menampung 2.700 jamaah, menurut pejabat pemerintah setempat.

Pemerintah kota terbesar kedua di Prancis, Marseille, juga telah menemukan tempat yang lebih besar untuk dipergunakan Muslim sebagai masjid, sehingga mereka tidak lagi shalat di jalanan.

Menurut pemerintah, shalat di jalanan melanggar peraturan yang melarang penampakan simbol-simbol keagamaan di tempat umum.

Para pemimpin Muslim setempat mengatakan, pembangunan masjid baru tidak mampu mengimbangi kebutuhan Muslim Prancis, yang jumlahnya paling banyak di antara negara-negara Eropa Barat lain.

Data statistik resmi pemerintah menyebut angka 2,1 sebagai jumlah Muslim Prancis. Namun diyakini jumlah sebenarnya lebih dari itu, sekitar tiga kali lipat.*


Sabtu, 17 September 2011 
Posted on 5:18 AM / 0 comments / Read More

Friday, August 5, 2011

Breivik, Petani yang Dikecewakan Partai Buruh


Disebut-sebut Norwegia adalah sebuah negeri damai di kawasan Skandinavia, namun secara tiba-tiba dari negeri yang menganut sistem pemerintahan monarki konstitusional itu, masyarakat dunia dikejutkan oleh aksi terorisme. Lebih mengejutkan lagi, aksi terorisme yang menewaskan 92 orang, baik yang dilakukan dengan cara penembakan di Pulau Otoeya maupun peledakan bom di kantor pemerintahan di Oslo, dilakukan oleh fundamentalis Kristen. Media menyebutnya dengan sebutan seorang fundamentalis kanan.

Pelaku yang namanya diidentifikasi Anders Behring Breivik mempunyai pekerjaan sebagai petani organik yang mengaku dirinya seorang Kristen konservatif. Dirinya mempunyai sebuah keyakinan yang kuat yang menyatakan, satu orang dengan keyakinan setara dengan kekuatan pasukan 100 ribu orang dengan satu misi. Tidak hanya itu, Breivik terungkap telah bergabung dengan satu partai yang anti terhadap kaum imigran, multikulturalisme, dan Islam.

Dengan tertangkapnya Breivik maka hilanglah spekulasi yang sebelumnya menuduh apa yang terjadi di Oslo dilakukan oleh terorisme dari fundamentalis Islam. Dugaan itu sebelumnya menguat karena Norwegia pada saat yang sama sedang mengadili 2 terdakwa perencana teror yang dilakukan oleh anggota Al Qaeda. Selain itu pengadilan di negeri yang merdeka 17 mei 1814 itu juga tengah mengadili seorang ulama kelahiran Iraq yang hendak mengancam politisi Swedia itu. Ulama itu akan membunuh mereka jika sampai dideportasi.

Apa yang terjadi di Oslo dan Pulau Utoya itu tentu tidak dikehendaki masyarakat dunia pada umumnya dan masyarakat Eropa pada khususnya. Masyarakat Eropa dan Amerika Serikat, dengan kejadian ini tentu akan membelalakan matanya bahwa ternyata terorisme dilakukan tidak hanya oleh kelompok fundamentalis Islam, dari kelompok fundamentalis Kristen pun ternyata mempunyai kesempatan dan peluang yang sama bila mereka mau. Dan itu terbukti pada apa yang dilakukan oleh Breivik.

Intelijen kecolongan dari terorisme yang dilakukan Breivik sebab selama ini intelijen Norwegia lebih mengawasi sepak terjang ummat Muslim daripada kelompok-kelompok yang anti pemerintahan Perdana Menteri Jens Stoltenberg.

Negara-negara Eropa dan Amerika Serikat tidak menghendaki terorisme yang dilakukan Breivik, bukan hanya karena apa yang dilakukan adalah sebuah kejahatan kemanusiaan namun akan membiaskan atau mementahkan 'program' mereka untuk melawan terorisme dan memusuhi serta mengusir ummat Islam dari Eropa yang selama ini telah berjalan sesuai dengan skenario.

Selama ini banyak politisi negeri-negeri Eropa seperti Belanda, Swiss, Denmark, Swedia, Perancis, Jerman, serta beberapa negara lainnya mengkampanyekan anti Muslim. Kampanye yang dilakukan adalah dengan cara melarang penggunaan simbol-simbol Islam dan mendirikan masjid. Selain itu melakukan pembatasan terhadap kaum imigran yang datang dari negara-negara Arab dan Afrika Utara. Mereka khawatir dengan massifnya kaum Muslim dengan membawa identitas asalnya akan membuat rusaknya identitas dan nasionalisme bangsa-bangsa Eropa. Untuk mencegah hal yang demikian, maka fitnah, pelecehan, dan tindak kekerasan dilakukan oleh negara-negara Eropa kepada kaum Muslim.

Selepas apa yang dilakukan oleh Breivik maka membuktikan bahwa apa yang selama ini dituduhkan oleh negara-negara Eropa kepada ummat Muslim tidak selamanya benar. Amerika Serikat sendiri kebingungan dalam mensikapi terorisme di Oslo dan Pulau Otoeya, sebab dilakukan oleh kelompok yang selama ini tidak masuk dalam catatan kelompok yang harus diperangi. Sehingga pastinya Amerika Serikat tidak akan mengirimkan pasukan ke Norwegia. Tidak seperti ketika Al Qaeda melakukan aksi 9/11, mereka langsung menginvasi Afghanistan.

Selepas apa yang dilakukan Breivik akan terjadi babak baru hubungan antara Islam, Kristen, dan Barat. Barat akan menjadi paham bahwa ajaran kekerasan tidak hanya ada dalam satu agama saja (Islam) namun pada semua agama, dan itu dilakukan bila ummatnya mengalami tekanan.

Breivik kecewa pada kebijakan Stoltenberg yang disebutnya terlalu ke kiri. Breivik yang selama ini tergabung di dalam partai kanan merasa tidak terakomodasi. Stoltenberg adalan ekonom Norwegia, ketua Partai Buruh Norwegia (Norwegian Labour Party) atau Det norske Arbeiderparti sejak tahun 2001. Dirinya juga ketua Workers' Youth Leagaue periode 1985-1989 dan Oslo Chapter untuk Partai Buruh 1990-1992. Partai Buruh Norwegia adalah partai politik demokratik sosial yang didirikan pada tahun 1887. Partai Buruh merupakan partai politik terbesar di Norwegia sejak tahun 1927 dan sering memperoleh lebih dari separuh total kursi di parlemen.

Sebagai seorang petani, bisa jadi Breivik selama ini sering dikecewakan oleh kebijakan Stoltenberg. Sehingga pupuk dan bahan kimia yang dibelinya dalam jumlah besar, yang sedianya untuk perusahaan pertanian yang ia dirikan, Breivik Geofarm, ia gunakan untuk merakit bom. Selanjutnya kekecewaan Breivik itu dengan menggunakan keyakinan yang dianut dilampiaskan dengan meledakan kantor pemerintahan dan menembaki kader-kader Partai Buruh.

