Search This Blog

Loading...

Pages

 

Tuesday, September 18, 2012

Panduan Memilih: Foke atau Jokowi?


Bagi seorang muslim yang baik dan sadar, yang menjadi pedoman adalah Al Quran dan As Sunnah, bukan yang lainnya. Dalam keduanya, tentang siapa yang harus kita pilih sebagai pemimpin juga sudah jelas, dan kita dilarang memilih:
  1. orang kafir
  2. dan orang-orang yang memberikan loyalitasnya kepada orang kafir.
Masalah ini sudah saya jawab dalam tulisan lainnya. Sistem pemilihan di negeri kita membuat antara ketua dan wakil adalah satu paket kepemimpinan yang tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, yang mana pun yang dicoblos tetap saja keduanya yang naik. Jika ketua wafat, mengundurkan diri, atau kena kasus pidana, maka otomatis yang naik adalah wakilnya, bukan diadakan pemilihan yang baru. Maka, sebaiknya tetap memilih pemimpin dan wakil yang jelas muslimnya, betapa pun kita tidak menyukainya karena kinerjanya.

Ada pun tentang prestasi kerja, maka kedua calon (foke dan jokowi) bagi saya sama-sama absurd. maksudnya begini, jika dikatakan Foke gagal maka gagal menurut siapa? apa standarnya? Dan siapa yang menilainya? jika yang menyebut adalah lawan politiknya maka wajar dia akan disebut gagal. Alias sisi objektifnya tidak lagi valid.

Begitu pula jika disebut Jokowi berhasil, apa standarnya, siapa yang menilai, dan seterusnya. Apalagi keberhasilan tersebut tidak dirasakan oleh orang Jakarta tapi di Solo, yang orang Jakarta hanya tahu dari penceritaan dan pemberitaan pihak yang memang mendukung Jokowi. Tentu sudah terganggu indenpedensi beritanya.

Ketika terjadi bias pada sisi-sisi ini, maka pilihlah pada sisi yang tidak bias, yakni aqidah. Siapakah yang muslim? karena dialah yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala agar kita memilihnya, jangan diombang-ombang survei, komentar pengamat yang membingungkan, apalagi komentator orang-orang awam masalah agama, dan sebagainya. Untuk mengambil sikap, jangan takut kepada cacian manusia, tetapi takutlah kepada murka Allah Ta’ala.

Cukup Al Quran dan As Sunnah sebagai pedoman kita. Bagi seorang mu’min, saya yakin tidak akan pernah ridha dipimpin oleh orang yang berkata: “saya tidak taat kepada ayat-ayat suci, tapi saya taat kepada ayat-ayat konstitusi”.

Allahu Akbar! Undang-undang manusia lebih ditaati dibanding undang-undang Allah Ta’ala. Itulah Ahok, orang yang dipilih untuk mendampingi Jokowi, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Al Mar’u ‘alad Diini Khalilih - Agama seseorang tergantung kawan dekatnya.”

Maka, seorang ustadz, da’i, ulama membimbing umatnya agar memilih pilihan yang memang sesuai aturan agamanya adalah kewajiban, tidak boleh mereka diam, dan jangan takut untuk bicara, jika yang demikian ini disebut SARA, maka mereka yang menyebut ini SARA adalah bodoh. Sebab, kita tidak sedang menyudutkan agama tertentu, atau suku, ras, dan golongan tertentu, kita hanya membimbing umat Islam sendiri agar memilih sesama muslim. Bukan karena Foke, bukan karena Hidayat, bukan karena Jokowi, A dan B …

Seandainya yang terjadi adalah Jokowi VS Ahok, tentu seorang Muslim akan menggunakan pertimbangan yang sama, mana yang muslim diantara keduanya? Inilah pertimbangan dasar dan utamanya, sebelum pertimbangan lainnya.

Ada pun jika yang terjadi adalah CALON MUSLIM VS CALON MUSLIM, maka pertimbangannya bukan lagi “Siapa yang muslim?” karena itu sudah selesai. Tetapi pertimbangan tahap selanjutnya, siapa yang kinerjanya lebih baik, siapa yang shalih, siapa yang bersih ?

Kalau Muslim VS Non Muslim, jika ada yg mengatakan “Buat apa milih muslim tapi korupsi, mendingan non muslim tapi tidak korupsi.”

Maka jawabannya:

  • Ini adalah su’uzh zhan kepada sesama muslim sendiri, dan sudah memvonis pasti bersalah. 
  • Apa jaminannya non muslim tidak akan korupsi? dan apa buktinya? 
  • Seorang muslim, hendaknya dia berbaik sangka dengan muslim lainnya walau pun dia zalim, sebab keislaman dirinya sbagai modal untuk berbuat baik kepada kita.
Seorang muslim hendaknya waspada (bukan curiga) kepada orang kafir, atau orang yang berkawan dekat dengan orang kafir, walau pun dia seorang yg adil, sebab kekafirannya merupakan modal untuk memusuhi dan berbuat jahat kepada kaum muslimin. Demikian jawaban saya.

SumberUstad Farid Nu’man - www.ustfarid.com

No comments:

Post a Comment

Recent Posts

Popular Posts

Total Pageviews

Facebook

Blog Archive

Shout Box


ShoutMix chat widget

Followers

Copyright © 2011. SMART ZIKIR . Published by Ardisyam