Apa yang dilakukan Breivik harus menjadikan masukan bagi Stoltenberg. Ia harus mampu mengakomodasi dan memperhatikan semua kelompok, etnis, dan agama agar kekecewaan dari masyarakat tidak diwujudkan dalam bentuk aksi teror.

Namun biasanya bila ada aksi teror, pemerintah biasanya langsung reaktif dengan bertindak keras. Bila negara-negara Eropa selama selama ini melarang simbol-simbol fundamentalis Islam, bisa jadi pasca terorisme di Norwegia yang dilakukan oleh Breivik itu akan membuat simbol-simbol dan gerakan fundamentalis Kristen akan juga diawasi dan dilarang oleh pemerintah.

*) Ardi Winangun pernah bekerja di Civil-Militery Relations Studies (Vilters). Penulis tinggal di Matraman, Jakarta Timur. Nomor kontak: 08159052503. Email: ardi_winangun@yahoo.com
Posted on 10:10 AM / 0 comments / Read More

Wednesday, July 27, 2011

Bernafsu Sebut Islam, PBB Kritik Media Tentang Serangan Norwegia


Hidayatullah.com--Pakar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk kebebasan beragama, Heiner Bielefeldt, melontarkan kritik pedas terhadap laporan-laporan awal media menyangkut pembunuhan massal di Norwegia pekan lalu, yang langsung menghubungkan tragedi tersebut dengan terorisme Islam.

Heiner Bielefeldt, yang merupakan Pelapor Khusus PBB untuk Kebebasan Beragama dan Kepercayaan, menunjuk laporan-laporan semacam itu sebagai contoh "memalukan" dan "terungkap jelas" mengandung prasangka-prasangka.

"Cara para komentator publik yang secara langsung menghubung-hubungkan pembunuhan massal di Norwegia pada Jumat (22/07/2011) lalu dengan terorisme Islam, merupakan contoh yang terungkap dan benar-benar memalukan menyangkut dampak kuat dari adanya prasangka," kata Bielefeldt seperti dikutip Pusat Media PBB, di New York, Amerika Serikat, Selasa.

"Sikap menghormati para korban dan keluarga korban seharusnya didahulukan daripada mengambil kesimpulan-kesimpulan yang murni berdasarkan spekulasi," kata Bielefedt.

Setidaknya 75 orang tewas dalam dua serangan di Norwegia, yaitu ledakan di pusat ibukota negara, Oslo, serta penembakan massal di kamp pemuda di Utoya, sebuah pulau dekat Oslo.

Seperti yang disebutkan Pusat Media PBB, menyangkut serangan hari Jumat itu banyak laporan awal media yang langsung memusatkan topik pada kontribusi pasukan Norwegia dalam perang di Irak dan Afghanistan serta hubungannya dengan serangan hari Jumat di Norwegia.

Pada kenyataannya, tersangka serangan pembunuhan massal itu ternyata adalah seorang pemuda non-Muslim yang kemudian disebut-sebut media sebagai ekstrimis politik berkewarganegaraan Norwegia.
Posted on 7:09 PM / 0 comments / Read More

Wednesday, July 20, 2011

Para Biksu Pimpin Kelompok Buddha Ekstrim Bantai Muslim Myanmar

Sebuah lembaga pengamat HAM (Human Right Watch) di New York, mendesak PBB agar badan itu segera bertindak menyelamatkan komunitas Muslim Myanmar. Imbauan itu disampaikan berkaitan kunjungan utusan khusus PBB untuk Myanmar bulan depan ke negara yang terletak di Asia Selatan itu. Sebagaimana diketahui, kaum Muslimin Myanmar sampai saat ini masih diperangi kelompok mayoritas Budha di negara tersebut.

Dalam laporan 12 halaman yang dirilis khusus untuk kunjungan utusan PBB tersebut, lembaga HAM yang bermarkas di New York itu mencantumkan data kasus-kasus serangan yang dialami Muslim Myanmar. Aksi pemberangusan kebebasan beragama, kata lembaga itu, masih terus dialami komunitas Muslim Myanmar. Demikian Agence France-Presse (AFP) melaporkan.

"Pemerintah Myanmar semestinya harus melindungi hak-hak Muslim di negeri tersebut. Namun yang terjadi justru sebaliknya, pemerinta malah memberlakukan larangan-larangan terhadap aktivitas keagamaan kaum Muslimin. Mereka juga tidak menjatuhkan hukuman terhadap orang-orang yang bertanggungjawab memusnahkan rumah-rumah dan masjid-masjid kaum Muslimin," lapor AFP mengutip pernyataan direktur lembaga HAM itu, Mike Jendrzeiczyk.

Aksi kekerasan yang menimpa kaum minoritas Muslim dipicu oleh kemarahan umat Buddha Myanmar yang merupakan kelompok mayoritas di negara itu. Mereka marah ketika pemerintah Taliban (semasih berkuasa) pada bulan Maret 2001 silam, menghancurkan candi-candi Budha kuno yang ada di Afghanistan.

Di sejumlah kota di luar ibukota Yangoon, lembaga HAM itu mengaku, mereka menerima sejumlah laporan yang bisa dipercaya tentang keterlibatan para perwira intelijen militer Myanmar dalam mendalangi aksi kekerasan anti-Muslim. Lembaga HAM itu berani bersumpah, lapor AFP, bahwa mereka memiliki bukti-bukti itu.

Aksi kekerasan terburuk terjadi pada bulan Mei dan September tahun lalu, ketika krisis ekonomi Myanmar jatuh pada tingkat paling parah. Di Taungoo, wilayah utara Yangoon, lebih dari 1000 massa yang dipimpin para biksu Buddha yang marah, menyerang dan membakar toko-toko Muslim, rumah-rumah dan masjid-masjid.

Dalam peristiwa itu sedikitnya 9 orang warga Muslim meninggal dunia. Para saksi mata menyebutkan, massa beringas yang dipimpin para biksu itu menyerang kelompok Muslim secara brutal. Menyusul peristiwa itu, kebebasan beribadah dan bepergian kaum Muslimin Myanmar kian dipersulit. Bahkan kaum Muslimin tak lagi bisa bebas beribadah sesuai dengan keyakinan Islam. Sejumlah negara Islam telah melayangkan protes dan keprihatinannya atas penghancuran HAM kaum Muslimin Yanmar.

Utusan khusus PBB, Razali Ismail, bekas dubes Malaysia, akan melakukan kunjungannya yang ke-8 kali ke Myanmar pada tanggal 2 Agustus 2002. Razali diharapkan bisa bertemu dengan para petinggi, termasuk dengan pihak junta militer Myanmar. Ia juga diharapkan dapat menemui pemimpin Liga Nasional untuk Demokrasi, Aung San Suu Kyi.

Sebuah laporan lembaga HAM belum lama ini, menyebutkan bahwa junta militer Myanmar telah melakukan perkosaan secara sistematis terhadap kaum wanita Muslim. Militer Myanmar telah menggunakan kekuatan senjatanya untuk menghabisi wanita Muslim setelah mereka memperkosanya.

Laporan yang dibuat Shan Human Rights Foundation dan Shan Women's Action Network memuat dalam dokumen laporannya tentang 625 orang gadis dan wanita di negara Shan, yang diperkosa para tentara Myanmar. Kebanyakan peristiwa itu terjadi antara tahun 1996 hingga 2001.

Namun pemerintah Myanmar pada tanggal 10 Juli 2002, dalam sebuah siaran resminya menuduh, bahwa dua lembaga HAM yang memuat laporan tentang kasus perkosaan oleh militer, adalah konspirasi yang dilakukan dengan kelompok pemberontak Shan United Revolutionary Army. Konspirasi itu juga, tuduh junta militer Myanmar, melibatkan Washington. (stn/iol)

Sumber: EraMuslim
Tanggal Publikasi: 19/07/2002 15:49
Posted on 9:49 PM / 0 comments / Read More

Friday, July 1, 2011

UU Belanda Larang Menyembelih Hewan


Hidayatullah.com--Parlemen Belanda meloloskan undang-undang yang melarang menyembelih hewan tanpa dipingsankan. Ini berarti menutup kesempatan bagi penganut Yahudi Ortodoks Belanda dan umat Islam untuk menyembelih hewan menurut tata agama yang mereka anut.

Undang-Undang ini masih harus melewati Senat dan pemerintah, namun disebutkan, pengesahan ini tak akan melewati batu sandungan yang berarti.

Ini akan menjadi ancaman dan melahirkan kecaman dari kelompok Islam dan Yahudi, dengan mengatakan ini melanggar kebebasan beragama mereka.

Menurut tata cara Islam dan Yahudi, hewan dipotong dengan memotong urat di leher dengan benda tajam, dan umat Islam dan Yahudi menegaskan, cara itu tidak lebih buruk ketimbang memukuli hewan hingga mati.

Undang-Undang ini diloloskan pada Selasa (28/6) dan mendapatkan dukungan penuh dari politisi garis kiri dan kanan.

Garis kiri menganggap, cara yang dilakukan secara agama tak berperikemanusiaan, sementara politisi sayap kanan mengatakan, cara agama diadopsi dari luar negara mereka dan sangat barbar.

Dipastikan beda persepsi menyembelihan ini yang terjadi antara rumah potong ternak di Indonesia dengan peternak sapi Australia saat ini, yang berbuntut pada penyetopan ekspor sapi potong ke Indonesia.

Cara penyembelihan yang dilakukan rumah pemotongan hewan di Indonesia dianggap penyiksaan oleh Australia. Cara yang dilakukan di Australia dengan dipingsankan terlebih dahulu melalui tembakan. Padahal cara penyembelihan yang dituntunkan agama akan memberi manfaat atas kebersihan hewan dari penyakit yang terbawa oleh darah.*
Posted on 6:39 PM / 0 comments / Read More

Saturday, June 18, 2011

Ketika Jilbab Terlarang dalam Dunia Olahraga


REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA - Muslimah dan Olahraga. Dua premis yang seolah terasing satu dengan yang lain. Kasus tim nasional perempuan Iran beberapa waktu lalu memberi sinyal 'penolakan' terhadap Muslimah oleh dunia olahraga. Apa yang salah? Begitulah kira-kira pertanyaan yang mengemuka.

Dari minat, gairah perempuan Muslim tidak kalah dengan kaum adam. Bahkan, sebagian dari mereka merupakan atlet berbakat. Sebagai ilustrasi saja, Kulsoom Abdullah. Muslimah Pakistan, namun tinggal lama di AS. Dia merupakan atlet potensial untuk kategori olahraga angkat besi. Dia pun bermimpi untuk ambil bagian dalam hajatan Olimpiade.

Sayangnya, mimpi Kulsoom bakalan terganjal regulasi Federasi Angkat Besi Dunia (IWF). IWF menilai apa yang dikenakan Kulsoom saat bertanding tidak bisa dipergunakan dalam ajang internasional. Alasannya pun cukup klise, setiap atlet angkat besi diharuskan mengenakan celana selutut dan baju ketat.

Aturan itu dinilai Kulsoom tidak seharusnya menghalangi seorang Muslimah untuk ambil bagian. Atas dasar keyakinan itu, dia dalam setiap beraksi mengenakan jilbab dan pakaian yang menutupi tubuhnya. Namun, apa yang dilakukannya memicu reaksi kontroversial dari IWF. Mereka akhir bulan ini akan memutuskan apakah Kulsoom akan diperkenankan mengenakan pakaian yang biasa dikenakan saat bertanding atau tidak.

"Itu keyakinan saya. Saya selalu berpakaian seperti ini dalam keseharian," kata dia seperti dikutip dari alarabiya, Jum'at (17/6).

Kulsoom mengaku kesal dengan pandangan yang tidak memperbolehkan perempuan berpartispasi olahraga lantaran berpakaian tertutup. Meski kesal, dia tidak bermaksud untuk mengharapkan Muslimah lain seperti dirinya. Dia hanya menginginkan adanya keleluasaan dalam berpakaian meski berbeda agama dan budaya.

Mengkomentari soal Kulsoom, Ibrahim Hooper, juru bicara Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), menilai semua Muslimah berhak untuk memilih apa yang menjadi pilihannya sekalipun pilihan itu jatuh pada angkat besi. Tugas masyarakat adalah bagaimana memberdayakan Muslimah sehingga mereka berhasil melalui segala proses dan berprestasi.

" Seharusnya tidak ada hambatan," kata dia.

Muslim bergelar doktor bidang teknik kelistrikan dan komputer ini mampu mengangkat beban hingga 245 pon. Pencapaiannya memang masih kalah dengan pemegang rekor saat ini Hossein Rezazadeh asal Iran yang mampu mengangkat beban maksimal hingga 470 pon.

"Ada banyak teknik yang terlibat. Ada kecepatan dan waktu untuk itu. Anda harus mengeluarkan segenap tenaga yang dimiliki," komentar Kulsoom yang bersiap ambil bagian dalam turnamen di AS.
Posted on 7:55 AM / 0 comments / Read More

Tuesday, June 7, 2011

Menyikapi Islamophobia di AS


SEBAGAI seorang Muslim yang sekarang ini tinggal di Amerika Serikat, tentu sangat terasa betapa ketakutan secara tidak rasional terhadap Islam, yang kerap dikenal dengan ‘Islamophobia’ berada pada tingkatan yang sangat tinggi. Secara pribadi, saya belum mengalami sikap anti Islam yang berlebihan, terkecuali bahwa beberapa kali ketika akan melakukan ‘check-in’ di airport harus melalui tahap ‘klarifikasi latar belakang’ (back ground checking). Jawaban yang selama ini selalu saya dapatkan adalah karena ribuan ‘last name Ali’ yang perlu diteliti.

Tiga tahun lalu, ketika mereka akan terbang mengikuti konferensi tahunan Imams (Imams Federation Annual Convention), enam orang Imams tertahan untuk terbang hanya karena melakukan shalat di airport, atau di atas pesawat. Kasus 6 Imam ini kemudian dikenal dengan ‘flying Imams’ berhasil dimenangkan dengan tuntutan perdata yang cukup tinggi.

Minggu lalu, untuk mengikuti acara tahunan yang sama, ada dua orang Imam dari Memphis yang tertahan dan bahkan tidak diperkenankan untuk terbang pesawat Delta. Alasannya hanya karena sebagian penumpang  nggak sreg (uneasy) dengan keberadaan dua Imam tersebut dalam pesawat menuju Charlotte (North Caroline). Walau pada akhirnya kemudian diterbangkan dengan pesawat selanjutnya, namun Delta masih bertahan untuk tidak meminta maaf. Bahkan alasannya hanya ‘untuk meyakinkan keamanan’. Seolah kehadiran dua penumpang itu memang menjadi ancaman bagi keamanan.

Teman saya, Imam Amin Abdul Latif, ketua Majlis Syura NYC, pada hari yang sama ketika akan terbang dari LGA (La Guardia) New York menuju Charlotte, juga ditolak terbang oleh pesawat American. Tragisnya, hingga kini belum didapatkan alasan yang jelas.

Di berbagai belahan AS, ada kejadian-kejadian buruk terhadap komunitas Muslim. Di sebuah kota kecil ada masjid yang di pintunya digantungkan daging babi (bacon). Ada pula yang dicoret-coret dengan kata-kata yang menghina atau bahkan ancaman.

Tidak terlupakan penentangan-penentangan terhadap proyek rumah ibadah (masjid/Islamic Center) di berbagai belahan negeri ini. Dari proyek masjid di Memphis, Brooklyn, Staten Island, hingga yang paling heboh, proyek Islamic Center dekat Ground Zero yang juga dikenal dengan Park5 Community Center.

Semua kasus tersebut di atas kemudian secara sigap ditangkap oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan, termasuk para politisi yang memiliki kalkulasi sempit. Saya katakan memiliki kalkulasi sempit karena dianggapnya dengan memainkan sentimen dan emosi rakyat mereka akan meraih kemenangan.

Rick Lazio calon gubernur New York ketika itu misalnya, yang ketika berkampanye memainkan sentimen masyarakat New York dengan issue Park51, justeru pada saat babak penyisihan untuk maju sebagai calon Republikan, hanya meraih 20% lebih suara pemilih.

Beberapa pihak tentunya menggunakan isu Islam sebagai ‘sumber kehidupan’ (material interest) dan/atau memang karena murni kebenciannya kepada agama ini. Jika Anda googling kata Islam, atau konsep-konsep yang rentang disalah pahami, termasuk ‘syariah’ dan ‘jihad’, akan Anda dapati mereka ini dengan berbagai proyek yang sebenarnya bertujuan untuk meraih kepentingan duniawi. Mungkin yang paling terkenal di antara mereka adalah Daniel Pipe, yang di kalangan sebagian Yahudi pun dikenal sebagai ‘extremist’.

Akar Penyebab

Umumnya, ketika ada kejadian yang kurang mengenakkan bagi komunitas Muslim, yang terjadi adalah reaksi ‘marah’ lalu disusul dengan berbagai sikap negatif, minimal kutukan. Tidak jarang reaksi itu menimbulkan korban yang tidak sedikit. Sedihnya, justeru mayoritasnya korban itu adalah pihak Muslim sendiri.
Ada baiknya barangkali jika kita mencoba melihat secara dekat kemungkinan faktor atau penyebab terjadinya ‘rasa takut yang tidak masuk akal’ (ini adalah salah satu defenisi Islamophobia dari berbagai defenisi yang ada) sebagain non Muslim kepada Islam. Dengan mengetahui penyebabnya, kita bisa dengan mudah mencari obat yang sesuai dengannya.

Saya membagi berbagai akar penyebab ini kepada dua sisi. Pertama, sisi non Muslim. Dan yang kedua, sisi Muslim itu sendiri.

Dari sisi non Muslim ada faktor media. Saya menempatkan media di urutan pertama karena ternyata seringkali --umumnya memainkan kenyataan masyarakat yang memang masih bodoh-- dengan agama Islam. Kekuatan media tenyata sangat dahsyat dan terkadang menjadi penentu bagaimana sebuah permasalahan kemudian terbentuk. Hitam atau putihnya, salah atau benarnya sebuah isu terkadang banyak ditentukan oleh bagaimana kemudian media mempropagandakan.

Hari Senin, 9 Mei lalu, saya mendapat kesempatan untuk bertemu dengan Donald Trump, pebisnis real state yang kaya raya. Pertemuan ini terjadi atas permintaan saya melalui teman dekat, Russel Simmons, raja hip hop yang terkenal. Dasarnya adalah untuk mendapatkan klarifikasi dari sebuah pernyataan yang disampaikan oleh Donald Trump dalam sebuah wawancara di Fox News bersama O’Rally bahwa Islam dan Muslim itu adalah masalah.

Pertemuan terjadi salam suasana yang sangat akrab, yang mengharuskan saya mengakui bahwa Donald Trump yang selama ini kita kenal dari media berbeda dari Donald Trump yang kami temui saat itu. Bahkan secara kelakar saya sampaikan hal ini kepada beliau: “You are certainly a different Donald Trump from the one I knew from the media.”. Dia tersenyum dan menjawab singkat; “And you áre a different Muslim from what I knew from the media.”

Dalam pertemuan yang memakan waktu sekitar sejam itu Donald Trump mengakui bahwa media itu ternyata banyak menyajikan ‘misinformasi’ mengenai Islam. Dia bahkan dengan terbuka mengakui akan kebutaannya terhadap agama ini.

Karenanya sangat berterima kasih atas kunjungan dan keinginan untuk mengklarifikasi banyak hal tentang Islam, khususnya mengenai konsep syari’ah dalam Islam.

Kalau saja seorang nama besar seperti Donald Trump bisa menjadi korban media, apalagi jutaan rakyat-rakyat di pinggiran kota Amerika Serikat? Apalagi mereka yang memang belum mendapatkan akses atau interaksi langsung dengan masyarakat Muslim? Sangat dimaklumi tentunya.

Banyak orang Barat tak paham Islam

Kedua: Faktor ketidaktahuan (ignorance)

Mayoritas mereka yang ketakutan dengan agama ini, baik yang bersifat pasif (diam saja) maupun yang aktif (terlibat berbagai usaha untuk menentang perkembangannya) disebabkan oleh kebodohannya terhadap agama ini. Atau minimal merasa tahu, tapi sesungguhnya pengetahuannya itu tidak pada tempatnya (misunderstanding).

Sekitar sebulan lalu, saya ikut dalam sebuah ‘counter rally’ yang diorganisir oleh Muslim Consultative Network dan MAS Brooklyn untuk mengcounter sebuah demonstrasi yang diorganisir oleh sekelompok orang yang menamai diri People of Sheepshead Bay. Kelompok ini sangat keras menentang proyek sebuah masjid di daerah tersebut dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal dan realistik.
Salah seorang di antara mereka, nampak setengah baya dan cukup terdidik (dari penampilan) memegang sebuah slogan dengan tulisan "SHARIAH LAW". Tulisan ini dikelilingi oleh gambar tetesan-tetesan darah, gambar wanita dengan burqah, serta seorang pemuda menganyungkan pedang dengan mimik wajah yang seram.

Sebelum bergabung dengan kelompok ‘pembela proyek’ (saya memilih kata pembela karena ternyata mayoritas yg hadir membela proyek tersebut adalah teman-teman non Muslim), saya mendekati pria tersebut dan bertanya: "What does Shariah mean?". Sambil tersenyum sinis, dia menjawab: “I don’t know. But this is the Islamic Law that those people want to impose on America”. Saya lanjutkan pertanyaan: “What kind of law is it?” Dia hanya berpura-pura tidak mendengar dan menghindar dari kejaran pertanyaan-pertanyaan saya.

Intinya, betapa kebanyakan mereka yang ketakutan dengan agama ini memang disebabkan oleh kebodohan (ignorance) atau kesalah pahaman (misunderstanding) yang ada pada mereka. Dan terkadang kebodohan tersebut tidak terdeteksi oleh mereka karena juga ditopang oleh sikap ‘prejudice’ dan bahkan ‘racist’ terhadap kaum Muslim, yang dianggap pendatang (imigran). Padahal, lebih 50% warga Muslim Amerika sekarang ini adalah ‘born’ atau ‘revert’ American Muslim.

Tapi yang lebih penting lagi, who should claim to be original American other than ‘Native Indian American?’.

Ketiga: Faktor politik

Faktor politik juga sangat penyebab dominan tumbuhnya islamophobia di masyarakat Amerika. Terpilihnya George W Bush menjadi presiden ke 43 Amerika Serikat diwarnai oleh keyakinan agamanya yang kental, yang kemudian banyak terefleksi dalam berbagai pernyataan dan bahkan kebijakan yang diambil di kemudian hari. Dengan gamblang misalnya G.W Bush pernah menyatakan bahwa perang kepada terror adalah ‘crusade’ atau perang salib.

Majalah Time pernah memuat berbagai ‘instruksi’ Menteri Pertahanan di bawah presiden G.W. Bush, Donald Rumsfeld, terhadap para komando militer di Afghanistan yang disertai dengan berbagai cuplikan ayat-ayat Injil.

Mungkin contoh terdekat adalah proyek Park51 yang dikenal oleh sebagian masyarakat Amerika sebagai ‘Ground Zero Mosque’. Proyek ini sebenarnya pernah dimuat oleh halaman muka surat kabar Harian New York Times pada bulan Desember 2009. Ketika itu, tak siapapun yang mempermasalahkan, apalagi menentangnya.

Akan tetapi menjelang diadakannya ‘mid-term election’, termasuk pemilihan Gubernur New York ketika itu, isu ini mencuat karena sebagian politisi, termasuk Rick Lazio, salah satu calon dari Republikan menjadikannya sebagai ‘pusat kampanye’.

Dari sinilah awalnya kemudian meluas dan bahkan menjadi isu nasional yang panas. Para politisi Republikan, khususnya garis keras dari kalangan ‘Tea Party’ melakukan kampanye besar-besaran menentang proyek tersebut dengan berbagai alasan yang tidak berdasar dan masuk akal. Sarah Palin dan Newt Gingrit serta para politisi menjadikan isu ini sebagai komoditi berharga bagi kampanye kepentingan politik mereka.

Benar apa yang kemudian dibisikkan oleh Walikota New York ke saya pada saat acara buka puasa di kediamannya. Menurut beliau: "Imam, don’t be sad that much. Wait till November. Every thing will calm down". Nopember adalah bulan di mana pemilihan gubernur New York yang baru diadakan, yang ternyata dimenangkan oleh Gubernur Cuomo dari Partai Demokrat. Michel Bloomberg sendiri selama masa-masa kritis itu telah memperlihatkan idelisme membela ‘hak konstitusi’ bagi komunitas Muslim itu. Saya sempat menangkap kemurnian tekad itu karena saya sendiri mendampingi beliau ketika melakukan ‘Press Briefing’ di Governor Island, di mana saya diminta untuk memberikan statemen mewakili komunitas Muslim.

Barangkali kita masih ingat, betapa Barack Obama dikampanyekan sebagai seorang Muslim oleh lawan-lawab politiknya ketika itu. Isu Islam di sini nampak dipakai sebagai alat politik oleh sebagai politisi karena diketahui bahwa memang banyak masyarakat Amerika yang masih ketakutan dengan kata itu (Islam). Kenyataannya, hingga kini masih ada upaya-upaya untuk mengaitkan Obama dengan agama Islam.

Semua kenyataan di atas menjadi bukti bahwa tumbuhnya rasa takut kepada agama ini karena juga didorong oleh prilaku para politisi yang menjadikan agama ini sebagai alat kepentingan kampanye mereka. Dengan demikian, faktor politik dalam menumbuhkan rasa takut atau islamophobia itu tidak bisa diingkari.

Keempat: Arogansi mayoritas dan rasa tidak aman (insecurity)

Sikap seperti ini tidak saja terjadi di kalangan non Muslim kepada Muslim. Tapi juga sebaliknya, di beberapa negara mayoritas Muslim arogansi mayoritas itu memang ada. Ada perasaan bahwa karena kita adalah mayoritas maka yang lain harus kurang atau lebih rendah dari kita yang mayoritas. Hal ini memudahkan terjadinya prilaku yang bertentangan dengan ‘nilai-nilai Islam’ yang rahmatan lil-alamin itu.
Apalagi rasa ‘tidak aman’ (insecurity) itu seringkali melanda sebagian masyarakat mayoritas. Khawatir kalau-kalau pendatang baru itu datang dan mengambil alih. Atau minimal akan mendominasi apa yang telah dianggap sebagai ‘exclusive ownership’, termasuk negara itu sendiri.

Hal ini bukan pengecualian kepada bangsa Amerika Serikat. Sejak beberapa bulan dan bahkan tahun terakhir, di mana-mana ketika kita mendengarkan teriakan demonstran menentang ‘proyek Islam’ seperti masjid, Islamic Center, dll., kata-kata seperti ‘dominasi’ (dominance), ‘ambil alih’ (take over), dll. menjadi sangat umum.

Dan terkadang mereka memakai pandangan atau statemen orang-orang yang memang tidak saja tidak sependapat dengan mainstream komunitas Muslim, tapi jelas-jelas mereka yang sengaja menampakkan diri sebagai ‘Muslim radicals’. Kelompok-kelompok tertentu seperti ‘Muslim Revolution’ dan ‘Islamic Thinker Society’ memiliki slogan yang mereka pakai seperti "one day we will take over the White House". Kelompok Al-Muhajirun di Inggris misalnya dengan terang-terangan mengatakan demikian dalam sebuah wawancara dengan CNN.

Perkembangan Islam dan komunitas Muslim di Amerika Serikat, baik secara kwantitas mapun secara kwalitas jelas menimbulkan rasa ‘tidak aman’ tersebut. Jumlah kaum Muslim di AS terus menanjak dan bahkan di luar dugaan semakain berkembang di tengah berbagai badai islamophobia yang berkembang. Kwalitas umat Islam juga semakin nampak dan diakui dengan peranan yang dimainkan dalam berbagai dimensi kehidupan masyarakat, baik secara politik, ekonomi, pendidikan dan budaya, dll.



Sisi Muslim

Tidak dapat dipungkiri bahwa tingginya islamophobia juga disebabkan oleh pengikut agama ini sendiri. Bahkan boleh jadi mayoritas penyebab tersebut justeru datang dari umat Islam itu sendiri. Dengan kata lain, islamophobia terkadang merupakan ‘reaksi’ dari dari ‘aksi’ umat itu sendiri. Beberapa hal dapat disebutkan antara lain:

Pertama: Misrepresentasi ajaran Islam

Sesungguhnya Islam itu indah. Dan sungguh keindahan itu tak terkalahkan oleh keindahan apapun (lyuzhirahu ‘aladdini kullih). Dan mata siapapun yang melihatnya pasti akan jatuh hati, walau kebanyakan manusia mengingkari kata hatinya.

Teringat seorang baduwi yang datang ke Mekah untuk menemui seseorang yang dikenal ahli sihir, pemecah belah, dan pemberontak. Namanya Muhammad bin Abdullah (SAW). Namun setibanya bertemu Nabi, sang Badui terkesima karena yang ditemu seseroang ahli badah, dengan wajah khusyu’ nan bersih dan bersinar.

Mendengar dan melihat langsung keindahan reprsentasi Islam dari rasulullah SAW, menjadikan sang baduwi langsung mengikrarkan: ‘Asy-hadu an laa ilaaha illa Allah wa ash-hadu anna Muhammadan rasul Allah’.

Itu hanya satu dari segudang keindahan Islam. Dan Rasul sebagai representasi langsung dari keindahan itu telah membuktikan betapa tiada yang mampu menahan keindahannya. Dan itulah makna ayat: ‘Wa Allahu mutimmu nuurihi walau karihal kaafiruun’ (As-Shof).

Sayang, bahwa keindahan itu tertutupi oleh banyak hal. Tapi salah satu penutup keindahan itu adalah ‘misrepresentasi’ pengikutnya sendiri. Islam berada di sebuah lembah, sementara prilaku umatnya berada pada lembah yang lain. Tragisnya, dalam banyak hal orang lain menilai agama ini dari prilaku pengikutnya.

Maka, misrepresentasi Islam secara alami menumbuhkan ‘rasa takut’ (phobia) di kalangan banyak non Muslim.

Kedua: pemahaman yang sempit dan/atau di luar konteks yang benar

Ketakutan terhadap berbagai konsep keislaman, seperti jihad dan syari’ah, terkadang memang disebabkan oleh pemahaman sempit dan/atau di luar konteks yang sebenarnya.

Penulis pernah diminta mengisi sebuah seminar tentang ‘Syari’ah’, sebuah istilah atau konsep baku dalam agama yang ditakuti oleh banyak kalangan di AS, termasuk beberapa politisi dan bahkan mereka yang menganggap diri sebagai kalangan akademis. Acara seminar ini diadakan secara khusus untuk non Muslim di daerah Long Island, New York.

Usai acara banyak di antara mereka yang ‘appreciate highly’ apa yang kita sampaikan secara lugas, dengan bahasa yang mudah dan sederhana. Bahkan, organisasi Katolik do Long Island memuat makalah saya tersebut dalam website mereka untuk dibaca oleh para pengikutnya.

Ternyata, kebanyakan di antara mereka itu sebelum seminar memahami ‘syari’ah’ dari beberapa website Muslim yang hanya memusatkan perhatian kepada ‘hukum pidana’, seperti potong tangan, rajam, dll. Sementara hal-hal lain, yang terkadang lebih menyentuh kehidupan riil umat, seperti kesalehan sosial, jujur dalam prilaku politik misalnya, adil dalam bisnis, dll., sama sekali tidak ditampilkan.

Memahami dan menampilkan konsep-konsep Islam, termasuk jihad dan syari’ah, secara sempit dan/atau di luar konteks, menjadikan banyak pihak yang ‘ketakutan’ dan bahkan cenderung untuk melihatnya sebagai musuh yang harus diperangi. Jihad yang dipahami secara terbatas sebagai ‘perang’ adalah pemahaman yang terbatas, dan terkadang di luar konteks. Dan harus diakui bahwa konsep yang mulia ini dalam banyak hal telah banyak disalah praktekkan oleh sebagian mereka yang mengaku berjuang untuk Allah dan agamaNya. Dan ini pula merupakan kontribusi besar terhadap ‘kesalah pahaman’ dan ‘ketakutan’ (phobia) non Muslim terhadap ajaran yang mulia ini.

Ketiga: Pemahaman dan praktek kultur atas nama agama

Memahami dan mempraktekkan agama berdasarkan kultur atau sebaliknya mempraktekkan ‘budaya’ atas nama agama boleh jadi menyebabkan kesalah pahaman yang besar terhadap agama ini. Kultur atau budaya adalah produk local masing-masing manusia. Semua kelompok manusia memiliki ‘afiliasi kultur’ masing-masing, dan boleh jadi bangga dengan kultur tersebut.

Masyarakat Muslim Timur tengah misalnya, memiliki kultur Timur Tengah. Mulai dari cara berpakaian, interaksi antar anggota masyarakat (cara salam, dll.), hingga kepada bagaimana mempersepsikan ‘ciri-ciri ketakwaan’ itu sendiri. Maka, bagi seorang Muslim saudí Arabia melihat seorang Muslim tanpa janggut yang panjang, boleh jadi dianggap islamnya kurang ‘sunnah’. Atau seorang Imam yang mengimami atau bahkan sedang jalan di jalan tanpa jubah dan sorban, maka Imam itu adalah imam yang kurang ‘sunnah’.

Beberapa praktek sosial Asia Selatan, Bangladesh, Pakistan dan India misalnya, di mana dalam pandangan fikih mereka wanita seharusnya tidak ikut shalat berjamaah di masjid. Dan terkadang pelarangan ini didasarkan kepada sebuah hadits, yang didapati sebagai hadits dhaif, mengatakan bahwa sebaik-baik shalat bagi kaum wanita adalah di rumah. Dan sebaik-baik shalat di rumah mereka adalah di dalam kamar. Pandangan (walaupun dalam argumentasi fikih) seperti ini tentunya banyak didasarkan kepada pemahaman kultur.

Tak jarang kita temui orang-orang Timur tengah atau Asia Selatan yang tidak ingin menampakkan wajah yang ceria, mudah tersenyum, ketika berpapasan dengan sesama Muslim yang berlawanan jenis. Padahal, senyuman itu belum tentu diartikan godaan. Bahkan minimal menjawab salam misalnya, kita dapati ada yang tidak menjawab salam karena dianggap tabu berbicara kepada non muhrim.

Pemahaman dan praktek Islam seperti ini akan banyak berkontribusi kepada ‘kekhawatiran’ dan bahkan ‘ketakutan’ kepada non Muslim bahwa nantinya mereka akan dirubah secara radikal oleh Islam. Amerika memang punya karakteristik budaya pakaian (asal menutup aurat), yang terkadang oleh sebagian Muslim dilihat sebagai tidak Islami.

Beberapa waktu lalu, seorang Imam bercanda, walau saya anggap serius. Menurutnya, saya kok pakaiannya tidak menampakkan sebagai seorang Imam? Ketika saya tanya ‘What does it mean to be Imams like dress?" Dia sendiri bingung dan tidak punya jawaban. Saya katakan “You will see one day in America an Imam with Jeans and Cowboy hat leading the prayer in the masajid’. And I said ‘there is nothing to worry about that!”.

Tentu banyak contoh yang dapat diberikan. Termasuk dalam hubungan suami isteri, masalah isu-isu domestik misalnya. Seorang suami karena secara kultur selalu dominan di beberapa negara Islam, di AS juga masih ingin seperti itu. Padahal, isteri telah disuguhi dengan berbagai konsep kesetaraan gender, yang seungguhnya kalau dipahami secara benar adalah konsep islam. Maka terjadi ‘gesekan-gesekan’ dalam rumah tangga yang besar.

Keempat: Kurangnya partisipasi sipil

Di antara perbedaan mendasar antara Amerika dan banyak negara adalah bahwa semakin kita terlibat partisipatif dalam seluru sisi kehidupan komunal, akan semakin banyak hak-hak yang dapat diraih dan akan semakin mendapat ‘appresiasi’ umum baik dari pemerintah maupun sesama anggota masyarakat.

Masyarakat Muslim di Amerika, khususnya generasi awal imigran, memang masih sangat pasif dalam kegiatan civic mereka. Hal ini terlihat betapa ‘marah dan gerahnya’ ketika ada sebuah perundang-undangan yang diloloskan dan ternyata merugikan umat Islam. Akan tetapi mereka lupa bahwa ketika memilih mereka yang duduk di kursi parlemen itu, mereka hanya bersifat ‘tidak mau tahu’.

Mungkin dalam tingkatan yang lebih kecil adalah berapa orangtua Muslim yang terlibat dalam acara-acara ‘parent teachers association?’. Padahal, kalau saja di organisasi ‘wali murid’ ini dapat dipengaruhi maka sungguh besar dampaknya dalam mengurangi ‘islamophobia’. Dengan keaktifan dalam acara-acara mereka, maka beberapa aspek budaya Islam dapat “disusupkan” sehingga Islam dan Muslim semakin dikenal.

Di sini masyarakat Amerika akan membuka mata bahwa ternyata keberadaan Islam di Amerika tidak perlu ditakuti atau threat (ancaman), tapi partner dalam membangun.

Kesimpulan

Memang islamophobia di Amerika Serikat masih sangat tinggi. Ketakutan sebagian masyarakat Amerika itu juga ternyata ‘terefleksi’ dalam berbagai kebijakan yang diambil oleh pemerintah di kemudian hari, termasuk dilolskannya berbagai undang-undang (peraturan) yang sangat diskriminatif dan merugikan komunitas Muslim.

Namun demikian, kenyataan ini tidak perlu menjadikan umat Islam di Amerika pessismis, apalagi putus asa. Sebaliknya, seharusnya umat Islam AS sadar sejarah bahwa semua imigran yang datang ke AS mengalami hal sama, bahkan lebih buruk dari apa yang menimpa umat Islam saat ini.

Hanya yang lebih menggembirakan kenyataan bahwa ternyata Islamophobia tidak saja semakin mempopulerkan ajaran agama ini, sebaliknya semakin banyak mendapat dukungan, baik mereka yang memilih mengikuti ajarannya atau sekedar menjadi ‘benteng’ dari serangan-serangan refleksi ketakutan irasional tersebut.

Akhirnya, yang paling penting bagi umat ini, bukan apa yang islamophobic (orang-orang islamophobia) lakukan. Tapi yang terpenting adalah “What i can do to face and challenge it”? Barangkali ungkapan yang paling tepat, seperti yang digambarkan dalam al-Qur’an adalah maa lakum an laa tuqaatiluu…..’. Makna sederhana dari ayat ini adalah “What is wrong with you, that makes you passive?”.

Semoga kita tersadarkan dari lamunan panjang untuk mencapai kesuksesan dengan berangan-angan dan berandai-andai. Dan semoga ‘islampphobia strikes’ (serangan-serangan islamophobia) itu membangkitkan kita dari ketidak sadaran akan tanggung jawab. Atau sebaliknya menyadarkan kita bahwa kesadaran itu memerlukan ‘rasionalitas’ dalam bersikap sehingga ‘reaksi’ yang kita lakukan tetap berada dalam ‘limit-limit’ Islami dan ‘strategi; serta tujuan yang sesuai. Amin!*/New York, 1 Juni 2011

Oleh: Syamsi Ali
Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York
Menyikapi Islamophobia di AS [1] 
Menyikapi Islamophobia di AS [2] 
Menyikapi Islamophobia di AS [3]  
Posted on 7:49 AM / 0 comments / Read More

Sunday, June 5, 2011

Iran Protes Larangan Jilbab FIFA


REPUBLIKA.CO.ID,TEHERAN - Iran telah mengajukan protes terhadap pejabat FIFA yang melarang tim sepak bola perempuan negara itu untuk bermain di pertandingan kualifikasi Olimpiade. Alasan pelarangan karena pemain Iran memakai jilbab.

"Kami telah mengadakan pembicaraan dengan presiden Federasi Sepakbola Internasional (FIFA) tentang partisipasi perempuan Iran di pertandingan dengan menggunakan jilbab Islami," kata ketua Federasi Sepakbola Iran (IFF), Ali Kaffashian, seperti dikutip ISNA pada Sabtu (4/6). ''Sayangnya, saya tidak mengerti mengapa pejabat yang bertanggung jawab atas pertandingan itu tidak mengizinkan tim kami bermain.

Oleh karena itu, Iran akan mengajukan protes ke FIFA terhadap pejabat yang bertanggung jawab atas pertandingan.

Pada Jumat (3/6), seorang pejabat FIFA dari Bahrain melarang tim sepak bola nasional perempuan Iran untuk bermain melawan Yordania di putaran kedua kualifikasi untuk Olimpiade 2012 London. Laga digelar di ibu kota Yordania, Amman.

Yordania mengumumkan menang 3-0 setelah tim Iran menolak untuk membuka jilbab mereka.
Posted on 5:08 PM / 0 comments / Read More

Thursday, May 19, 2011

Diteror, Muslim Jepang Tuntut Pemerintah 1,9 Juta Dollar


(REPUBLIKA.CO.ID) Empat belas Muslim, termasuk warga negara Jepang, Senin (16/5) mengajukan gugatan terhadap pemerintah Tokyo dan negara Jepang. Tuntutan tersebut didasar pendapat bahwa investigasi anti-terorisme yang dilakukan polisi Jepang melanggar kebebasan iman mereka.

Ke-14 penggugat tersebut menuntut total 154 juta Yen ($ 1,9 juta), atau masing-masing 11 juta Yen, sebagai kompensasi atas kerusakan setelah rincian apa yang mereka sebut sebagai "penyelidikan terorisme ilegal" terhadap Muslim yang bocor.

Lebih dari 100 dokumen, data kisaran 2004-2010 dan termasuk dari FBI, yang bocor ke online pada November. Data tersebut memberikan rincian tentang warga Muslim Jepang yang ditanyai soal terorisme dan warga asing yang diteliti di Jepang.

Dokumen berasal dari Biro Keamanan Publik Departemen Kepolisian Metropolitan Tokyo dan termasuk rincian tentang tersangka terorisme Islam dan informan polisi. Tapi pengacara untuk kelompok - yang memiliki informasi bocor - pada Senin menyatakan 98 persen dari 72.000 Jepang Muslim telah dimonitor.

Untuk beberapa dari mereka, termasuk informasi pribadi tidak hanya nama mereka, foto, anggota keluarga dan alamat, tetapi juga rincian tindakan mereka seperti kunjungan ke masjid dan kebiasaan Internet, kata pengacara.

"Ini telah datang jelas bahwa jika Anda seorang Muslim atau memiliki semacam hubungan dengan mereka, Anda akan langsung diletakkan di bawah pengawasan polisi," kata pengacara Kazuyuki Azusawa.

Salah satu pelanggaran paling serius terhadap kebebasan beragama adalah petugas menyamar sebagai Muslim di masjid, katanya. Seorang pemilik toko berusia 40-nya yang tidak ingin disebutkan namana mengatakan ia melihat penjualan tokonya dibelah dua setelah rincian yang diposting.

"Aku bahkan tidak bisa kembali ke negara saya karena saya mungkin ditahan sebagai tersangka terorisme," katanya. "Saya ingin polisi Jepang untuk memperbaiki hidup saya."

Muslim adalah kelompok minoritas agama di Jepang, sebagian besar orang asing, banyak dari mereka menikah Jepang dan menetap di sini. Tetapi ada beberapa orang Jepang yang masuk Islam, dan 14 terlibat dalam gugatan itu mencakup beberapa bertobat.
Posted on 6:50 AM / 0 comments / Read More

Saturday, May 14, 2011

People Bay Menentang Pembangunan Masjid Di Brooklyn


(Cyber Sabili-New York) BBC melaporkan, beberapa pengunjuk rasa yang ingin menghentikan pembangunan masjid di kawasan Brooklyn Sheepshead Bay, New York, berencana membawa kasus pembangunan masjid ini ke pengadilan pada Selasa depan.

Penentang pembangunan Masjid ini antara lain blogger Anti Islam dan kelompok People Bay. Pamela Geller dari People Bay mengatakan, pembangunan masjid akan mengubah kualitas hidup di lingkungan perumahan yang selama ini tenang. "Lalu lintas dan parkir akan kesulitan dan suara bising adanya panggilan shalat lima kali sehari juga akan mengganggu," katanya.

Penduduk Sheepshead Bays sebagian besar berasal dari Italia, Rusia, dan Yahudi, ada juga warga keturunan Irlandia merasa tidak akan mendapat manfaat dari mesjid dan pusat komunitas Muslim, kata website People Bay.

Tetapi, warga Muslim dan sebagian warga non Muslim di kawasan ini justru menuduh kelompok People Bay sedang mengadakan sebuah agenda anti-Islam secara sistematis. Pasalnya, selama ini hubungan antar berbagai umat beragama di kawasan ini berjalan harmonis.

"Mereka menggunakan alasan lalu lintas dan kebisingan sebagai tabir untuk agenda fanatik mereka terhadap komunitas Muslim yang sudah mengantongi izin mendirikan masjid di Sheepshead Bay," tegas Debbie Almontaser dari Muslim Consultative Network.

Debbie Almontaser mengatakan, 200 keluarga muslim yang akan menggunakan masjid itu bertempat tinggal sangat dekat dengan masjid, sehingga kami hanya akan berjalan kaki dan tidak akan menggunakan kendaraan untuk ke masjid. Sedangkan soal suara azan untuk memanggil shalat lima waktu tidak akan disiarkan sampai ke luar masjid. Suara azan hanya akan terdengan di dalam masjid, mengingat kepekaan sebagian warga non-Muslim di daerah ini," terangnya.

Pertanyaannya, apakah pengaduan hukum atas kasus pendirian masjid ini yang hanya didasarkan pada klaim bahwa masjid dan masyarakat Muslim telah melanggar zonasi hukum dapat berhasil? Mengingat AS adalah negara yang katanya sangat menghargai hak konstitusional untuk kebebasan beragama? (ISPO/YD)
Posted on 10:01 AM / 0 comments / Read More

Popular Posts

Total Pageviews

Facebook

Blog Archive

Shout Box


ShoutMix chat widget

Followers

Copyright © 2011. SMART ZIKIR . Published by Ardisyam